18 October 2007

Ateis = Agama ? suatu perspektif.

Setelah sekian lama berkecimpung dlm forum diskusi di milis ateis (http://groups.yahoo.com/group/ateis/join?), dan berdiskusi panjang dengan komunitas orang-orang Ateis Indonesia, saya mendapat suatu kesimpulan pribadi sehubungan dengan paradigma berpikir kelompok ateis (setidak-tidaknya ateis di indonesia, mungkin di luar negeri berbeda saya tidak tahu sebab belum sempat mengikuti forum diskusinya), dan saya ingin menuliskan detail kesimpulan saya di sini.
Begini kesimpulan singkat saya: Ateis sebenarnya sama dengan "Agama" atau "Kepercayaan".

Menurut sebuah kamus, salah satu arti dari kata RELIGION = A religion is a set of beliefs and practices generally held by a human community, involving adherence to codified beliefs and study of ancestral or cultural traditions, writings, history, and mythology, as well as personal faith.

Jadi esensi yg terkandung dari kata agama adalah suatu kepercayaan yang ditata sedemikian rupa menjadi suatu landasan pola berpikir dari seseorang maupun sebuah kelompok tertentu yg terdiri dari orang-orang yg memiliki mind-set serta minat yang sama. Jadi, menurut pendapat saya orang ateis pada dasarnya tidak berbeda dengan orang beragama dalam konteks sama-sama memiliki mind-set terhadap suatu dogma tertentu dan landasan berpikir tertentu.
  • Ateis punya Tuhan (Tuhan orang ateis adalah "Science")
  • Ateis punya kitab suci (Kitab suci orang ateis adalah buku-buku yg berisi content "menentang eksistensi Tuhan", salah satunya seperti buku On the origin of spesies. Ateis punya nabi (Nabi orang ateis adalah tokoh-tokoh ilmuwan yg mendukung teori ketiadaan Tuhan, seperti Charles Darwin, Richard Dawkins, dan toko-tokoh lain), orang ateis akan sangat kagum dengan "nabi" mereka ini, gak jauh beda dgn orang beragama, jangan coba-coba menghina atau mengkritik Darwin, orang ateis akan mati-matian membelanya.
  • Ateis punya umat dan kelompok (jika kita search segala hal terkait dgn atheist di internet maka kita akan menemukan bbrp komunitas ateis yang berkelompok untuk tujuan tertentu di antara mereka) Coba anda googling, search keyword "atheist community".
  • Ateis punya visi dan misi (salah satu visi orang ateis adalah mengedepankan science dan mengagungkan segala hal yang dibuat oleh teknologi manusia utk kepentingan manusia dengan konsep dasar "manusia bisa jalan sendiri tanpa mengandalkan sang pencipta Tuhan,") Kemungkinan besar ateis juga punya misi utk menyebarluaskan pahamnya kpd semua orang di dunia ini, dengan berbagai metode pendekatan, sama saja seperti para penginjil agama Kristen atau Da'i agama Islam.
  • Ateis punya dogma atau doktrin (salah satu dogma orang ateis adalah "Filsafat Materialism"), setiap orang ateis yg menentang konsep materialism dan mulai percaya terhadap konsep penciptaan dan supranatural maka mereka adalah "orang murtad" atau dgn kata lain tidak lagi sah dianggap sebagai kelompok orang ateis (karena telah murtad dari "agama ateis"), andaikatapun mau dikelompokkan mungkin bisa masuk menjadi kategori Agnostic atau Skeptis, bukan lagi Atheist.
  • Orang ateis juga bisa fanatik seperti orang beragama. Jangan harap orang ateis mau open-mind sedikitpun terhadap konsep "adikodrati", "adimanusiawi", "supranatural" yang dalam bahasa agama disebut dgn Tuhan, apalagi mau open-mind thd kitab suci. Walaupun mereka mengaku open mind tapi pada dasarnya hanya mau terbuka sebatas terkait dalam ruang lingkup science dan filsafat materialism, di luar itu close-minded. Justru saya menilai orang beragama lebih mau open-mind utk mendalami dan mempelajari buku-buku science ketimbang orang ateis menyelidiki kitab suci. Jangan harap orang ateis mau disuruh baca seluruh isi kitab suci dan mengadakan metode perbandingan agama untuk membuktikan bahwa semua agama salah dan itu tidak perlu ada, sesuai klaim mereka.
  • Orang ateis lebih cenderung alergi terhadap kitab suci, dan prejudice serta bersikap generalisasi dalam menghakimi agama dan eksistensi Tuhan. Mereka juga akan mati-matian membela "nabi" mereka yaitu para scientist jika kita tentang keras, nggak jauh beda dgn orang beragama yg akan marah jika nabi mereka ditentang (nb: walaupun tidak semua orang beragama seperti itu).
Jadi janganlah anda semua terlalu berharap banyak bhw orang ateis akan mau membuka wawasan berpikir mereka seluas-luasnya untuk memahami agama, kitab suci atau keTuhanan, saya pribadi sanga pesimis dgn hal itu. Mereka mencari dalih dengan selalu menuntut bukti kepada orang teis tentang eksistensi Tuhan, memangnya orang beragama (teis) itu siapa? Asisten Tuhan apa? Mereka sebenarnya tahu jawabannya apa, sudah jelas-jelas orang beragama mendasarkan kepercayaannya kpd Tuhan dgn 2 dasar bukti (keberadaan alam semesta dan segala mahluk hidup yg merupakan "saksi bisu" terhadap "intellegent design" sang pencipta, dan kitab suci.) ….lalu bukti apalagi yg diminta orang ateis ? mereka sendiri bingung menjawabnya dan muter-muter gak karuan. Makanya saya berani mengatakan bhw orang ateis juga bisa dikategorikan fanatik. Jika orang beragama bisa fanatik terhadap kepercayaannya maka orang ateis juga fanatik terhadap ketidakpercayaannya.