07 October 2006

Dilematis Antara Relative & Absolute

Pernahkah anda iseng - iseng mencoba mencocokkan waktu yang tertera pada jam tangan anda dengan semua jam tangan orang lain yang ada di kantor anda, atau diantara teman-teman anda yang lain? adakah yang persis sama waktunya? Atau kalau anda mungkin tidak pernah pakai jam tangan coba cocokkan jam di handphone anda dengan handphone teman-teman anda, apakah ada yang yang cocok waktunya secara detail (persis sama jam, menit dan detiknya). Saya berani mengatakan bahwa sangat sulit sekali untuk menemukan waktu yang persis sama antara jam kita dengan jam orang lain. Andaikata timbul pertanyaan “manakah jam yang benar dan akurat?” apakah kita bisa yakin bahwa jam kitalah yang benar sedangkan jam orang lain itu salah? Coba bayangkan ada jutaan bahkan mungkin milyaran jumlah jam tangan, jam dinding, jam handphone, jam komputer dan jam-jam lainnya di dunia ini yang tidak persis sama menitnya atau detiknya satu dengan yang lainnya. Namun demikian tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya ada standard waktu yang telah ditetapkan secara international untuk seluruh dunia sehingga setiap alat penunjuk waktu harus mencocokkannya agar mendapatkan waktu yang tepat sesuai standard. Akan tetapi kenyataannya setiap orang pasti akan berpegang terhadap waktu yang tertera di jam yang dipakainya tidak soal sesuai standard waktu atau tidak, bisa karena dia yakin bahwa jamnya benar sedangkan jam orang lain salah, bisa karena tidak begitu peduli, bisa juga karena tidak menemukan standard jam yang benar-benar cocok untuk dijadikan patokan waktu, bukan karena tidak ada standard waktu yang absolute melainkan karena kebanyakan orang yang malas mencocokkan jamnya dengan standard waktu tersebut, karena sebenarnya ada standard waktu yang baku yang telah ditetapkan sebagai sinkronisasi jam di dunia ini, tinggal berpulang ke kita masing-masing apakah kita mau mencocokkan atau tidak.

Seperti itulah kira-kira berkenaan dengan agama, ada begitu banyak agama dan sekte-sekte di dunia ini, dan bisa dikatakan bahwa ajaran atau doktrin dari setiap agama-agama tersebut tidak ada yang sama persis walaupun secara umum semua agama mengajarkan kebaikan namun jika dikaji secara detail pasti ada perbedaan doktrin di dalamnya (sama seperti jam-jam yang dikenakan semua orang di dunia ini yang tidak persis sama menit dan detiknya). Setiap orang yang menganut agama dan sekte tertentu pasti dengan yakin akan mengatakan bahwa agamanya yang benar sedangkan agama yang dianut orang lain salah dan sesat. Namun demikian di sisi lain ada juga orang yang memiliki pandangan liberal dengan bernalar bahwa kebenaran agama adalah bersifat relatif tidak absolute, mereka mengatakan bahwa semua agama sama-sama menuju jalan yang benar. Bagaimana menurut pendapat anda? Jika dibuat semacam survey terhadap orang-orang di dunia ini tentang agama yang dianutnya pasti akan begitu beragam pendapat dan pandangan hidup dari mereka. Mungkin ada yang apatis atau acuh-tak-acuh, skeptis atau ragu-ragu, fanatik, fundamental, pasrah mengikuti agama leluhur atau faktor keturunan, liberal, moderat, dan masih banyak lagi paradigma orang-orang di dunia ini jika terkait dengan agama. Akan tetapi bagaimanapun juga, tidakkah berkenaan agama sepantasnyalah hanya ada satu standard kebenaran yang ditetapkan okeh sang pencipta Tuhan yang maha kuasa, jika Tuhan memang pribadi yang maha tertib dan maha teratur?

Ada satu hal yang menjadi bahan renungan saya pribadi yang ingin saya share kepada anda. Mungkinkah semua agama itu benar? Tidakkah semestinya hanya ada satu saja agama yang benar? jika memang ada Tuhan mungkinkah Dia tidak menetapkan standard yang absolute berkenaan dengan agama mana yang benar sebagai satu-satunya sarana untuk dapat beribadat kepadanya? Sebagai ilustrasi, pemimpin manusia saja memiliki standard protokoler apabila ada tamu yang hendak menghadap kepadanya, katakanlah misalnya seorang raja. Mungkinkah raja tersebut akan menerima tamunya yang tidak hormat masuk ke istana raja dengan memanjat tembok istana menggunakan tali dan memakai topeng agar tidak dikenal? Sudah pasti pengawal raja akan menangkap tamu yang tidak hormat tersebut bukan? Coba kita perhatikan hal lain misalnya di dalam perusahaan ada yang namanya SOP (Standard Operational Procedure), ada juga yang namanya ISO (International Standard Organization). Orang menetapkan suatu standard adalah agar supaya segalanya berjalan dengan tertib, teratur, sistematis dan tidak kacau balau. Manusia saja memiliki standard yang baku, tidakkah selayaknya Tuhan sang pencipta yang maha cerdas memilik standard yang jelas dan baku juga yang ditetapkan kepada umat manusia untuk dapat beribadat kepadanya? kita bisa lihat dari ciptaanNya, ciptaan Tuhan jelas sekali me-representasikan sifat dan karakter dari penciptanya yaitu Tuhan, semua ciptaanNya maha teratur, maha rapih dan maha tertib, saya ambil beberapa contoh saja misalnya tata surya kita, ada sembilan planet yang diketahui oleh para ahli antariksa mengelilingi matahari secara teratur mengikuti garis lingkaran orbit didalam tata surya dan urutan orbit tersebut tertata dengan begitu rapih, salah satu planet di tata surya tersebut adalah bumi tempat kita hidup, bumi mengelilingi matahari pada orbit yang sama dari dulu sampai sekarang dan tidak pernah melenceng sedikitpun dari orbitnya, kita bisa bayangkan jika bumi posisi orbitnya mendekat atau menjauh dari matahari sedikit saja maka akan berdampak sangat serius pada iklim dan cuaca di bumi, atau andaikata bumi mengelilingi matahari dengan kecepatan yang tidak menentu maka jumlah hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun akan kacau balau.

