18 October 2007

Ateis = Agama ? suatu perspektif.

Setelah sekian lama berkecimpung dlm forum diskusi di milis ateis (http://groups.yahoo.com/group/ateis/join?), dan berdiskusi panjang dengan komunitas orang-orang Ateis Indonesia, saya mendapat suatu kesimpulan pribadi sehubungan dengan paradigma berpikir kelompok ateis (setidak-tidaknya ateis di indonesia, mungkin di luar negeri berbeda saya tidak tahu sebab belum sempat mengikuti forum diskusinya), dan saya ingin menuliskan detail kesimpulan saya di sini.
Begini kesimpulan singkat saya: Ateis sebenarnya sama dengan "Agama" atau "Kepercayaan".

Menurut sebuah kamus, salah satu arti dari kata RELIGION = A religion is a set of beliefs and practices generally held by a human community, involving adherence to codified beliefs and study of ancestral or cultural traditions, writings, history, and mythology, as well as personal faith.

Jadi esensi yg terkandung dari kata agama adalah suatu kepercayaan yang ditata sedemikian rupa menjadi suatu landasan pola berpikir dari seseorang maupun sebuah kelompok tertentu yg terdiri dari orang-orang yg memiliki mind-set serta minat yang sama. Jadi, menurut pendapat saya orang ateis pada dasarnya tidak berbeda dengan orang beragama dalam konteks sama-sama memiliki mind-set terhadap suatu dogma tertentu dan landasan berpikir tertentu.
  • Ateis punya Tuhan (Tuhan orang ateis adalah "Science")
  • Ateis punya kitab suci (Kitab suci orang ateis adalah buku-buku yg berisi content "menentang eksistensi Tuhan", salah satunya seperti buku On the origin of spesies. Ateis punya nabi (Nabi orang ateis adalah tokoh-tokoh ilmuwan yg mendukung teori ketiadaan Tuhan, seperti Charles Darwin, Richard Dawkins, dan toko-tokoh lain), orang ateis akan sangat kagum dengan "nabi" mereka ini, gak jauh beda dgn orang beragama, jangan coba-coba menghina atau mengkritik Darwin, orang ateis akan mati-matian membelanya.
  • Ateis punya umat dan kelompok (jika kita search segala hal terkait dgn atheist di internet maka kita akan menemukan bbrp komunitas ateis yang berkelompok untuk tujuan tertentu di antara mereka) Coba anda googling, search keyword "atheist community".
  • Ateis punya visi dan misi (salah satu visi orang ateis adalah mengedepankan science dan mengagungkan segala hal yang dibuat oleh teknologi manusia utk kepentingan manusia dengan konsep dasar "manusia bisa jalan sendiri tanpa mengandalkan sang pencipta Tuhan,") Kemungkinan besar ateis juga punya misi utk menyebarluaskan pahamnya kpd semua orang di dunia ini, dengan berbagai metode pendekatan, sama saja seperti para penginjil agama Kristen atau Da'i agama Islam.
  • Ateis punya dogma atau doktrin (salah satu dogma orang ateis adalah "Filsafat Materialism"), setiap orang ateis yg menentang konsep materialism dan mulai percaya terhadap konsep penciptaan dan supranatural maka mereka adalah "orang murtad" atau dgn kata lain tidak lagi sah dianggap sebagai kelompok orang ateis (karena telah murtad dari "agama ateis"), andaikatapun mau dikelompokkan mungkin bisa masuk menjadi kategori Agnostic atau Skeptis, bukan lagi Atheist.
  • Orang ateis juga bisa fanatik seperti orang beragama. Jangan harap orang ateis mau open-mind sedikitpun terhadap konsep "adikodrati", "adimanusiawi", "supranatural" yang dalam bahasa agama disebut dgn Tuhan, apalagi mau open-mind thd kitab suci. Walaupun mereka mengaku open mind tapi pada dasarnya hanya mau terbuka sebatas terkait dalam ruang lingkup science dan filsafat materialism, di luar itu close-minded. Justru saya menilai orang beragama lebih mau open-mind utk mendalami dan mempelajari buku-buku science ketimbang orang ateis menyelidiki kitab suci. Jangan harap orang ateis mau disuruh baca seluruh isi kitab suci dan mengadakan metode perbandingan agama untuk membuktikan bahwa semua agama salah dan itu tidak perlu ada, sesuai klaim mereka.
  • Orang ateis lebih cenderung alergi terhadap kitab suci, dan prejudice serta bersikap generalisasi dalam menghakimi agama dan eksistensi Tuhan. Mereka juga akan mati-matian membela "nabi" mereka yaitu para scientist jika kita tentang keras, nggak jauh beda dgn orang beragama yg akan marah jika nabi mereka ditentang (nb: walaupun tidak semua orang beragama seperti itu).
Jadi janganlah anda semua terlalu berharap banyak bhw orang ateis akan mau membuka wawasan berpikir mereka seluas-luasnya untuk memahami agama, kitab suci atau keTuhanan, saya pribadi sanga pesimis dgn hal itu. Mereka mencari dalih dengan selalu menuntut bukti kepada orang teis tentang eksistensi Tuhan, memangnya orang beragama (teis) itu siapa? Asisten Tuhan apa? Mereka sebenarnya tahu jawabannya apa, sudah jelas-jelas orang beragama mendasarkan kepercayaannya kpd Tuhan dgn 2 dasar bukti (keberadaan alam semesta dan segala mahluk hidup yg merupakan "saksi bisu" terhadap "intellegent design" sang pencipta, dan kitab suci.) ….lalu bukti apalagi yg diminta orang ateis ? mereka sendiri bingung menjawabnya dan muter-muter gak karuan. Makanya saya berani mengatakan bhw orang ateis juga bisa dikategorikan fanatik. Jika orang beragama bisa fanatik terhadap kepercayaannya maka orang ateis juga fanatik terhadap ketidakpercayaannya.

16 August 2007

"iman" - Suatu paradox bagi orang Ateis

Orang-orang ateis seringkali alergi dengan satu kata ini: "iman". Buat mereka yang namanya iman atau kepercayaan itu haruslah selalu didasari atas sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dialami dan dibuktikan oleh "mata kepala sendiri", kebanyakan argumentasi orang ateis adalah seperti itu. Apakah anda juga demikian? ada artikel yang pernah saya baca tentang konsep ateis, bahwa mereka menganut filsafat "materialist", meyakini hanya pada materi atau obyek yang dapat dilihat / disentuh dsb... dsb. Karena Tuhan tidak dapat dilihat dan bukan materi, maka sulit untuk dipercaya.

Saya ingin menyanggah argumentasi itu: Sebenarnya dalam setiap aspek kehidupan kita, tanpa sadar kita banyak menggunakan "iman" termasuk orang ateis. Ketika anda makan di Restaurant apakah anda pergi ke dapur dulu untuk melihat bagaimana juru masak meproses masakan sebelum dihidangkan dan kita makan? hampir semua orang terima begitu saja makanan yang dihidangkan di restaurant, dan kita memakannya dengan "iman" dalam arti kita percaya gitu saja dengan makanan itu (bahkan anda tidak akan tahu apakah makanan itu diludahi dulu oleh sang pelayan di dapur yang mungkin sedang kesal karena gajinya tidak naik-naik). Ketika anda berobat ke rumah sakit atau ke dokter, anda pasrah dengan konsep "iman" sehingga percaya begitu saja dengan obat-obatan yang disuntikkan ke pembuluh darah anda via infus atau via oral tanpa menyelidiki dulu apa jenis obatnya dan bagaimana obat itu diproduksi. Adakah di antara kalian orang ateis yang pergi ke pabrik obat dulu untuk meyakinkan anda bahwa produksi obat tersebut layak anda konsumsi?

