14 February 2006

Efek symbols & attribute agama

Beberapa waktu lalu saya makan di salah satu restaurant di daerah kelapa gading, tidak seperti biasanya kali ini saya dan teman-teman memilih restaurant “sundanese food”, kalau sebelum-sebelumnya kami biasa makan di restaurant Chinese yang lokasinya masih berdekatan dengan restoran sunda tersebut. Ada satu hal yang saya amati yaitu ada seorang tukang ngamen yang pernah saya lihat sebelumnya bernyanyi sambil main gitar di restoran chinese waktu itu dia menyanyikan lagu-lagu gereja agama kristen, namun kali ini dia bernyanyi di restoran sunda tetapi saya amati dia tidak lagi menyanyikan lagu-lagu gereja melainkan ada beberapa lagu yang bernuansakan lagu rohani umat Islam, seperti lagunya Aa Gym yg berjudul “jagalah hati”. Dalam hati saya agak tertawa geli juga dan merenung “ini tukang ngamen cerdik juga yah” dia sesuaikan jenis lagu-lagunya dengan pangsa pasar yang ada.

Tapi ada hal lain yang saya amati, yaitu para pengunjung restoran yang antusias memberikan tips kepada sang pengamen jika dia menyanyikan lagu-lagu sesuai dengan agamanya, jika tidak maka jangan harap si pengunjung restoran memberikan uang kpd si pengamen. Maka ini menjadi suatu latihan daya pengamatan bagi sang pengamen agar lebih cermat melihat kira-kira orang yang makan di restauran itu kebanyakan agamanya apa supaya dia bisa menyesuaikan lagu-lagunya dan dapat uang yang banyak, jadi motivasi utama sang pengamen sebenarnya bukanlah meng-agungkan Tuhan dengan lagu-lagu rohaninya melainkan untuk dapat mengeruk uang sebanyak-banyaknya melalui sarana “attribute” agama. Saya jadi teringat dengan peristiwa yang pernah saya baca di internet tentang bagaimana salah satu partai politik Kristen yang menggunakan attribute agama Islam untuk menarik simpatik dari umat beragama Islam agar mau mencoblos caleg dari partainya, demikian juga sebaliknya. Saya kadang merenung sepertinya saat ini attribute-attribute keagamaan benar-benar dapat digunakan sebagai kamuflase oleh orang-orang tertentu guna mencapai kepentingan pribadi, keuntungan materi, kekuasaan politik atau bisa lolos dari suatu pertikaian agama dll. Ada beberapa film di televisi yang saya tonton menggambarkan penjahat menyamar sebagai pastor atau pendeta dengan menggunakan stelan baju rohani pendeta lengkap dengan kalung salib besarnya serta memegang Alkitab di tangannya, tetapi ternyata di dalam alkitabnya itu sang pendeta menyelibkan senjata, itulah efek penggunaan symbols atau attribute. Ada semacam trend yang saat ini sedang mewabah yaitu kerohanian seseorang sering diukur atau dilihat dari simbol atau attribute keagamaan yang dipakainya ketimbang daripada perilaku atau karakter orang tersebut. Ada lagi peristiwa lainnya yang cukup mengejutkan saya pribadi ketika attribute atau simbol agama digunakan dengan cara yang tidak cocok oleh grup musik Dewa berdampak protes keras dari beberapa kelompok agama. Inilah dampak dari attribute atau simbol agama terhadap umat beragama, orang-orang cenderung "meng-Tuhankan" symbol ketimbang ajaran, perilaku, tingkah laku dan teladan dari umat beragama itu sendiri. Orang yang pakai tanda salib besar-besar baik sebagai kalung atau anting-anting belum tentu orang Kristen yang baik dan benar, ada banyak musikus dan penyanyi yang pakai anting salib, bahkan bintang film porno juga mengenakan tanda salib di tubuhnya tidak hanya berupa attribute kalung tetapi kadang berupa tatoo salib, demikian juga orang yang pakai jilbab belum tentu muslimah yang taat, sebab saya pernah nonton di TV seorang berjilbab ditangkap polisi karena membunuh anak majikannya. Tapi itulah yang terjadi attribute keagamaan telah dipakai oleh sebagian orang sebagai alat kamuflase untuk menutupi kemunafikannya. Itulah sebabnya beberapa waktu lalu pemerintah Perancis melarang siswa-siswi sekolah menggunakan symbol / attribute agama selama bersekolah, karena pemerintah Perancis sadar bahwa yang terpenting bukannya simbol tetapi kualitas seseorang dan simbol tertentu justru dapat menimbulkan perpecahan atau problematik tertentu. Coba anda renungkan siapa sebenarnya yang menciptakan simbol-simbol tersebut, apakah Tuhan atau manusia?