Saat ini ada begitu banyak kekacauan dan ketidak teraturan dalam hal agama baik dari segi doktrin maupun umat, bahkan agama telah menjadi sarana perpecahan, pertikaian bahkan pembantaian. Banyak orang membunuh atas nama agama, menyakiti orang lain karena doktrin yang diajarkan agamanya. Saya yakin hanya masalah waktu saja Tuhan masih belum bertindak menghakimi kekacauan dalam agama-agama di dunia ini. Tidakkah Tuhan di atas sana menginginkan hanya ada satu saluran unik untuk dapat sampai kepadanya dalam hal ibadat dan doa? Sebagaimana halnya dengan ilustrasi jam tadi bahwa sebenarnya ada standard waktu yang telah ditetapkan yang bisa menjadi patokan dari jam yang dikenakan oleh orang-orang di dunia ini yang memang mau mencocokkan waktu jamnya. Dalam dunia komputer ada yang dinamakan dengan istilah
Atomic Clock, dimana setiap orang yang ingin agar jam di komputer mereka uptodate sinkron dengan standard jam dunia maka mereka bisa otomatis mencocokkannya dengan server di atomic clock, bagi anda yang ingin mencocokkan waktu di jam komputernya bisa click di sini.

Kalau boleh saya jabarkan dan simpulkan secara logika akal budi mengenai agama maka kita sebenarnya dihadapkan kepada pilihan-pilihan sebagai berikut, khususnya jika anda sedang mencari kebenaran sejati, pilihan tersebut adalah sbb:

1. Semua agama benar
2. Semua agama salah
3. Ada banyak agama yang benar dan ada banyak agama yang salah (50% : 50%)
4. Semua agama benar dan hanya satu agama saja yang salah
5. Hanya ada satu agama yang benar sedangkan semua agama lainnya salah

Jika anda dihadapkan kepada pilihan di atas, yang mana yang akan saudara pilih? Kalau saya pribadi saya sudah pasti akan memilih pilihan nomor 5. “Hanya ada satu agama yang benar”. Karena saya yakin bahwa Tuhan sang pencipta pastilah maha tertib dan maha teratur, tidak mungkin Dia membiarkan kekacauan di dunia ini karena agama, hanya masalah waktu saja bahwa pada saatnya nanti Tuhan akan bertindak pada hari penghakiman (Armagedon atau Kiamat) dan akan menunjuk satu agama yang benar tersebut sebagai satu-satunya yang terbukti menjadi sarana unik sebagai saluran ibadat kepadaNya. Agama apakah itu??? saya mengundang anda untuk mencari, menggali dan menyelidikinya jika anda memang merasa belum menemukannya dan anda memang berniat mencari kebenaran sejati, namun jika anda sudah yakin betul bahwa agama yang anda anut sekarang ini adalah agama yang benar maka kita hanya tinggal menunggu hari penghakiman saja di mana Tuhan kelak akan menentukan dan memberikan bukti kepada semua umat manusia di bumi ini berkenaan agama mana sebenarnya yang layak dan berkenan kepadaNya.

07 September 2006

Harapan Permanen atau Semu?

Tanggal 2 September 2006 yang lalu, saya ikut dalam jajaran panitia seminar sehari Stem Cell yang diadakan di Aula FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Saya kebetulan ditempatkan oleh ketua panitia dalam seksi dokumentasi sebagai kameramen lengkap dengan peralatan kamera handycam merk Sony dll layaknya seperti seorang wartawan, hal ini menguntungkan buat saya karena memungkinkan saya untuk menyimak acara-demi acara presentasi dengan baik. Berbeda dengan panitia lainnya yang mondar-mandir mengurus sarana dan prasarana baik sebelum maupun selama acara berlangsung sehingga mereka tidak bisa menyimak acara dengan baik seperti saya.

Selama acara presentasi berlangsung ada banyak hal yang cukup menarik buat saya, seraya para profesor, doktor dan para ahli di bidang kedokteran, farmasi, kimia dan biologi molekuler menyajikan bahan presentasinya secara bergantian, saya terus menyimak dengan seksama sambil membidikkan lensa kamera video saya. Selain pembicara dari FKUI, tampil pula pembicara-pembicara dari FK UGM Yogyakarta, FK UNAIR Surabaya dan pembicara tamu dari Singapura.

Inti dari semua presentasi tersebut adalah adanya suatu harapan di masa depan bagi para praktisi medis dalam mengatasi berbagai jenis penyakit dengan teknologi medis alternatif dalam hal ini Stem Cell. Memang sepertinya hal ini merupakan suatu harapan dan perkembangan medical science yang spektakuler. Saya ingat apa yang dikatakan Dr.Boenyamin PhD. salah satu presenter, beliau mengatakan bahwa stem cell masuk dalam kategori medical science generasi ke 5.