Ada banyak produk makanan yang anda konsumsi bertahun-tahun dengan "iman" sebenarnya mengandung formalin setelah diselidiki oleh dirjen POM (pengawasan obat dan makanan) Ada lagi argumen aneh dari orang ateis ..... para agamais atau yang disebut oleh orang ateis dgn istilah "kaum domba bagi orang kristen" dan "kaum onta bagi orang Islam" adalah orang-orang bodoh yang mau percaya begitu saja dgn apa yang tertulis dalam kitab suci mereka padahal belum pernah bertemu langsung dengan nabi-nabi atau rasul yang menulis ayat-ayat spt yang tertulis dlm kitab suci mereka, dan tidak pernah mengalami sendiri sejarah atau kejadian yg tercatat dlm kitab suci tersebut. Memang tidak dpt dipungkiri ada banyak sekali orang beragama yang mau terdogmatis secara "buta" tanpa mendasari imannya pada pengetahuan yang seksama, banyak yang menggantungkan sepenuhnya kepercayaan mereka terhadap para pemimpin agama (pastor / pendeta /uztad / biksu, dll), Namun tidaklah semua orang beragama mau seperti itu, ada juga orang yang tidak seperti itu walaupun mungkin jumlahnya sangat minoritas.

Saya mau tanya anda (orang atheis): apakah anda pernah ikut dalam pertempuran merebut kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945? lalu kok kenapa anda mau merayakan hari kemerdekaan setiap tanggal 17 agustus? apakah anda pernah bertemu dengan tokoh-tokoh pahlawan seperti bung Karno, Jenderal Sudirman, dll? jika belum pernah ketemu lalu kenapa anda percaya akan catatan sejarah tentang itu semua? Apakah mungkin tokoh-tokoh filsuf seperti aristoteles, plato dan lain-lain adalah tokoh fiktif dari cerita dongeng padahal tokoh tersebut diyakini eksistensinya oleh berjuta-juta ilmuwan, filsuf dan budayawan?. Pertanyaan itu dapat juga kita pakai utk hal ini: Apakah masuk akal utk mengatakan bahwa Yesus yang dipercayai oleh jutaan penduduk dunia dan telah banyak merubah paradigma umat manusia adalah tokoh fiktif dalam dunia dongeng yang sebenarnya tdk pernah ada?.

Bahkan ada banyak orang ateis yang jangankan ketemu dengan tokoh-tokoh ateis, malah belum pernah sama sekali membaca seluruh buku karya tulis Darwin dan Karl Max tapi sudah mengklaim dirinya sebagai penganut paham Darwinisme dan Karl Max. Itu kan sama saja kalian orang ateis telah ter-dogmatis oleh ajaran dari tokoh-tokoh tertentu. Bahkan itu sama saja namanya dengan "ber-iman", bukan beriman terhadap kitab suci tetapi terhadap konsep berpikir para tokoh ateis. Maka jika demikian halnya, orang ateis menurut saya tidak ada bedanya dengan orang-orang yang beragama, kedua-duanya bisa saja ter-dogmatis dan ter-indoktrinasi, hanya saja didogma oleh sumber yang berbeda, namun prinsipnya sama-sama ber-iman atas dogma / ajaran / konsep / paradigma tertentu. Jaman dahulu ketika microscope belum diketemukan tidak ada seorangpun yang pernah melihat bakteri atau virus (karena hanya bisa dilihat pakai mikroskop), bayangkan jika pada waktu itu ada orang yg mengatakan bhw sebenarnya ada mahluk hidup yang sangat kecil namun tak dapat dilihat mata, bisa jadi orang tsb akan dianggap orang gila. Namun seraya teknologi berkembang ditemukanlah mikroskop sehingga orang bisa melihat bakteri. Jadi kesimpulannya jika manusia belum bisa melihat sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada, hanya keterbatasan manusia sajalah yg mengakibatkan hal itu. Demikian juga dengan eksistensi Tuhan, manusia tidak sanggup melihat Tuhan hanya karena keterbatasan dimensi manusiawi belaka - tidak menjadi bukti science bhw Tuhan itu tidak ada.

Saya pribadi sangat anti dengan iman yang membabi-buta dan fanatik yang didengungkan oleh para pemimpin agama dunia ini. Namun demikian pada suatu titik kulminasi tertentu walau bagaimanapun juga pada akhirnya iman tetap harus dibutuhkan, kitab suci (yang sejati) seharusnya memang merupakan sarana penyingkapan atas beberapa rahasia Illahi, tapi tidak segala hal tertulis dalam Alkitab. Kitab suci menyingkapkan siapa itu Tuhan sang pencipta, namun kitab suci tidak menjelaskan dari mana Tuhan berasal dan siapa yang menciptakan Tuhan, kitab suci hanya menyebutkan Tuhan sebagai "Alfa-Omega" yang artinya tak bermula dan tak berakhir (memiliki kelengkapan yang paling utuh dan absolute), nah untuk hal ini dibutuhkan iman. Maka kesimpulannya jika orang memakai ukuran kepercayaannya harus berdasarkan suatu kondisi seperti harus bertemu dan melihat serta membuktikan sendiri baru percaya, itu adalah argumentasi yg sangat picik dan sempit. Jadi keluarlah dari dimensi kerdil kalian - out from box. Jangan terus terkurung berkutat pada dimensi manusiawi yang amat-sangat terbatas.

27 June 2007

Otak Manusia Yang Spektakuler

Pernahkah anda merenungkan betapa canggihnya otak anda? ada berbagai macam pendapat para ahli tentang kecanggihan otak manusia. Ada yg mengatakan bahwa Otak manusia terdiri dari kumpulan massa protoplasma yang sangat kompleks dan sel-sel otak manusia yang disebut dgn neuron dapat berkembang begitu pesat karena memiliki gen 'human accelerated region'yang sangat unik. Mengapa ada ahli yang mengatakan bhw manusia tidak memakai lebih dari 10% kemampuan otaknya, itu krn umur manusia singkat, sehingga sel-sel otak tersebut tidak lagi berkembang sesuai kapasitasnya krn mulai menurun secara bertahap menjelang usia semakin tua (degenerative cell), dan akhirnya proses regenerasi sel otak tersebut terhenti pada saat seseorang mati. Pernahkah anda merenung mengapa manusia umurnya singkat? binatang saja ada yg umurnya mencapai 400 thn spt kura-kura besar, bahkan umur gajah bisa lebih tua daripada manusia. Sayang sekali umur manusia yg notabene adalah mahluk cerdas sangat singkat, mengapa Tuhan menciptakan manusia hanya utk hidup sebentar kemudia mati? Perkembangan sel otak itu pada dasarnya dapat bersifat unlimited / tak terbatas apabila manusia hidup kekal, andaikata manusia tidak mati diumur 70 tahun (rata-rata umur hidup manusia) melainkan sanggup hidup kekal maka seluruh kemampuan otaknya akan dipakai secara maksimal dan optimal. Coba bayangkan jika manusia hidup sampai umurnya 1000 tahun saja, maka dapat dipastikan kemampuan otak manusia akan berkembang selama itu juga.

Sangat menarik, catatan kitab suci mengatakan bahwa nenek moyang manusia (Adam) sebelum dia mati, Adam mencapai umur 930 tahun. Silahkan baca - kitab Kejadian 5:5 "Jadi Adam mencapai umur sembilan ratus tiga puluh tahun, lalu ia mati." Analogi simple saja, seorang yg ingin meraih gelar sarjana membutuhkan waktu utk kuliah sekitar 5 tahun, melanjutkan S2 membutuhkan wkt sekitar 2 tahun lagi, dan utk meraih gelar doktor sekitar 3 tahun lagi, maka total waktu yg dibutuhkan adalah sktr 10 thn. Itu hanya utk satu bidang disiplin ilmu. Coba bayangkan kalau umur seseorang bisa mencapai 1000 tahun, maka dia bisa meraih gelar doktor untuk kira-kira 80 bidang ilmu yg berbeda. Maka bisa dibayangkan otak orang yang berumur 1000 tahun pasti akan menggunakan kemampuan otaknya lebih dari 10%. Majalah Scientific American, edisi November 2005, memuat satu artikel tentang hasil penelitian terkini mengenai kapasitas otak dalam menyimpan informasi. Artikel itu mengatakan Untuk bisa mengisi penuh "hard disk" otak maka kita harus belajar satu hal baru setiap detik selama sekitar 30 juta tahun. Bayangkan, dibutuhkan waktu sekitar 30 juta tahun untuk mengisi full memory otak manusia.