Di sisi lain ada situasi yang sangat mengenaskan sehubungan dengan penggunaan attribute kelompok agama, saya teringat dengan peristiwa kerusuhan bulan Mei’1998 di Jakarta, ketika orang-orang no-pribumi tokonya dibakar dan dijarah massa, pada saat itu banyak toko-toko mendadak ditulis “ini toko pribumi milik Haji Anu” dengan harapan tulisan itu akan membuat massa tidak membakar tokonya walaupun belum tentu toko tersebut miliknya seorang Haji yang pribumi. Hal yang sama terjadi ketika peristiwa kerusuhan antar etnis dan agama di ketapang, di sekitar gajah mada plaza. Mendadak pada waktu itu ada beberapa ibu-ibu yang keturunan chinese dan beragama non-Islam melepaskan attribute agamanya seperti kalung salib lalu menggunakan kerudung atau jilbab, dengan harapan mereka bisa lolos dari amukan massa. Timbul pertanyaan di benak saya pada waktu itu, sebrutal ini kah umat beragama sekarang sehingga orang bisa tega saling menyakiti dan bahkan membunuh hanya atas dasar attribute agama belaka?. Belum lagi peristiwa kerusuhan lainnya di Indonesia seperti peristiwa “Ambon berdarah” dulu yang amat sangat mengerikan, baik orang-orang Islam maupun Kristen kedua-duanya seolah-olah lupa dan bahkan tak mau peduli bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan maha pengasih dan penyayang yang secara logika tidak mungkin setuju dengan pembantaian keji demikian. Apakah agama tertentu memang mengajarkan untuk membenci agama lain yang tidak sesuai dengan agamanya?. Apakah Tuhan di atas sana juga setuju dengan kebencian atas dasar agama? Bukankah Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang? Tidakkah selayaknya umat beragama yang menyembah Tuhan maha pengasih dan penyayang juga mengasihi sesama umat manusia ciptaan Tuhan itu sendiri? ada satu kalimat dalam sebuah lagu kasidah “banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai”, lalu ada apakah gerangan? Mungkinkah Setan si Iblis sedang berkarya saat ini menggunakan Agama sebagai sarananya untuk menghancurkan peradaban umat manusia di bumi ini? Jika yang terakhir ini ternyata benar bersiaplah kita menghadapi kemungkinan perpecahan dan pertikaian umat manusia atas dalil agama selanjutnya di bumi ini. Silahkan anda merenungkan hal ini dalam-dalam, bagi yang mau merenung tentunya.

12 February 2006

Ada apa dengan Agama?