1. Herbal Medicine (pengobatan alamiah)
2. Synthetic Medicine
3. Antibiotic (Penicilin) Medicine
4. Biotechnology Medicine
5. Stem Cell Medicine

Pada saatnya nanti teknologi medis stem cell ini akan sanggup menggantikan metoda pegobatan cara lama dengan metoda baru, yaitu meng-injeksi sel aktif ke dalam organ tubuh yang sakit (misalnya jantung atau otak) melalui pembuluh darah, sehingga sel yang di-injeksi tersebut akan beregenerasi dan memperbaiki sel-sel yang rusak di dalam organ-organ tubuh manusia. Hanya saja dalam hati saya ironis sekali, para pembicara rata-rata sudah lanjut usia, rata-rata berumur diatas 60 tahun. Saya bertanya dalam hati apakah mereka masih hidup apabila kelak teknologi stem cell ini berhasil diterapkan di Indonesia? Karena salah satu presenter yang sudah berusia lebih dari 70 tahun menjelaskan bahwa teknologi stem cell tidak hanya bisa digunakan untuk pengobatan saja melainkan juga bisa digunakan untuk menghambat proses penuaan (Anti Aging Medicine) maka muncul pertanyaan berikutnya apakah para pakar-pakar tersebut yang nota bene sudah pada lanjut usia nantinya masih sempat menikmati teknologi stem cell itu? inilah yang saya sebut dengan ironi.

Saya bertanya lagi dalam hati apakah stem cell pada saatnya kelak memang benar akan menjadi harapan gemilang yang bersifat permanen? hampir semua pakar dan para ilmuwan sangat mengandalkan science dan bahkan cenderung mendewakan ilmu pengetahuan, memang dalam kadar tertentu teknologi medis dapat membantu umat manusia mengatasi berbagai jenis penyakit dengan cara yang canggih tapi jangan lupa konsekuensinya, teknologi medis canggih sudah pasti sangat mahal harganya sehingga tidak semua orang dapat menikmatinya kelak, disamping itu masih banyak aspek-aspek etis dan hukum yang terkait, sebab ada juga teknologi stem cell yang melanggar norma-norma etis dan kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. dr. MK Tadjudin ketua Pokja Stem Cell Komisi Bioetika Nasional, isu penelitian stem sel dapat ditinjau dari segi ilmiah, etika dan hukum. Menurutnya bila stem cell ini digunakan sebagai regenerasi atau therapeutic diperbolehkan. Yang tidak diperbolehkan adalah membuat cloning (suatu individu hidup yang utuh).

Karena itu saya berpikir pada akhirnya semua alternatif pengobatan modern apapun sifatnya semu, tidak dapat memecahkan alasan mendasar umat manusia, semua orang toh tetap saja akan sakit, usia tua dan akhirnya mati. Andaikatapun para ahli dapat memperpanjang umur orang ada beberapa problem lain yang akan terjadi, apakah orang yang panjang umurnya itu akan hidup senang di tengah-tengah dunia yang semrawut ini, penuh dengan problem politik, sosial, peperangan, bencana alam, polusi udara, air dan tanah serta problematik lainnya yang notabene tidak dapat dihindari oleh orang yang kaya raya atau para ahli sekalipun, sejarah peradaban manusia sudah membuktikan bahwa dunia ini semakin rusak di bawah kendali manusia. Disamping itu apa enaknya umur panjang jika teman-teman sebaya dia rata-rata sudah meninggal sehingga dia akan menjadi orang lansia yang kesepian tidak ada teman sebaya lagi selain itu anak-anak serta family sudah sibuk masing-masing dan tidak begitu peduli terhadapnya.

Jadi bagaimanapun juga manusia pada akhirnya tetap membutuhkan sumber kekuatan yang bersifat adimanusiawi atau istilah lain supranatural (dalah 'bahasa agama' dikenal dgn istilah Tuhan sang pencipta) untuk pemecahan problematik secara permanent. Tidak ada seorang ilmuwan pun di dunia ini yang sanggup meniadakan penyakit atau menahan kematian atau memperpanjang umur manusia dalam kadar unlimited. Tidak ada seorang pakar pun yang sanggup memperpanjang umur manusia. Ujung-ujungnya manusia pada akhirnya toh akan bermuara kepada pencarian akan kekuatan adimanusiawi tersebut dalam mengatasi segala jenis problem umat manusia secara permanen khususnya dalam topik ini yaitu problem penyakit, usia tua dan kematian, anda percaya atau tidak waktu sajalah kelak yang akan membuktikannya.

17 July 2006

Dilematis skala mayoritas dan minoritas

Salah satu kecenderungan manusia yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita adalah mengikuti suara terbanyak, opini publik, trend terkini, suara dari kelompok mayoritas, dan skala jumlah pengikut. Apabila seseorang dihadapkan kepada suatu situasi tertentu yang mengharuskannya untuk memilih atau memutuskan suatu hal maka konsep mengikuti "suara orang kebanyakan" adalah suatu paradigma yang seolah-olah wajib sifatnya. Skala kuantitatif dari suatu pendapat atau opini lebih disukai dan dipercaya sebagai indikator kebenaran. Anda mungkin pernah menonton acara kuis Who Wants to Be a Millionaire di RCTI asuhan Tantowi Yahya. Dalam acara kuis tersebut ada tiga bantuan bagi peserta jika pertanyaan yang diajukan sulit dijawabnya, salah satu bantuan yang cukup menjebak menurut saya adalah "Ask the audience". Para hadirin dipersilahkan memberikan jawaban, dan peserta dipersilahkan apakah mau mengikuti jawaban terbanyak dari hadirin ataukah tetap ingin menjawab sendiri. Saya pernah menonton beberapa kali ada peserta yang begitu yakin mengandalkan "Ask the audience" namun faktanya ternyata jawaban terbanyak dari hadirin tersebut justru salah, malahan jawaban audience yang cuma sedikit itu yang benar.