Sebagai tambahan lagi ada tiga bagian dasar Otak manusia yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain. 1.Batang otak, 2.Sistem limbik dan 3.Neokorteks. Batang otak berfungsi sbg motorik sensorik dan mampu mengembangkan pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Sistem limbik Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Neokorteks mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia dll.

Kesimpulan inti buat saya pribadi, tubuh manusia yg dalam topic ini membahas organ otak, benar-benar menunjukkan betapa sang pencipta manusia (Tuhan) itu maha cerdas. Tuhan telah menciptakan manusia sebagai mahluk yang sangat spektakuler dan luar biasa menakjubkan. Sebenarnya otak manusia tidak bisa disamakan dengan produk ciptaan orang di bumi ini seperti komputer atau apapun. Ada seorang ahli yg mengatakan bhw bahkan struktur otak seekor lalat jauh lebih rumit daripada struktur multi processor komputer yang tercanggih buatan para pakar komputer, apalagi jika dibandingkan dengan otak manusia yang berisi milyaran sel neuron, sangat jauh sekali jurang perbedaannya. Kitab Psalm / Mazmur 139:14 "Aku bersyukur kepada Tuhan oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib...." ; Ibrani 3:4 -"Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Tuhan Allah."

Orang yang tidak suka membaca dan meneliti hal-hal baru akan menyebabkan sel-sel otak orang sedemikian tidak berkembang secara significant, karena sel otak sama seperti sel otot, semakin sering digunakan untuk berpikir akan semakin berkembang, dan jika jarang digunakan maka orang akan semakin lemah dan cenderung pikun bahkan bodoh.

Itulah sebabnya betapa pentingnya membaca dan meneliti segala hal. Disamping membaca, merenungkan apa yang dibaca juga penting, karena proses merenung akan menstimulasi otak untuk berpikir tajam dengan daya pengamatan sehingga otak mampu menganalisa segala hal mengaitkannya dengan pengetahuan baru untuk mendapat suatu konsep tertentu yang akan membentuk pola berpikir seseorang.

Banyak orang yang terkurung dengan pola berpikir pragmatis, sehingga hanya mau berpikir hal-hal yang praktis saja, yang dapat langsung kelihatan hasil dari pikirannya sekarang juga dan cepat diterapkan. Sangat jarang orang yang mau membuka pikiran terhadap hal-hal baru, dan jarang juga orang yg mau berpikir hal-hal yg jauh ke depan, hal-hal yang berupa renungan, hayalan, angan-angan, atau yang tidak langsung terlihat hasilnya. Sejarah mencatat bahwa banyak penemuan-penemuan teknologi di Eropa dan Amerika berawal dari suatu hayalan belaka, namun secara berkesinambungan hayalan tersebut diteliti dan dikembangkan ke arah penerapan teknologi yg nyata.

Salah satu contoh bagaimana para ilmuwan yang berupaya menciptakan tiruan dari fungsi sel syaraf otak, yaitu pada sekitar tahun 50'an ilmuwan Hodgkin dan Huxley mengembangkan model pertama dgn mencatat sinyal-sinyal listrik otak manusia yang dipancarkan oleh sel-sel otak. Karya ini menjadi dasar bagi suatu gagasan bahwa fungsi-fungsi otak semestinya dapat disimulasikan oleh fungsi-fungsi elektronik dari suatu program komputer. Teknologi komputer yang berkembang pesat semakin membuka jalan bagi simulasi sistem pengolahan informasi otak manusia.

Begitu banyak ilmuwan yang mengkhususkan diri meneliti carakerja otak berminat membuat model cara kerja otak manusia. Minat ini didukung oleh kecanggihan komputasi komputer. Model cara kerja otak manusia ini terutama ditekankan kepada bagaimana sesungguhnya proses belajar yang dilakukan oleh otak. Berbagai model JST (Jaringan Syaraf Tiruan) berhasil dikembangkan dan pada prinsipnya teknologi itu ingin meniru kemampuan otak manusia.

Dibandingkan dengan teknologi lainnya, JST untuk beberapa bidang aplikasi jauh lebih baik. Kekuatan JST ini bisa digunakan untuk aplikasi seperti: 1) optimasi, 2) kontrol, 3) pengolahan gambar (image processing) ,4) sintesa dan pengenalan suara, 5) pengolahan bahasa alami dan 6) memodelkan kemampuan kognisi manusia. Biasanya JST dipilih bila menghadapi situasi dimana teknologi lain tidak bisa diterapkan karena data yang tidak lengkap, toleransi kesalahan yang rendah, serta rancu dan tidak beraturannya situasi. Jadi untuk situasi-situasi yang membutuhkan proses belajar, penilaian atau intelegensi dalam menghadapi keadaan yang rancu serta dinamis merupakan hal yang sangat cocok bagi penerapan teknologi JST.

Sebagai gambaran teknologi JST sudah diterapkan adalah sbb: Pengenalan huruf secara optis untuk membaca tulisan tangan, sementara untuk membaca huruf Kanji diterapkan oleh Sharp dan Mitsubishi, untuk kontrol sebuah proses misalkan banyak digunakan di pabrik baja yaitu untuk kontrol EAF. Perusahaan mobil Ford menggunakan JST untuk sistem anti lock brakes , Citibank dan American Express memakainya untuk mendeteksi pemalsuan kartu kredit VISA, Perusahan penerbangan Amerika Serikat dan Kanada menggunakannya untuk memprediksi respon pelanggan, dan masih banyak lagi bidang yang dirambah oleh JST termasuk dalam dunia forensik, astronomi, musik dan persenjataan perang.

Timbul pertanyaan renungan dari saya, seberapa banyakkah kita telah menggunakan kemampuan otak untuk meneliti hal-hal yang bersifat rohani dan spiritual, yang menyangkut kehidupan di masa depan, tentang nasib bumi ini, tentang maksud tujuan Tuhan menciptakan alam semesta ini, dan lain sebagainya. Saya melihat bhw kebanyakan orang bersifat pragmatis, lebih cenderung menggunakan otaknya untuk hal-hal yang bersifat sekuler, karena hal itu lebih nyata sehari-hari demi menunjang kehidupan dalam mencari nafkah dan demi “perut” saja.

25 April 2007

Kebenaran Relatif-Pandangan Populer yang Dilematis

Ada suatu ungkapan lama yang cukup terkenal yaitu “banyak jalan menuju Roma”, ungkapan tersebut sering dipakai oleh beberapa orang yang berpandangan liberal terhadap agama dengan mengatakan bahwa “ada banyak jalan menuju Tuhan”, dengan kata lain mereka beranggapan bahwa walaupun ada begitu banyak agama di dunia ini namun semua agama tersebut menuju jalan yang sama yaitu penyembahan kepada Tuhan tidak perduli walaupun ajarannya berbeda-beda. Ada beberapa kelompok scientis atau pemikir yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak, segala sesuatu bersifat relatif, apabila suatu kepercayaan tertentu diteliti dengan membandingkannya dengan kepercayaan lainnya maka akan didapati bahwa dalam setiap kepercayaan ada corak-corak khusus yang saling melengkapi satu sama lain, dan hal itu tidak berarti bahwa yang satu mutlak benar dan yang lain mutlak salah, kedua-duanya bisa sama-sama benar bisa juga sama-sama salah tergantung dari perspektif mana orang memandangnya, orang-orang yang berpandangan demikian dikenal dengan penganut paham liberalisme. Walaupun beberapa orang yang berpandangan liberalisme tidak selalu serba menerima segala konsep agama, namun paling tidak beberapa kelompok berpandangan bahwa ada unsur kebenaran dan kebaikan di dalam setiap agama, sehingga atas dasar penalaran demikian maka mereka tidak menerima konsep adanya kebenaran mutlak atau absolute, segala hal bersifat relatif tergantung sudut pandang masing-masing kelompok orang.