Seorang tokoh filsuf yang dulu pernah diagungkan oleh orang-orang atheis dan komunis pernah mengungkapkan suatu kalimat sehubungan dengan agama, dia mengatakan “Religion is the opium of the people” - Karl Marx (1818 - 1883) yang artinya bahwa “agama adalah candu masyarakat”, kalau kita benar-benar menyelidiki sejarah umat manusia sehubungan dengan tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, agama serta pola berpikir masyarakat, memang ungkapan Karl Marx ini seolah-olah memiliki dasar yang cukup masuk akal. Mengapa demikian? sepanjang sejarah hingga sekarang ini kecenderungan umat manusia dalam memeluk agamanya atau kepercayaannya seringkali bermotivasikan kepentingan diri sendiri ketimbang bermotifasikan pengabdian tulus tanpa pamrih kepada sang maha pencipta, sehingga agama memang seolah-olah seperti candu atau opium yang dapat meninabobokan seseorang ditengah-tengah segala macam penderitaan hidup. Coba saja kita kebanyakan agama yang mungkin mengajarkan bahwa apabila seseorang melakukan kebaikan maka dia nantinya akan masuk surga kemudian dapat menikmati segala jenis kenikmatan hidup di sana, sedangkan kalau seseorang melakukan kejahatan maka mereka akan menerima siksaan kekal di dalam api neraka, mereka akan disiksa hidup-hidup, dibakar, … dan mungkin segala bentuk penyiksaan lainnya yang sangat mengerikan (walaupun sebenarnya konsep ini jelas bertentangan dengan sifat Tuhan yang maha pengasih dan penyayang yang tidak pernah ingin menyiksa orang walaupun orang itu jahat, Tuhan lebih menginginkan orang jahat tersebut bertobat dari kejahatannya dan mendapat kesempatan untuk diselamatkan ketimbang untuk disiksa - beberapa agama lain memiliki konsep demikian). Ada fakta ironi yang dapat kita lihat dari sisi lain, misalnya ada beberapa oknum umat tertentu yang rela mati atau bahkan mematikan atau membunuh orang lain dalam aksi bom bunuh diri yang mereka sendiri menyebutnya dgn konsep jihad demi mendapatkan "tiket cepat ke surga". Coba kita kaji lebih dalam, jika tidak ada konsep surga dan neraka apakah orang-orang masih akan tetap mau tulus beribadat kepada Tuhan?. Fakta lainnya ada banyak sekali orang yang berpindah-pindah agama hanya karena ingin menemukan “pelarian” dari sebuah penderitaan, atau ingin mendapatkan suatu “pengakuan” jati diri semata ditengah-tengah suatu kemelut hidup. Saya ambil contoh sebut saja seorang yang sedang menderita penyakit akut yang tadinya beragama A, kemudian singkat cerita orang ini mendapat kesembuhan penyakit secara mukjizat dari seorang alim ulama beragama B, dapat ditebak orang yang mendapat kesembuhan tersebut akan dengan mudah berpindah agama dari agama A menjadi agama B karena dia telah mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya. Contoh kasus lain ada seorang yang beragama A sedang jatuh cinta dengan seorang wanita yang beragama B, cinta mereka sedemikian kuat sehingga hal ini akan membuat salah satu dari kedua pihak meningalkan agamanya demi mendapatkan cintanya, dengan kata lain agama hanyalah semacam “pengakuan” jati diri semata demi mendapatkan suatu tujuan yang diinginkan. Ada kondisi lain yang dapat kita temui di dalam masyarakat sehubungan dengan konsep berpikir mereka terhadap agama, saat ini agama seolah-olah menjadi semacam tembok yang mengelompokkan pengikutnya ke dalam satu kesatuan exlcusive….sama halnya seperti kesatuan etnis atau suku, nasionalisme atau kebangsaan. Kata “beragama” sudah sangat identik dengan ketaatan pada sebuah institusi atau organisasi agama ketimbang kepada nilai spiritual di dalam diri umatnya sehingga tak jarang ada orang yang tidak pernah menjalankan ibadatnya namun tetap membela institusi agamanya jika terjadi pertikaian antar umat beragama. Coba saya simulasikan hal ini agar anda dapat lebih memahami korelasinya, apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan suku anda atau kebangsaan anda? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika suku atau etnisnya dicela atau dikritik walaupun kritikan yang diberikan cukup beralasan. Tidakkah demikain halnya dengan agama? apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan agama atau kepercayaan kita? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika agamanya dicela atau dikritik walaupun mungkin kritikan yang diberikan cukup beralasan. Coba anda perhatikan berita-berita di televisi banyak orang tiba-tiba tampil anarkis untuk membela agamanya walaupun pada dasarnya belum tentu mereka menjalankan ibatnya secara konsekwen. Sepanjang sejarah peperangan umat manusia di bumi ini, cukup banyak yang didasari atas friksi antar suku atau antar bangsa. Begitu banyak perang-perang antar suku, perang-perang besar antar bangsa yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap komunitas kesukuan dan kebangsaan atau nasionalisme. Sama halnya seperti Nazi Hitler dulu yang pernah membantai jutaan orang hanya atas dasar kebanggan ras, demikianlah juga berkenaan dengan agama, ada banyak pertikaian dan peperangan atas nama agama disebabkan oleh karena kebanggaan dan exclusivistis terhadap kepercayaannya. Begitu banyak perang-perang antar agama atau mengatasnamakan agama yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap agama (salahsatu contoh sejarah perang salib). Umat beragama seolah-olah seperti suporter dari group sepak bola tertentu, sehingga sebagus apapun pemain sepak bola dari kelompok lain tidak akan dianggap, dan seringkali suporter sepakbola akan emosi dan marah besar jika pemain kelompok lawan dapat membuktikan bahwa pemain kelompoknya tidak becus bermain sepak bola. Ketimbang introspeksi diri suporter yang fanatik tidak akan bersedia menerima kekalahannya. Demikianlah juga halnya dengan umat beragama, katakanlah misalnya ada umat agama lain yang dapat membuktikan bahwa doktrin dari agamanya salah, seorang yang fanatik tidak akan mau menerima hal ini, dan cenderung akan emosi dan marah ketimbang rela untuk dialog secara terbuka. Nah hal-hal ini semua yang mungkin menyebabkan Karl Marx menulis bahwa “agama adalah candu masyarakat”. Orang-orang tidak lagi menjadikan agama itu sebagai “jalan hidup” atau “way of life” melainkan hanya sebagai attribute kelompok atau tanda pengenal saja atau cenderung sebagai pelarian belaka. Itulah sebabnya seringkali muncul kebanggaan-kebanggaan yang bersifat competitive atau bersaing dalam arti memvonis agama lain sesat dan menganggap bahwa agamanyalah yang benar. Ketimbang dengan rendah hati mau membuka diri dengan semangat kasih serta kebersamaan untuk mencari dan menggali kebenaran yang sejati, umat beragama lebih senang saling bersaing dengan menyatakan agamanya sajalah yang benar dan agama orang lainlah yang sesat. Kelompok-kelompok agama jarang mau dengan lapang dada membuka front diskusi secara bijaksana untuk saling tukar-pikiran satu sama lain guna mencari kebenaran. Oleh karena itu pula pemerintah republik Indonesia pernah membuat suatu istilah SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan) yang dapat menimbulkan perpecahan antara masyarakat. Dan memang demikianlah faktanya bahwa Suku, Agama, Ras dan Golongan dapat disejajarkan sebagai suatu penyebab utama perpecahan dan bahkan pertikaian umat manusia di bumi ini selain daripada faktor ideologi politik dan nasionalisme. Nah, bagaimana pandangan kita masing-masing sehubungan dgn hal ini?