Contoh lain misalnya ada banyak sekali orang yang pakai produk Handphone merk tertentu yang populer, karena orang ramai-ramai beli HP merk tertentu maka semua ikut-ikutan atau istilah lainnya latah, sampai-sampai dulu pernah ada istilah “handphone sejuta umat”, hanya sedikit orang yang berani tampil beda masih bertahan dengan merk kurang populer lainnya. Contoh lainnya lagi saya pernah iseng-iseng masuk ke sebuah restoran pinggir jalan di daerah tertentu yang pengunjungnya sangat banyak, bahkan cenderung antri, tapi ironisnya ketika saya coba ternyata makanannya biasa saja tidak seenak yang dibayangkan, bahkan ada satu restoran yang pengunjungnya sedikit menurut saya jauh lebih enak masakannya. Tapi apa mau dikata memang faktanya “keramaian” sering kali menjadi indikator bagi kebanyakan orang dari pada kualitas. Di sisi lain apabila suatu produk tertentu dihindari banyak orang maka orang akan ikut-ikutan menghindari product tersebut, sebut saja misalnya mobil merk tertentu yang dulu sempat dijadikan Taxi, opini public langsung mendiskreditkan mobil tersebut sebagai mobil kelas bawah yang kurang layak dibeli oleh "orang berduit" padahal perusahaan Taxi tersebut memakai mobil merk tersebut sebagai armada Taxinya pasti atas dasar bahan pertimbangan segi kualitas mobil, misalnya karena mesinnya handal, onderdilnya kuat dan tahan lama, bahan bakarnya irit dan lain sebagainya. Hanya orang-orang idealis saja yang walaupun "berduit" atau kaya masih bertahan memakai mobil merk tersebut karena standard kualitas walaupun opini public telah mencap merk tersebut sebagai "mobil Taxi" yang tidak pantas dipakai orang-orang "berduit" waktu itu.

Saya melihat kecenderungan manusia memang demikian, mengandalkan suara terbanyak, skala mayoritas, opini public, karena orang cenderung merasa aman kalo ramai-ramai. Alasannya mungkin karena kebanyakan orang tidak mau repot-repot exploring mencari tahu sendiri kualitas suatu produk tertentu, dan lebih mengandalkan suara terbanyak ketimbang harus repot cari tahu sendiri. Atau ada juga alasan lain yang menyebabkan demikian, ada beberapa orang yang memang tidak mau ambil resiko “tampil beda”, bayangkan saja ilustrasinya kalau misalnya dalam suatu komunitas dari 1000 orang yang suka sama buah durian cuma kita sendiri saja yang tidak suka bahkan muntah kalo makan durian. Biasanya orang yang “berbeda” dari kebanyakan akan dicap aneh, unik dan segala cap negatif lainnya. Itulah sebabnya para marketing yang membuat iklan di TV menggunakan trend tersebut. Apakah anda pernah simak salah satu iklan dari Simpati di TV dengan motto “ada 15 juta orang memilih simpati mengapa anda harus berbeda?" dalam adegan iklan tersebut diperlihatkan ada salah satu suporter bola yg salah tempat duduk. Kenapa iklan tersebut tidak mengatakan misalnya “ada 15 juta orang memilih simpati karena kualitas dan bukan tanpa alasan". Karena memang tidak peduli alasan apapun yang menyebabkan 15 juta orang memilih simpati, yang penting adalah jumlah quantitas pemakai simpati tersebut, itu saja sudah cukup menjadi indikator bahwa produk tersebut sukses di pasaran. Dengan kata lain kebanyakan orang mengukur mutu suatu produk hanya melalui skala quantitas pemakai produk tersebut. Padahal pada kenyataannya ukuran tersebut tidaklah cukup untuk menilai kualitas produk tertentu, dibutuhkan ujicoba dan penelitian yang seksama, oleh karena itulah khusus untuk produk makanan dan obat-obatan yang notabene dikonsumsi oleh manusia, pemerintah membentuk suatu Badan independent yang dinamakan Dirjen POM (Pengawasan Obat dan Makanan) agar semua produk tersebut benar-benar teruji dan standar pengujian tersebut tidak pandang bulu, produk yang telah sukses beredar di pasaran dan diminati banyak orang juga tak lolos dari ujian.