Banyak orang saat ini senang dengan paham liberalism, karena dengan mengikuti konsep berpikir seperti ini mereka berpandangan bahwa hubungan horisontal antara sesama umat manusia akan lebih harmonis karena menerima perbedaan di antara sesama manusia, orang yang berpandangan seperti ini tidak akan bersikap terlalu kritis dengan agama orang lain maupun agamanya sendiri. Oleh sebab itu munculah konsep pluralism seperti di dalam agama Kristen ada kelompok persekutuan yang disebut dengan Oikumene (menggabungkan seluruh sekte kristen dalam satu wadah perkumpulan jemaat) bahkan ada ungkapan yang diberikan oleh suatu konsili Vatikan Katolik Roma yang menyebutkan bahwa “ada kesucian di dalam semua agama”, dan disamping itu beberapa paham kelompok Kristen yang bersikap Liberal juga menerima tradisi upacara adat istiadat etnis ke dalam kekristenan sebagai bagian dari tatacara peribadatan. Di dalam agama Islam juga ada sebuah kelompok cendikiawan muslim yang menamakan kelompok mereka dengan nama
Jaringan Islam Liberal, ini hanyalah sebuah contoh bagaimana konsep liberalism telah menyusup juga ke dalam agama. Apakah konsep ini salah? Jika ditinjau secara liberal maka tidak ada yang salah dalam hal tersebut, sebab segalanya adalah bersifat relatif, akan tetapi jika ditinjau dari segi kebenaran absolute, realitas atau fakta maka akan timbul pertanyaan yang mendasar, apa yang dimaksudkan dengan liberal di sini? Apakah liberal dalam kaitannya dengan dogma, doktrin dan ajaran agama? Ataukah liberal dalam arti mentoleransi umat beragama lain dengan tidak saling mengusik atau menjelek-jelekkan agama orang?, jika demikian saya sependapat, namun Jika mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah liberal dari segi dogma dan ajaran maka timbul pertanyaan apakah memang semua agama benar-benar mengajarkan dogma yang sama? dan apakah semua agama benar-benar jalan yang sama menuju Tuhan yang sama pula? Apakah orang-orang yang menganut paham liberalism tersebut bersedia berpindah-pindah agama misalnya hari ini beribadah ke mesjid, besok beribadah ke gereja, lusa beribadah ke klenteng budha atau kuil hindu dan seterusnya? Saya tidak yakin akan hal itu.

Atau bisa jadi mungkin para penganut paham liberalism tersebut berdalih bahwa mereka hanya menerima sebagian-sebagian konsep dari seluruh paham agama-agama untuk di-combine dengan filsafat mereka menjadi satu "ramuan" pengajaran baru atau pencerahan baru - who knows, jadi mereka tidak menerima secara utuh semua paham agama di dunia ini, namun mencomot beberapa hal dan menggabungkannya dengan paham filsafat, jika demikian maka tidakkah hal ini berarti mereka (para penganut paham liberalism) tidak kosisten dan konsekuen? Jika mereka benar-benar liberal dan konsisten maka tidakkah seharusnya mereka menerima semua paham agama-agama secara utuh sebagai paham yang benar karena toh mereka mengatakan bahwa semua agama baik dan benar?. Saya ambil suatu simulasi, apakah para penganut paham Islam Liberal mau menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat selayaknya orang Kristen memandang Yesus?, atau sebaliknya maukah para penganut paham Kristen Liberal mengakui Nabi Muhammad SAW sebagaimana orang muslim memandang Muhammad?. Atau mungkin saja para penganut paham liberal tersebut mengatakan bahwa mereka hanya berusaha untuk menghormati semua agama yang ada di dunia ini, bukan untuk menerima semua dogma dari agama-agama yang ada sebagai kebenaran yang sejati.

Salah satu argumen kelompok liberal adalah bahwa kebenaran itu dapat dibagi atas dua kategori: 1. Kebenaran Eksklusif, 2. Kebenaran Inklusif. Kebenaran eksklusif adalah kebenaran tertentu yang hanya diyakini dalam agama tertentu. Misalnya Umat Kristen pada umumnya percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang layak mereka sembah, sedangkan umat Islam tidak mungkin menerima doktrin itu dan tidak akan mau menyembah Yesus. Sedangkan ajaran cinta kasih dalam agama Kristen adalah kebenaran inklusif yang bisa diterima oleh pemeluk agama Islam dan bahkan oleh semua agama.

Maka jika demikian halnya itu berarti para penganut paham liberalism tersebut tetap saja menganggap bahwa agama yang dianutnya entah itu Islam atau Kristen atau apapun adalah agama yang benar dan agama lain selain yang dianutnya bukanlah agama yang benar, karena ada beberapa dogma fundamental dari masing-masing agama yang tidak mungkin bisa saling tukar-menukar konsep & iman diantara penganutnya. Dengan kata lain jika demikian maka konsep liberal yang dimaksudkan mereka hanyalah sebagai ungkapan saling toleransi antara umat beragama demi menjaga hubungan horizontal sesama manusia tidak soal latar belakang agamanya. Dan itu juga berarti bahwa kebenaran yang sesungguhnya tidaklah bersifat relatif, karena jika semua relatif maka tidak ada suatu "pakem" yang fundamental dalam setiap agama, karena terbukti bahwa tetap saja orang-orang yang berpandangan liberal memiliki status jati diri agamanya sendiri? mereka menamakan diri Islam Liberal yang notabene ada identifikasi Islam juga dalam kelompok itu.

Saya sering membaca artikel-artikel liberalism yang ditulis di media internet dan saya melihat sepertinya mereka hanya ingin mengkritisi para penganut di dalam kelompok agamanya sendiri khususnya agar supaya jangan sampai berpandangan ekstrim dan fanatik terhadap agamanya. Mereka jarang mengkritik agama lain, mereka hanya mencoba mengkaji ulang agamanya sendiri dari paradigma yang berbeda (seperti filsafat, science, sejarah, logika dan akal sehat), sehingga mereka mengajak umat agamanya untuk berpikir lebih comprehensive dan tidak picik. Saya menilai bahwa hal ini adalah suatu hal yang bersifat positif dalam arti mereka berusaha menggunakan akal pikirannya (yang notabene Tuhan menciptakan manusia memiliki akal budi untuk digunakan sebaik-baiknya tidak seperti binatang) untuk mengkaji ulang konsep berpikir umat beragama yang selama ini mungkin seolah-olah terbelenggu secara picik oleh agamanya. Akan tetapi tetap saja pada suatu titik tertentu para penganut paham liberalism ini akan mentok, karena konsep liberalism itu sendiri telah menjadi bumerang bagi mereka karena jika segala hal bersifat relatif maka konsep mereka pun juga akan menjadi relatif juga jika dikaji dari kacamata liberalism. Sehingga pada suatu titik mereka pada akhirnya akan dihadapkan juga kepada suatu pertanyaan dan pilihan tentang manakah sebenarnya kebenaran yang sejati itu.

18 March 2007

Kelompok pola berpikir individu

Apabila kita mengamati perilaku berpikir setiap orang dengan seksama sehubungan dengan kepercayaan agama yang mereka anut, maka kita memang akan mendapati beragam konsep berpikir. Ada begitu banyak latar belakang yang dapat mempengaruhi paradigma berpikir seseorang terhadap agama atau kepercayaan, bisa latar belakang keluarga, pendidikan, kebudayaan, etnis atau suku, kebudayaan, kebangsaan, tradisi, status sosial, status ekonomi, pengalaman hidup dan lain-lain. Mungkin anda bertanya, bagaimana kita dapat mengetahui pola berpikir umat manusia dari segala bangsa di dunia ini?.