10 February 2006

Sejarah Valentine's Day

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul dari Valentine's Day, namun pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Peringatan hari besar ini dirayakan untuk menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan, serta Pah (Tuhan dari Alam). pada saat itu digambarkan orang-orang muda (laki-laki dan wanita) memilih pasangannya secara diundi, kemudian mereka bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Dengan diikuti berbagai macam pesta dan hura-hura bersama pasangannya masing-masing.

Namun untuk lebih jelas dan terperinci mari kita lihat kutipan dari beberapa sumber sejarah yang dapat dipercaya. The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day : “Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.” kutipan lainnya menjelaskan "The origins of Valentine's Day trace back to the ancient Roman celebration of Lupercalia. Held on February 15, Lupercalia honored the gods Lupercus and Faunus, as well as the legendary founders of Rome, Romulus and Remus. In addition to a bountiful feast, Lupercalia festivities are purported to have included the pairing of young women and men. Men would draw women's names from a box, and each couple would be paired until next year's celebration. While this pairing of couples set the tone for today's holiday, it wasn't called "Valentine's Day" until a priest named Valentine came along. Valentine, a romantic at heart, disobeyed Emperor Claudius II's decree that soldiers remain bachelors. Claudius handed down this decree believing that soldiers would be distracted and unable to concentrate on fighting if they were married or engaged. Valentine defied the emperor and secretly performed marriage ceremonies. As a result of his defiance, Valentine was put to death on February 14. After Valentine's death, he was named a saint. As Christianity spread through Rome, the priests moved Lupercalia from February 15 to February 14 and renamed it St. Valentine's Day to honor Saint Valentine. What's Cupid Got to Do with It? According to Roman mythology, Cupid was the son of Venus, the goddess of love and beauty. Cupid was known to cause people to fall in love by shooting them with his magical arrows. But Cupid didn't just cause others to fall in love - he himself fell deeply in love. As legend has it, Cupid fell in love with a mortal maiden named Psyche. Cupid married Psyche, but Venus, jealous of Psyche's beauty, forbade her daughter-in-law to look at Cupid. Psyche, of course, couldn't resist temptation and sneaked a peek at her handsome husband. As punishment, Venus demanded that she perform three hard tasks, the last of which caused Psyche's death. Cupid brought Psyche back to life and the gods, moved by their love, granted Pysche immortality. Cupid thus represents the heart and Psyche the (struggles of the) human soul."
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998). The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998). Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri! Namun dari berbagai versi legenda tadi sejarah yang paling diterima oleh berbagai sumber publikasi sejarah adalah sebagai berikut:
>> NB: Dikutip dari berbagai sumber.<<