Sekarang coba kita kaji sehubungan dengan eksistensi Agama? tidakkah anda juga melihat hal yang sama terjadi dalam hal agama? Kualitas agama lebih di-indikatorkan atas dasar jumlah pengikut ketimbang daripada kebenaran ajarannya. Itulah sebabnya kelompok agama baik agama induk maupun sekte-sekte berlomba-lomba mengumpulkan sebanyak mungkin pengikut, anggota atau penganut. Parameter benar tidaknya suatu agama diukur dari banyak jumlah pengikutnya di seluruh dunia, apabila suatu kelompok agama jumlah pengikutnya sedikit atau sekelompok golongan minoritas maka bisa dipastikan kelompok tersebut akan dikucilkan, tidak diperhitungkan atau bahkan bisa dicap agama sesat. Maka tidakkah seharusnya agama juga diselidiki kebenarannya dan diawasi ajarannya agar tidak menyimpang dari kitab suci dari agama itu sendiri? hal ini tidak kalah penting dengan produksi makanan yang perlu diawasi oleh dirjen POM, sebab kepercayaan dan iman terhadap agama tertentu juga menyangkut soal keselamatan. Apakah skala pengikut mayoritas dapat menjadi indikator benar salahnya suatu hal? coba renungkan ilustrasi berikut: apakah jika korupsi sudah merupakan suatu kebiasaan atau tradisi dan banyak orang yang melakukannya maka hal itu menjadi benar? atau apakah hubungan seks pranikah yang notabene telah menjadi suatu kondisi yang lumrah dilakukan oleh kebanyakan remaja dengan demikian menjadi perbuatan yang benar? Tentu tidak bukan. Tetap saja ada standar moralitas yang baku yang semestinya dipakai sebagai bahan acuan.

Kalau kita lihat sejarah agama-agama besar di dunia ini dulunya juga adalah kelompok minoritas yang pengikutnya juga tidak diperhitungkan, catatan dalam kitab suci mencatat bagaimana Nuh (beberapa agama menyebut Nabi Nuh) dan keluarganya saja yang selamat dari penghukuman Tuhan berupa banjir besar atau air bah, hanya yang masuk ke dalam bahtera Nuh saja yang selamat. Demikian juga bagaimana hanya Lot dan kedua putrinya saja yang selamat dari pembinasaan Tuhan terhadap kota Sodom dan Gomorah. Dan bagaimana pada awalnya hanya 12 orang saja yang menjadi murid Yesus (nabi Isa) di tengah-tengah banyak orang Yahudi panganut agama Judaisme dan para ahli taurat orang Farisi yang menentang mereka. Kalau kita simak sejarahnya para tokoh perintis agama tersebut berani tampil beda di tengah-tengah suatu golongan mayoritas dan di tengah-tengah tatanan yang sudah mapan.

Bagaimana dengan kita, apakah kita juga mengukur benar-tidaknya suatu agama hanya dari skala kuantitas jumlah pengikut semata? sebenarnya kalau kita kaji lebih jauh hanya situasi dan kondisi tertentu dalam sejarah saja yang menjadikan suatu wilayah terbagi dalam kelompok mayoritas dan minoritas, jika kita tinggal di kota Roma mayoritas penduduknya beragama Katolik, kebetulan kita tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, jika kita tinggal di India maka mayoritas penduduknya beragama Hindu, jika kita tinggal di negara China maka mayoritas penduduknya beragama Budha, demikian seterusnya. Maka skala mayoritas hanyalah faktor wilayah saja bukan indikator benar tidaknya suatu agama. Maka apakah kita lebih cenderung ikut-ikutan dengan suara terbanyak atau golongan mayoritas belaka? atau apakah kita lebih senang memutuskan bagi diri kita sendiri mana yang benar dan salah setelah melalui banyak penyelidikan, pencarian dan riset pribadi walaupun resikonya kita bisa tampil berbeda dari kebanyakan orang? Kalau saya pribadi memilih yang terakhir yaitu mencari tahu dan menggali sendiri kebenaran ketimbang menggantungkan kebenaran dipundak para pendeta/pastur/uztad/biksu dan para pemimpin agama dari golongan mayoritas, seolah-olah dengan pasrah membiarkan mereka yang memutuskan benar-salahnya segala hal terhadap diri saya.