Kita patut bersyukur karena perkembangan teknologi saat ini telah menembus batas dimensi ruang dan waktu, media teknologi informasi dan komunikasi telah “menerobos” penghalang jarak dan waktu sehingga kita bisa mengetahui berbagai macam pola pemikiran dari berbagai negara di seluruh dunia ini, dari mulai pemikiran orang-orang di belahan barat maupun dari orang-orang di belahan timur bumi ini, mulai dari negara-negara maju, negara-negara berkembang dan bahkan negara-negara miskin. Media televisi, film bioskop/DVD, radio, suratkabar, publikasi (seperti buku-buku, tulisan-tulisan, encyclopedia, kamus dll), telekomunikasi (telephone, HP dll), khususnya media internet dlm lingkup teknologi komputer telah memungkinkan kita untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Dengan demikian selain kita bisa mengetahui berbagai macam pola pikir seseorang di wilayah kita sendiri yang dapat kita jangkau secara langsung atau secara fisik, kita juga dapat menjangkau wilayah-wilayah lainnya di seluruh dunia berkat bantuan media teknologi informasi tadi. Berdasarkan hasil pengamatan saya pribadi baik secara langsung maupun tidak langsung dari berbagai sumber informasi yang saya sebutkan di atas, kalau boleh saya kelompokkan pandangan orang terhadap agama atau kepercayaan kira-kira dapat dibagi atas beberapa kriteria sebagai berikut :

· Apatis (acuh-tak-acuh)
------------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan apathy =
”Lack of enthusiasm or energy: lack of interest in anything, or the absence of any wish to do anything”
- Tidak terlalu peduli terhadap agama, lebih mengejar kepentingan materi (seperti harta kekayaan, karier, jabatan, kehormatan, ketenaran, hobi, kenikmatan hidup dll) daripada mendalami hal-hal yang bersifat rohani atau spiritual.
- Kadang-kadang orang yang berpandangan apatis ini, sama sekali tidak berminat untuk menyelidiki agama, baik agama yang dianutnya sendiri apalagi agama lain.
- Sekedar mengaku berstatus beragama tetapi tidak peduli apakah agama yang dianutnya benar atau salah, sehingga tidak menjalankan tatacara ibadatnya dengan konsisten dan konsekuen.
- Ada beberapa yang berpendapat “nikmatilah hidup ini sepuas-puasnya sebab besok kita akan mati”. konsep epikuros - asal kata dari “epicurean” - devoted to sensual pleasures and luxury.
- Berpandangan bahwa sekedar tidak berbuat jahat, tidak mengganggu kepentingan orang lain dan bersosialisasi terhadap sesama manusia tidak harus terlebih dahulu menganut agama tertentu.
- Ada beberapa penganut pandangan ini yang mungkin kecewa terhadap agama karena mungkin pernah membaca latar belakang sejarah “gelap” dari agama-agama dunia khususnya agamanya sendiri.
- Atau ada juga yang mungkin mengamati perkembangan agama-agama dunia sepanjang sejarah dan mendapati begitu banyaknya kemunafikan diantara para pengikutnya atau bahkan para pemimpin agama itu sendiri, sehingga hal ini menjadi suatu “batu sandungan” untuk memilih agama tertentu untuk diyakini dan dianut.
- Ada juga beberapa yang memiliki kemampuan intelektual tertentu dan mencoba menyelidik ajaran tertentu dari agama melalui kitab suci agamanya atau kitab suci agama lain, namun tidak bisa “mencerna” secara logika science dan akhirnya mengakibatkan timbulnya keraguan terhadap kebenaran agama.
- Ada yang mungkin pernah memiliki pengalaman pahit berkenaan dengan hubungan horizontal antara sesama umat beragama, mungkin pernah dikecewakan oleh pemimpin agamanya (pendetanya, atau pastornya atau ustadnya atau biksunya dll.). Dan yang membuat kecewa adalah karena institusi atau organisasi agamanya mendiamkan atau tidak peduli walaupun beberapa orang yang mengaku sebagai pemimpin spiritual bertindak munafik dan merugikan umatnya sendiri, sehingga hal ini menjadi kendala untuk dapat tetap yakin terhadap agamanya.


· Skeptis (ragu-ragu)
-------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan skeptical =
“Someone who is doubtful or noncommittal about something” / doubtful is : tending not to believe things but to question them or unsure or undecided about something.
- Sekedar mengaku bahwa dia ber-agama, namun pada hakekatnya ragu-ragu terhadap kebenaran agama yang dianutnya itu. Sehingga kelompok orang seperti ini tidak menjalankan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sebagai contoh sederhana kalau mereka beragama Islam tidak menjalankan shalat lima waktu secara konsisten atau corak ibadat lainnya, kalau mereka beragama Kristen tidak pernah ke gereja dan seterusnya.
- Sekedar beragama (tertera di kartu identitas mereka) tetapi tidak terlalu yakin apakah agama yang dianutnya benar atau salah, karena mungkin tidak punya dasar pengetahuan tentang agamanya sendiri.
- Ada juga beberapa yang memilik problem ketidakpuasan terhadap jawaban dari agamanya atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin pernah diajukannya para kritikus tertentu.
- Tidak terlalu menganggap bahwa Agama itu memiliki “kekuatan” rohani / spiritual / moril, hanya menganggap sebagai suatu wadah atau sarana untuk menentukan identitas ibadat seseorang saja.
- Kadang-kadang orang seperti ini mencoba-coba untuk mempelajari agamanya atau menyelidiki agama orang lain, akan tetapi tidak didasari atas motivasi yang benar (bukan untuk mencari kebenaran yang sejati) namun semata-mata untuk mencari-cari kesalahan di dalam agama agar mempunyai alasan untuk tidak beragama.
- Mudah ter-ombang ambing seperti ombak di lautan karena tidak memiliki pendirian yang teguh berkenaan suatu kepercayaan agama, hal ini disebabkan karena kurangnya dasar pengetahuan tentang kitab suci atau pengetahuan lainnya yang dapat mendukung seseorang dalam proses berpikir serta bertindak sesuai imannya.

· Submissive (pasrah/patuh/menyerah/tunduk tanpa syarat)
------------------------------------------------------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan submissive =
“ready to submit to others: giving in or tending to give in to the demands or the authority of others”.
- Berpandangan bahwa kepercayaan atau agama adalah warisan dari bapak/kakek/leluhur yang harus diikuti dengan pasrah dan patuh.
- Tidak perlu terlalu meng-kritisi agama warisan yang sudah dianut sejak lahir, terima saja dengan pasrah dan tunduk tanpa syarat, dan tanpa perlu bertanya denga kritis mengapa begini mengapa begitu.
- Sangat tulus dan patuh menjalankan tatacara agamanya sesuai dengan ajaran-ajaran dari para pemimpin agamanya dan sangat menyandarkan dasar pengetahuan agamanya kepada para guru agama dan para pemimpin agamanya seperti pastor, pendeta, ahli teologi, ustadz, da’i, biksu, biksuni dll) tanpa terlalu kritis meneliti kembali apa yang dikatakan oleh para pemimpin agamanya tersebut.
- Ada beberapa yang bahkan belum pernah membaca kitab suci agamanya sendiri secara keseluruhan, karena mereka merasa puas hanya dengan mendengarkan para pemimpinnya berkhotbah saja. Namun demikian mereka tetap bisa ber-Iman dan beribadat secara tulus, karena konsepnya adalah iman tidak harus didasari atas pengetahuan logika tapi hati nurani.
- Cenderung untuk menutup diri dengan konsep ajaran diluar agama warisan yang sudah dianut, atau mungkin takut untuk mempelajari konsep kepercayaan lain atau takut pindah agama.
- Agama atau kepercayaan terkadang bersifat dogmatis atau indoktrinisasi yang turun-temurun sudah dianut oleh nenek-moyangnya, dan tidak perlu lagi diuji kebenarannya ataupun direformasi walaupun dogma tersebut belum tentu berdasarkan kitab suci agamanya dan belum diuji kebenarannya.
- Menjalankan ibadatnya sebagai rutinitas yang bersifat mekanis, sebagai contoh bagi yang beragama Kristen secara rutin pergi ke gereja setiap minggu, merayakan Natal setiap tahun namun ketika ditanya apakah dirinya pernah membaca Alkitab secara keseluruhan mereka menjawab belum pernah. Bagi yang beragama Islam ada yang shalat secara teratur, mebayar zakat, berpuasa, naik haji dll namun ketika ditanya apakah dirinya mengerti isi dari kitab suci Al-Quran mereka menjawab tidak terlalu ngerti, dan seterusnya, mereka tulus menjalankan rutinitas ibadatnya tanpa didasari atas pengetahuan yang seksama mengenai ibadat rutin yang sedang dijalankannya tersebut, karena menjalaninya sesuai dengan kebiasaan turun-temurun dari orang tuanya atau mungkin dari para alim-ulama yang meng-indoktinisasi mereka.
- Agak alergi atau risi terhadap konsep pemikiran baru atau konsep yang bertentangan dengan dogma yang telah dianutnya sejak kecil, apalagi jika konsep baru tersebut bertentangan dengan dogma atau doktrin yang dianutnya itu.
- Jika ada kritik terhadap dogma atau doktrin agamanya yang berdasar dan tidak bisa dijawab, maka mereka akan lebih mengandalkan imannya semata ketimbang termotifasi untuk mencari tahu kebenaran yang sejati dengan akal pikiran.
- Sangat sensitif dan mungkin akan cenderung emosi serta marah jika ada konsep lain yang mengkritisi ajaran agamanya walaupun kritik yang diberikan itu bisa jadi sangat berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Iman atau kepercayaan adalah suatu hal yang bersifat batiniah dan terkadang bersifat misteri tanpa harus didasarkan atas akal sehat atau logika bahkan terkadang sifatnya abstrak, dan pengetahuan agama tidak perlu digali, dipelajari atau diteliti dengan menggunakan akal pikiran, cukup dengan hati nurani saja.
- Ber-iman hanya didasari atas dorongan emosional belaka ketimbang akal pikiran, sebagai contoh ada seseorang yang mungkin pernah menderita penyakit panjang, namun ketika “dapat disembuhkan” oleh pendeta / pastor / ustadz secara mukjizad maka orang ini akan segera percaya dengan agamanya hanya atas dasar itu saja. Atau mungkin ada yang melihat “kesaktian” dari guru agamanya atau ulamanya mereka langsung tertarik untuk mempercayainya.
- Biasanya mengindikasikan ajaran yg benar dari skala kuantitatif atau jumlah pengikut (jika jumlah pengikutnya banyak maka otomatis ajaran itu benar, jika jumlah pengikutnya sedikit atau jika masyarakat serta penguasa politik mendiskreditkan agama tersebut maka otomatis mereka dengan “pasrah” akan ikut memfonis bahwa ajaran itu salah atau sesat tanpa mau peduli atau mau menyelidiki kebenaran yang sesungguhnya)


· Atheis (tidak percaya akan keberadaan Tuhan)
---------------------------------------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan atheis =
“unbeliever in God or deities: somebody who does not believe in God or deities” dan beberapa kamus mendefinisikan agnostic = “somebody denying God’s existence is provable: somebody who believes that it is impossible to know whether or not God exists”
- Kebanyakan penganut pandangan ini memiliki paham filsafat materialis, artinya mereka hanya mempercayai sesuatu yang dapat dilihat atau dirasakan dengan panca indra manusia seperti benda-benda berwujud, semua materi-materi yang dapat dilihat holeh mata dan di rasakan oleh panca indra lain dari tubuh manusia sajalah yang exist, kalau tak terlihat dan tidak terasa maka dianggap tidak ada.
- Mereka juga tidak mempercayai adanya proses penciptaan terhadap alam semesta dan manusia, mereka lebih mempercayai teori para ilmuwan yang mengatakan bahwa semua keberadaan di alam semesta dan keberadaan manusia terjadi dengan sendirinya, alam semesta terjadi karena adanya peristiwa “big bang” sementara manusia terjadi karena suatu proses evolusi – teori Charles Darwin.
- Karena kelompok orang yang berpandangan seperti ini sama sekali tidak percaya eksistensi dari Tuhan / Allah, maka secara otomatis sudah pasti tidak akan percaya terhadap agama, agama dianggap mereka hanya seperti “candu” yang hanya merupakan pelarian dari orang-orang yang menderita atau tertindas agar mendapat kenyamanan semu.
- Sangat mengandalkan ilmu pengetahuan/science, dan sangat memiliki kepercayaan diri yang tinggi apabila mereka telah memiliki kemampuan intelektual dan memiliki titel serta gelar-gelar akademis seperti Professor, Doktor, Sarjana. Jika mereka sudah mencapai tingkat pendidikan yang tinggi maka buat mereka ilmu pengetahuan adalah semacam “Tuhan” bagi mereka tempat mereka mencari jawaban atas segala misteri kehidupan, sehingga agama tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang berharga melainkan dianggap hanya sebagai dongeng “isapan jempol” belaka.

· Agnostic (tidak begitu yakin bahwa kebenaran absolute agama dapat ditemukan atau bahwa Tuhan dapat dibuktikan keberadaannya)
------------------------------------------------------------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan agnostic =
“somebody who believes that it is impossible to know whether or not God exists” (The term “agnostic” (from the Greek word agnostos, “unknown”) was coined by the 19th-century British scientist Thomas H. Huxley, who also helped to popularize the Darwinian theory of evolution".
- Orang yang berpandangan Agnostik dapat dikatakan berdiri di persimpangan jalan di antara theis dan atheis (antara percaya dan tidak percaya akan eksistensi Tuhan), jadi tidak mempunyai pendirian yang jelas dan tegas akan kepercayaan terhadap Tuhan, apalagi terhadap agama.
- Berpandangan bahwa amat sangat mustahil untuk dapat membuktikan adanya kebenaran absolute dari Agama atau adanya kebenaran Tuhan.
- Berpandangan bahwa amat sangat mustahil untuk dapat membuktikan eksistensi dari Tuhan, walaupun Dia ada.

· Liberal, Moderat, Pluralism, Flexibel, Universal
----------------------------------------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan Liberal =
“Tolerant of different views and standards of behavior in others” or “somebody who favors tolerance or reform”
- Kebenaran hanyalah bersifat relatif, tidak ada kebenaran yang absolute, atau tidak akan ada the ultimate truth.
- Setiap orang bebas dan berhak berpendapat tentang kebenaran berdasarkan perspektif masing-masing
- Membuka diri terhadap segala jenis ilmu agama dari berbagai sumber kepercayaan.
- Mempunyai konsep bahwa semua agama adalah jalan yang sama menuju Tuhan.
- Mempunyai konsep bahwa ada kebaikan, kebenaran dan kesucian di dalam setiap agama
- Agama seharusnya bersifat universal dan menerima segala jenis perbedaan tidak soal apapun perbedaan itu
- Lebih meng-unggulkan science, pengetahuan sekuler, dan logika semata untuk menentukan benar atau salah.
- Memiliki toleransi yang tinggi terhadap segala penyimpangan agama dari kitab sucinya, karena tidak terlalu menganggap bahwa kitab suci adalah satu-satunya dasar fundamental berpijak.
- Tidak terlalu mendasarkan konsep berpikirnya dengan kitab suci dari agamanya, atau tidak terlalu “alkitabiah” walaupun mereka tetap mengakui adanya kebenaran di dalam kitab suci, tetapi kelompok ini juga menerima konsep dari filsafat-filsafat atau filosophy dari sumber-sumber non-agama.
- Terkadang mencoba untuk menafsirkan sendiri ayat-ayat Alkitab sesuai dengan sudut pandangan masing-masing untuk membenarkan konsep berpikirnya sendiri.
- Ada sebagian penganut paham ini yang bahkan tidak terlalu yakin bahwa kitab suci agamanya autentik dan dapat dipercaya sepenuhnya, atau kurang yakin jika kitab sucinya dapat dijadikan satu-satunya pedoman dasar, karena mereka menerima pedoman-pedoman lainnya selain kitab suci.
- Mereka tidak mempermasalahkan apabila terjadi proses “mengawinkan” atau “meleburkan” konsep agama dengan tradisi budaya (sinkretisme), kitab suci dengan filsafat dan philosophy dan berbagai ilmu pengetahuan dari berbagai sumber menjadi suatu konsep yang seolah-olah “berhikmat” dan bijaksana.