21 June 2006

Bahaya dari suatu Propaganda

Salah satu cara paling mudah untuk menebar kebencian terhadap orang lain atau terhadap sekelompok orang atau terhadap suatu organisasi tertentu adalah dengan propaganda. Sebuah kamus mendefinisikan propaganda: “information that is spread for the purpose of promoting some cause”. Pada saat suatu propaganda telah tersebar luas dalam masyarakat maka akan segera tercipta suatu “opini public”, ada beberapa definisi lain yang menguraikan arti dari propaganda. Jika dikaji lebih seksama propaganda kebanyakan merupakan issue atau fitnah daripada fakta karena motivasinya adalah kepentingan tertentu bisa kepentingan kelompok, politik, sosial, agama dan kepentingan-kepentingan lain. Namun terlepas dari apakah propaganda tertentu adalah suatu fitnah belaka ataupun didasarkan atas fakta kebenaran, cara ini sangatlah efektif untuk mendiskreditkan dan membungkam kegiatan sekelompok orang atau organisasi tertentu.
Ada berbagai hal yang melatarbelakangi suatu propaganda, bisa latarbelakang politik, etnis, sosial, agama dan lain sebagainya. Di zaman dulu cara menyebarluaskan propaganda biasanya dengan memajang poster-poster, gambar-gambar karikatur, pamflet-pamflet di jalan-jalan layaknya kampanye partai politik, bisa juga menggunakan berbagai media massa seperti majalah, surat kabar atau koran, televisi, dll. Kalau di zaman sekarang ini dimana teknologi informasi dan komunikasi sudah semakin canggih ada cara yang sedang umum dipakai di dunia IT khususnya di media internet yaitu dengan menyebar issue yang bersifat Hoax melalui cara-cara seperti Spam Email dan lewat situs-situs internet. Kebanyakan orang yang menerima informasi dari media internet cenderung langsung percaya tanpa berniat untuk mencari tahu lebih jauh fakta kebenaran yang sesungguhnya dari suatu informasi. Jarang sekali orang yang berniat dengan rajin mencari tahu fakta kebenaran dari suatu informasi. Dulu di Jerman ketika partai Nazi berkuasa dibawah kepemimpinan Adolf Hitler (Tahun 1939-1945) Nazi mempropagandakan kebencian terhadap ethnic Yahudi. Kebencian yang amat sangat terhadap ras Yahudi di wilayah Jerman ini disebarluaskan melalui poster-poster, gambar-gambar karikatur dan informasi berita melalui berbagai media massa, serentak rakyat Jerman menjadi sangat benci terhadap rakyat Yahudi pada waktu itu . Semua kekuatan pemerintahan Jerman dari mulai tentara, polisi, dan kekuatan politik lainnya serentak berupaya untuk memusnahkan etnis Yahudi di setiap wilayah Jerman. Tidak soal anak-anak, orang lanjut usia, wanita hamil asalkan berasal dari ras Yahudi semuanya dibantai dengan sadis hanya karena kebencian ras yang telah dipropagandakan oleh Nazi. Di Negara Afrika juga pernah terjadi pembantaian etnis antara suku Hutu dan Tutsi, di Indonesia juga pernah terjadi pembantaian sengit antara suku Dayak dan Madura, dulu di Indonesia pernah juga dipropagandakan suatu pemusnahan total terhadap anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) sampai-sampai petani dan buruh yang tidak mengerti politik juga disembelih berikut keluarganya, anak-anak dan istri mereka hanya karena mereka terdaftar sebagai anggota PKI, padahal notabene yang melakukan kudeta terhadap pemerintah adalah para petinggi Angkatan Bersenjata, yang menggunakan kekuatan militer seperti Cakrabirawa dan para perwira militer lainnya serta elite politik untuk memberontak. Ada banyak lagi contoh lain sepanjang sejarah kehidupan manusia bagaimana propaganda tertentu dapat mengakibatkan situasi yang sangat berbahaya dalam tatanan kehidupan peradaban manusia.
Bagaimana dengan propaganda terhadap suatu kelompok agama? Hal ini bahkan dapat mengakibatkan suatu situasi yang lebih berbahaya lagi ketimbang hanya atas dasar ras atau ethnic karena para pembunuh mengatasnamakan Tuhan dalam tindakannya. Cara paling mudah mempropagandakan kebencian terhadap kelompok agama adalah dengan memberi julukan agama sesat. Sejarah mencatat bagaimana dulu Paus Katolik mengejar-ngejar kaum Protestanism dengan legitimasi menghakimi atas nama Tuhan. Sejarah mencatat tentang Inkwisisi Katolik, dalam bahasa Inggris Inquisition (penyiksaan dan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh pemimpin Katolik terhadap para bidah / kelompok orang yang dianggap sesat seperti kaum protestan dan lain-lain di zaman dulu), Sebuah kamus lain mendefinisikan propaganda sebagai berikut: “Psychological images and rhetoric developed to specifically persuade the masses to a particular point of view. Propaganda is usually seen as a form of political and/or religious advertisement.” Sejarah mencatat bahwa inkwisisi yang dilancarkan oleh gereja katolik terhadap protestanism maupun kalangan tertentu yang menentang adalah untuk meredam hal-hal yang membahayakan kedudukan gereja katolik. Ada banyak tokoh-tokoh reformasi Kristen yang dianiaya dan dikejar-kejar, seperti John Huss, Arius, John Wycliff, Willam Tyndale, Martin Luther, Pengikut protestan banyak yang menghadapi pengadilan yang kejam hanya karena mereka berani menelanjangi kebobrokan pemimpin agama kristen dan karena ketidak-sesuaian ajaran mereka dengan apa yang diajarkan oleh ajaran katolik, Ketika pemimpin katolik menganiaya kelompok Kristen Protestan, orang-orang Katolik tidak merasa tindakannya itu salah, bahkan mereka merasa bahwa tindakannya adalah atas nama Tuhan dan demi menegakkan kebenaran Tuhan. Yang sangat mengenaskan adalah tokoh-tokoh reformis tersebut dibunuh hanya karena menerjemahkan alkitab dari bahasa Ibrani, Aramaik dan Yunani kedalam bahasa Inggris. Tokoh-tokoh tersebut dibakar hidup-hidup beserta Alkitab terjemahan mereka. Coba bayangkan kalau dulu tidak ada tokoh-tokoh seperti mereka, kita tidak akan dapat membaca Alkitab dalam banyak terjemahan seperti sekarang ini, dengan adanya banyak terjemahan Alkitab kita dapat mengerti apa isi yang tertulis di dalamnya.
Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa propaganda memang dapat mendiskreditkan kelompok agama tertentu, di wilayah Timur Tengah bentrokan antara Islam Sunni dan Islam Syiah sangat "berdarah" karena adanya propaganda dari masing-masing pemimpin kelompok tersebut, kedua kelompok tersebut saling membunuh dan membakar mesjid dari masing-masing kelompok. Di Indonesia kita pernah mendengar bagaimana kelompok Islam Ahmadiyah yang ditentang habis-habisan oleh kelompok Islam lainnya, sampai-sampai mesjid mereka dirusak, dilempari batu dan pengikutnya juga dianiaya karena adanya fatwa sesat. Kelompok agama lainnya misalnya yang menamakan dirinya Islam Liberal, kelompok ini ditentang keras oleh kelompok Islam mayoritas karena tulisan-tulisan mereka yang bersifat reformatif dan kritik terhadap Islam yang sudah mapan, dan kedepannya pun sepertinya mereka akan terus ditentang. Belum lama ini juga ada kelompok sekte yang menamakan dirinya Sekte Eden dengan pemimpinnya Lia Aminudin juga serang oleh massa dan ditangkap oleh aparat kepolisisan dan digiring ke penjara, jadi tidak hanya masyarakat umum yang dapat bertindak dengan kekerasan, bahkan aparat juga bisa melakukan tindakan keras seperti tadi. Walaupun ada beberapa alasan yang mendasari aparat untuk menindak kelompok agama tertentu namun bukankah alangkah baiknya mengedepankan dialog dan tukar pikiran daripada mengedepankan propaganda yang akan mendiskreditkan dan memojokkan kelompok tertentu dan bahkan dapat memancing tindakan anarkis dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

UUD pasal 29 ayat 1 dan 2 mengatakan bahwa hak azazi paling dasar seseorang adalah mempercayai agamanya sesuai dengan imannya, (berdasarkan kepada Bab XI tentang Agama pasal 29 UUD'45 yang berisikan, 1. Negara berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.), bahkan di India ada sekelompok orang yang menyembah tikus dan lembu saja tidak dianiaya oleh pemerintahnya selama tidak melakukan tindakan kriminal dan merusak. Saya tidak mengatakan bahwa semua sekte agama itu benar dan baik, memang ada sekte agama yang aneh, nyentrik bahkan sangat menyesatkan, tetapi yang saya kritik adalah cara mengatasi hal tersebut, andaikata pemerintah dan kaum ulama atau para cendikiawan agama mau menyadarkan "orang-orang sesat" tersebut tidakkah lebih bijak kalau dilakukan dengan cara persuasif dan dialog terbuka yang bersifat edukatif, informatif serta interaktif, bukankah kaum cendikiawan itu artinya orang-orang yang berilmu lalu mengapa tidak gunakan ilmu pengetahuan untuk diskusi dan tukar pikiran guna memutuskan kebenaran yang sejati, lain halnya kalau sekte tersebut melakukan tindakan anarkis dan kriminal, kalau demikian maka penguasa berhak menindak tegas mereka. Dulu juga pernah terjadi penganiayaan atas sekelompok agama Kristen Saksi-Saksi Yehuwa yang ditekan dan pengikutnya ditangkap atas tuduhan-tuduhan tertentu, pemerintah juga melarang organisasi ini di Indonesia karena desakan mayoritas denominasi Kristen, kelompok Saksi-Saksi Yehuwa ini dituduh oleh para pemimpin agama Kristen sebagai penyebar ajaran sesat, padahal jika kita membaca dengan seksama di situs resmi lembaga ini, apa yang sebenarnya mereka Percayai dan ajarkan berasal dari Alkitab yang juga dipercayai oleh seluruh pengikut agama Kristen. Sesuai dengan nama kelompok mereka Kristen Saksi-Saksi Yehuwa, mereka bersaksi tentang siapa itu Allah Yehuwa dan mengapa kebenaran tentang nama Yehuwa yang tertulis dalam Alkitab sepanjang sejarah telah dihilangkan dan ditutupi oleh para pemimpin agama Kristen, mereka juga menyingkapkan kebenaran bahwa Tuhan itu Esa bukan Tiga atau Tritunggal sesuai fakta tertulis dalam firman Alkitab dan sejarah kekristenan. namun kelompok mereka malah didiskreditkan karena berusaha menyingkapkan fakta-fakta tersebut. Itulah dampak berbahaya yang dapat ditimbulkan oleh sebuah propaganda. Adalah lebih baik mengedepankan dialog yang bersifat ilmiah secara intelektual dan logis untuk mencari kebenaran sejati ketimbang menyebarkan issue dan propaganda yang dapat menghancurkan intelektualitas manusia dan peradaban masyarakat, mengapa tidak buka forum diskusi terbuka diantara para cendikiawan agama jika terdapat ketidak-sesuaian pendapat diantara masing-masing sekte. Atau misalnya bikin forum debat terbuka dengan dasar saling menghargai pendapat kelompok lain yang minoritas untuk mencari kebenaran sejati.
Sekarang bagi kita masyarakat umum timbul pertanyaan. Apakah kita cenderung terlalu cepat percaya kepada propaganda tertentu ataukah kita lebih bijak dan smart menggunakan akal pikiran serta logika kita untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya ketimbang dengan gampangnya diprovokasi dan dipengaruhi untuk mempercayai propaganda tertentu yang ternyata dibaliknya ada unsur fitnah dan kepentingan tertentu? di sinilah potensi intelektualitas seseorang diuji.

23 May 2006

Standarisasi Tertutup

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang dokter Nefrologi (ahli penyakit ginjal) dalam pertemuan perbincangan seputar proyek pengembangan Hospital Information system. Sebenarnya topik utama perbincangan adalah seputar pembuatan software IT untuk Medical Records khusus pasien penyakit Ginjal, karena spesialisasinya saya memang adalah consultant dan software engineer di bidang Hospital System dan saya juga ikut dalam jajaran pengurus IKCC / Indonesia Kidney Care Club maka saya dipercaya untuk membangun aplikasi system tersebut. Namun yang ingin saya tulis di sini bukanlah tentang proyek tersebut melainkan tentang salah satu topik pembicaraan yang berhubungan dengan kebenaran yang tertutup selama ini dikalangan awam tentang Cuci darah (Hemodialisa) bagi para penderita penyakit ginjal.