· Fanatic / Extreem (Frantic atau Frenzied)
---------------------------------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan Fanatic = “somebody who has extreme and sometimes irrational enthusiasms or beliefs, especially in religion“
- Agama dapat menjadi tembok yang mengelompokkan pengikutnya dalam satu kesatuan exlcusive, sehingga orang-orang yang berada di luar kelompoknya adalah kelompok sesat dan tidak perlu diperhitungkan, atau bahkan perlu dimusuhi, sedangkan kelompoknya adalah kelompok yang paling benar dan layak masuk ke “surga”.
- Secara umum kebanyakan umatnya percaya secara mutlak terhadap para pemimpin agamanya atau tokoh-tokoh agamanya, tanpa perlu menyelidiki secara pribadi apakah ajaran dari tokoh-tokoh mereka sudah benar-benar teruji kebenaranannya berdasarkan riset pribadi, melainkan hanya sekedar dengan tulus mengikuti perintah dari para pemimpinnya saja, dengan kata lain sangat fanatik terhadap kepercayaannya.
- Kebanyakan anggotanya senang menonjolkan semangat emosional kepada publik guna mendapat simpatik atau kesan bahwa mereka taat beribadah dan bahwa golongan agamanya harus dibenarkan dan dibela.
- Anggotanya mudah sekali terprovokasi oleh issue-issue yang bersifat memecah belah
- Lebih senang menjalankan ibadatnya secara lahiriah dan emosional ketimbang secara rasional.
- Senang menonjolkan tata cara ibadatnya dihadapan umum, untuk memperlihatkan kepada orang lain betapa “ber-agamanya” dan betapa alimnya mereka dibandingkan dengan orang-orang dari agama lainnya.
- Sangat kritis terhadap kelompok agama lain, jarang sekali yang mau kritis terhadap agamanya sendiri, dan terkadang terkesan lebih senang mencari-cari kesalahan orang ketimbang intropeksi terhadap diri sendiri atau terhadap kelompoknya.
- Apabila kelompoknya diperlakukan dengan cara tertentu yang mengakibatkan mereka tersinggung atau dirugikan, maka mereka tidak akan diam atau cepat memaafkan, namun cenderung responsif membalasnya dengan cara yang lebih ekstrim dan keras terhadap siapapun yang mengakibatkan kelompok mereka dirugikan.
- Para pemimpin dan anggotanya senang mengangkat dirinya sendiri menjadi hakim atas orang lain dengan dalil agama yang diyakininya.
- Terkadang sangat membela sesama anggotanya, meskipun anggotanya mungkin merugikan pihak lain, tetapi selama anggotanya bertindak sesuai dengan tata cara agamanya, mereka tidak perduli dengan penderitaan yang dialami oleh orang lain akibat dari tindakan anarkis salah satu kelompoknya yang didasarkan atas tata cara agamanya.
- Kadang-kadang dalam suatu situasi tertentu bisa meng-halalkan segala cara (walaupun cara tersebut dapat merugikan pihak lain) dengan dasar dalil yang berusaha dicari-cari ayat dari kitab sucinya untuk pembenaran tindakannya.
- Menjalankan ibadatnya dengan cara yang terkadang diluar akal manusia atau tidak rasional melainkan bersifat emosional tanpa akal sehat
- Kadang-kadang beberapa anggotanya rela mati demi agamanya, dan ironisnya rela membunuh orang juga demi agamanya (atau lebih tepat demi kepentingan pribadinya karena dengan menjalankan tindakan tersebut mereka yakin bahwa mereka akan masuk ke surga).

· Fundamental / Radikal (Dasar atau akar dari suatu prinsip)
-------------------------------------------------------------------------
Beberapa kamus mendefinisikan Fundamental atau Radical =
“relating to or affecting the underlying principles or structure of something” or “basic principle or element: a basic and necessary component of something, especially an underlying rule or principle” or “relating to or affecting the basic nature or most important features of something”
- Sangat percaya bahwa agama yang benar hanya ada satu, dan bahwa agama yang dianutnya itulah yang benar.
- Tidak setuju dengan konsep liberalism bahwa semua agama adalah jalan yang benar
- Berupaya untuk kembali mendasarkan praktek agamanya dengan kitab sucinya sebagai prinsip fundamental
- Berupaya untuk mencari kebenaran berdasarkan kitab sucinya
- Sangat giat melaksanakan ajaran agamanya dengan iman yang kokoh
- Sangat ber-iman dan yakin bahwa agamanya adalah benar dan agama yang lain adalah salah atau sesat.

Semua point yang saya jabarkan di atas hanyalah merupakan hasil analisa dan pandangan saya pribadi, belum tentu benar, terserah anda mau terima atau tidak, jika anda menyangkal dan menyanggah pendapat saya tersebut silahkan memberikan komentar yang dapat dibuktikan melalui fakta dan memiliki dasar kebenaran bahwa hasil analisa saya tersebut salah. Namun demikian point - point yang saya jabarkan tersebut merupakan fakta yang dapat anda temui di sekitar anda, silahkan buktikan sendiri, bahkan anda sendiri bisa merenungkan kira-kira anda memiliki pola berpikir/paradigma seperti apa. Atau mungkin anda merasa tidak satupun dari point tersebut di atas yang cocok dengan kondisi anda pribadi, namun bagaimanapun juga point-point tersebut secara garis besar memang terbukti mewakili kelompok tertentu dari masyarakat manusia dalam memandang agama atau kepercayaan. Timbul pertanyaan bagaimana semua pandangan tersebut di atas dapat “mengilhami” paradigma atau pola berpikir umat manusia terhadap agama sepanjang sejarah existensi manusia itu sendiri di atas bumi ini? jawabannya sangat kompleks, selain daripada berbagai latar belakang seseorang yang saya sebutkan sebelumnya, beberapa kondisi juga dapat menyebabkan hal tersebut terjadi, bisa karena Agama itu sendiri seolah-olah sudah tidak memiliki kekuatan atau telah kehilangan “power” atau “wewenang” terhadap pengikutnya. Bisa juga karena sepanjang sejarah para pemimpin agamanya telah bertindak munafik dalam arti tidak menjalankan ajaran agamanya sesuai dengan apa yang mereka perintahkan terhadap para umatnya. Bisa juga karena penderitaan yang dialami umat manusia sepanjang zaman sehingga mereka bingung dan tidak bisa menerima fakta bahwa jika memang ada oknum yang bernama Tuhan yang maha kuasa di atas sana mengapa Dia membiarkan penderitaan umat manusia di atas muka bumi ini seolah-olah Tuhan tidak pernah mau peduli atas segala penderitaan, kejahatan, bencana alam dan semua hal negatif yang menimpa umat manusia sepanjang sejarah keberadaan manusia di atas bumi ini. Namun demikian seharusnya jika memang kebenaran sejati itu ada, maka semua jawaban atas fakta dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam benak setiap insan manusia dapat terjawab. Mari kita merenungkan hal ini bersama-sama.

14 February 2007

Fakta Perbedaan Paradigma

Ketika timbul keadaan tertentu yang mengarah kepada suatu diskusi tentang agama atau kepercayaan diantara beberapa orang, maka bisa dipastikan akan muncul banyak sekali situasi, kondisi atau pendapat dan pandangan di antara tiap-tiap individu yang terlibat dalam diskusi tersebut. Saat ini telah begitu banyak mailing list atau group discussion dan situs-situs yang dirancang khusus untuk berkumpulnya para peminat dan pengamat agama-agama di dunia ini. Saya kadang memperhatikan di dalam beberapa forum diskusi (milis) ada yang cukup berbobot serta kritis, ada pula yang berisi obrolan tak bermutu dan cenderung hanya berupa ajang perdebatan sengit tak menentu yang bertujuan untuk menang debat saja.

Kelompok orang berdasarkan reaksi dan pandangan hidup
Dalam pengamatan saya selama ini memang ada begitu beragam reaksi orang-orang jika dihadapkan kepada diskusi tentang kepercayaan atau agama. Ada yang alergi jika berdiskusi tentang agama, ada yang tidak peduli dengan hal-hal apapun yang bersifat rohani, banyak orang yang lebih senang diskusi tentang politik, teknologi, ekonomi, manajemen dll, diskusi soal agama benar-benar dianggap tidak populer dan bahkan cenderung dianggap bodoh oleh beberapa orang, ada yang bersikap skeptis atau bahkan acuh tak-acuh terhadap agama dan lebih fokus pada hal-hal duniawi seperti mengejar karir dan harta kekayaan materi, ada yang atheis atau agnostic, bahkan ada yang sinis terhadap keberadaan agama, ada juga orang yang berprinsip bahwa agama tidak terlalu perlu dianut seseorang karena agama hanyalah label saja yang penting cukup berbuat baik dan bertingkah laku patut terhadap orang lain itu saja tidak harus beragama, ada yg takut terjadi perdebatan atau perbantahan jika berdiskusi dan mengatakan bahwa agama tidak perlu didiskusikan tidak perlu diperbandingkan ataupun diselidiki, ada yang mengatakan bahwa berdiskusi tentang agama sangat sensitif sifatnya, di sisi lain ada yang bersifat dogmatis terhadap ajarannya dan bahkan cenderung fanatik, ada juga yang pasrah menerima agama warisan yang telah dianut sejak lahir dari orang tuanya dan merasa bahwa agamanya tersebut tidak perlu lagi dikaji ulang atau diteliti kembali kebenarannya ataupun diperdebatkan, ada yang menggantungkan sepenuhnya iman dan kepercayaan mereka kepada pendetanya, pastornya atau biksunya, uztadnya sehingga tidak berani untuk didiskusiakan sebab tidak mempunyai modal pengetahuan sama sekali, andaikatapun mereka memiliki kitab suci namun itu hanya merupakan pajangan saja di atas rak buku, ada juga yang bersikap fanatisme buta, fundamentalistis & radikal, ada juga yang berpandangan liberal dan pluralism, beberapa berpandangan bahwa segala sesuatu bersifat relatif, menurut orang yang berpandangan ini tidak ada kebenaran absolute termasuk kebenaran agama, segalanya tergantung perspektif seseorang atau cara kita memandang, dan oleh karena itu tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, beberapa berpandangan bahwa dogma atau doktrin agama tidak perlu dikritisi atau diteliti kebenarannya, jangan “mengusik” keberadaan ribuan jenis agama di dunia ini biarkan masing-masing kepercayaan berjalan sendiri-sendiri tidak usah diselidiki kebenarannya, biarkan saja berjalan apa adanya.

Itulah situasi dan paradigma berpikir yang mungkin akan kita dapati dari berbagai macam orang apabila anda dihadapkan pada suatu diskusi agama, dan mungkin bisa jadi ada seribu satu macam situasi lain yang berbeda apabila kita terlibat dalam situasi tersebut. Manakah diantara pandangan-pandangan tersebut di atas yang benar-benar cocok? itu semua berpulang kepada anda masing-masing, pendapat adalah hak prerogatif seseorang silahkan anda putuskan sendiri pilihan anda, atau mungkin anda mengatakan bahwa tidak satupun di antara konsep yang disebutkan di atas anda pegang, yah silahkan juga. Sementara itu Jika kita lihat fakta lain yang lebih ekstrim dari sisi yang berbeda ada sekelompok orang yang bahkan rela mati demi agamanya, atau rela “mematikan” orang lain atau membunuh orang lain demi agamanya pula sehingga hal ini telah mengakibatkan banyak orang di dunia ini menjadi “terganggu” atau bahkan “takut” terhadap eksistensi dari banyaknya agama-agama yang saling bertikai satu sama lain.


Apa sebenarnya definisi dari agama?
Terjemahan dari agama dalam bahasa Inggris adalah "religion", sebuah kamus menjelaskan arti dari kata Religion: “religion is a beliefs and worship: people’s beliefs and opinions concerning the existence, nature, and worship of a deity or deities, and divine involvement in the universe and human life”, sedangkan arti kata worship adalah “treat somebody or something as deity: to treat somebody or something as divine and show respect by engaging in acts of prayer and devotion” (Microsoft® Encarta® Reference Library 2003. © 1993-2002 Microsoft Corporation). Jadi di dalam kata religion terkandung makna “pengabdian”, “penyerahan diri”, “pengorbadan diri” terhadap sesuatu, bisa terhadap satu oknum atau pribadi yang berkuasa seperti Tuhan (agama-agama monoteisme), atau bisa juga terhadap kekuatan alam atau dewa-dewa dan dewi-dewi (kepercayaan polyteisme). Memang tak dapat dipungkiri bahwa sepanjang sejarah eksistensi agama di dunia ini, tatacara dari ibadat agama-agama tersebut diatur oleh suatu lembaga atau organisasi, dan organisasi tersebut dijalankan dengan berlandaskan pada hukum-hukum yang digariskan secara fundamental di dalam kitab suci dari masing-masing agama tersebut. Di dalam tiap-tiap organisasi agama hampir selalu ada struktur hirarki kepemimpinan yang akan berperan dalam mengatur tatanan organisasi dalam mengurus tatacara ibadat bagi umatnya. Tidak sedikit organisasi agama yang melibatkan dirinya dengan organisasi politik guna bertujuan untuk mendapat dukungan dari pemerintahan negara. Agama seolah-olah "kawin" dengan politik dengan motivasi utk memperoleh wewenang dan kekuatan, itulah sebabnya dulu pernah muncul pernyataan dari pemerintah negara tentang agama yang "diakui" dan "tidak diakui" negara, setiap agama yang hanya berupaya untuk tunduk secara vertikal terhadap Tuhan sang pencipta tanpa melibatkan diri dengan politik negara akan dianggap tidak menghormati pemerintah dan oposisi sehingga masuk kategori agama tidak diakui negara, ironis memang, tapi itulah faktanya. Di sisi lain ada juga agama yg tidak memiliki organisasi, namun demikian apabila suatu agama tidak memiliki hirarki kepemimpinan dan organisasi tetap saja terdapat tokoh-tokoh cendikiawan atau guru-guru agama yang berkuasa dan bertanggungjawab untuk mengajarkan serta membimbing umatnya agar tetap dalam koridor hukum fundamental dari kitab sucinya, dan biasanya kebanyakan umatnya akan tunduk, respek dan mengikuti arahan sang tokoh atau guru agama tersebut. Itu semua adalah fakta yang kita bisa lihat sendiri dari eksistensi agama-agama di dunia ini.

Akhir kata timbul pertanyaan, apakah agama atau kepercayaan perlu didiskusikan? apakah agama perlu dikaji ulang? perlukah kita mendalami agama kita atau agama orang lain? perlukan kita mengkritisi agama kita maupun agama orang lain? tidakkah sebaiknya kita pasrah saja menerima agama yg sudah kita anut sejak lahir atau agama wariwan? apakah kebenaran absolute itu memang ada? tidakkah segala hal bersifat relatif? atau mungkin pertanyaan paling mendasar, apakah memang perlu beragama atau terikat dengan organisasi agama tertentu? mari kita merenungkan pertanyaan itu semua.