Dokter tersebut mengatakan bahwa standard cuci darah di Indonesia masih dibawah standard international. Hampir kebanyakan penderita penyakit ginjal di Indonesia saat ini mengetahui bahwa cuci darah cukup dilakukan sebanyak 2X seminggu saja. Ternyata standard itu diterapkan di Indonesia hanya karena mempertimbangkan biaya cuci darah yang cukup mahal, sehingga untuk orang-orang di Indonesia yang pendapatan perkapitanya masih jauh dibawah negara-negara berkembang lain biaya untuk cuci darah merupakan beban yang sangat berat untuk ditanggung. Akan tetapi rupanya cuci darah yang ideal dan efektif seharusnya 3X seminggu seperti yang memang diterapkan sebagai standard di luar negeri. Perbedaan standard ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan penderita dan harapan perpanjangan hidup bagi sang pasien. Ironisnya perbedaan standard cuci darah tersebut kurang disosialisasikan kepada pasien-pasien Ginjal di Indonesia, sehingga tingkat pengetahuan para pasien juga rendah. Dilematis memang karena beberapa dokter yang saya tanya pernah mengatakan bahwa hanya ada tiga pilihan bagi seorang penderita selama selama sisa hidupnya: 1.Cuci Darah plus pengobatan lain (Pilihan mutlak kalau mau tetap hidup), 2.Transplantasi organ ginjal (jika punya uang banyak), 3.Berdoa sambil nunggu mukjizat (jika nggak punya uang). Sebagai informasi biaya sekali cuci darah berkisar Rp. 500.000,- maka jika cuci darah sesuai standard dalam sebulan adalah (3 x 500.000) x 4 = Rp. 6.000.000,-

Nah persoalannya jika pilihan No.1 diputuskan, itu artinya haruslah sesuai standard yang ideal agar supaya hasil yang diharapkan juga maksimal. Namun berhubung karena standard di Indonesia cukup dilakukan 2X seminggu (yang seharusnya 3X seminggu) maka tingkat kesuksesan dan perpanjangan hidup si pasien juga tidak optimal. Itulah sebabnya angka kematian karena penyakit ginjal di Indonesia cukup tinggi. Memang pilihan kembali dihadapkan kepada para pasien, apakah mau ambil terapi cuci darah 2X seminggu dengan harga lebih murah namun beresiko ataukah ambil terapi cuci darah 3X seminggu dengan harga yang lebih mahal tetapi hasilnya bisa lebih maksimal dan significant.

Namun persoalan yang masih mendasar menurut saya adalah sehubungan dengan kebenaran tentang standard cuci darah tersebut. Sudah seharusnya informasi itu disosialisasikan oleh para praktisi medis kepada seluruh penderita penyakit ginjal dan orang awam. Jangan menutupi kebenaran hanya agar para pasien tetap bisa cuci darah walaupun tidak sesuai standard, hanya agar pemasukan uang bagi para praktisi medis atau para dokter dan rumah sakit bisa tetap berkesinambungan (business oriented).

18 May 2006

Selamat tinggal Ayahku terkasih

Tanggal 15 mei 2006 jam 22:45, ayah saya akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, setelah beberapa bulan keluar-masuk rumah sakit karena gagal Jantung. Almarhum ayah saya meninggal di rumah setelah seminggu keluar dari RS.Jantung Nasional Harapan Kita. Saya menyaksikan proses perjuangan almarhum untuk tetap hidup dan terus menarik nafas seraya selang tabung oksigen dipasang dihidungnya, namun ternyata itulah perjuangan terakhirnya di dunia ini, almarhum ternyata tidak kuat lagi bahkan untuk menghirup oksigen dan akhirnya meninggal di kamar tidurnya di samping saya. Selesai sudah perjuangan almarhum ayah saya (Drs. Sounggilon Gultom) dalam mengarungi kehidupannya yang cukup panjang dan penuh dengan lika-liku, asam-garam serta suka-duka kehidupan. Malam itu juga saya memutuskan untuk membawa jenazah ke rumah duka RS.Cikini, dengan pertimbangan agar para pelayat khususnya family dan kerabat dekat lebih mudah datang ke lokasi yang strategis di tengah kota. Besoknya pada tanggal 16 mei 2006 sekitar jam 15:20 sore ayah saya dimakamkan di TPU Pondok Rangon Cibubur, setelah sebelumnya dilakukan acara ceremonial pelepas Jenazah dari rumah duka dan ucapan belasungkawa dari semua family, kerabat dll. Selamat tinggal 'guruku', 'pembimbingku', 'sahabatku' dan ayahku terkasih.

12 April 2006

Problematik Moralitas

Beberapa waktu yang lalu dan mungkin juga sampai saat ini masih ramai diperbincangkan khususnya oleh para blogger tentang RUU-APP dari pemerintah yang sebenarnya mungkin bermaksud baik guna menjaga moralitas rakyat Indonesia agar selalu berada dalam koridor etika moral yang baik. Namun banyak sekali terjadi pro-kontra di mana-mana ada yang menolak ada yang setuju, yang cukup menarik adalah adanya kelompok yang menolak kedua-duanya (menolak RUU-APP dan juga menolak Pornografi itu sendiri), bahkan istri mantan presiden Gusdur ikut dalam demo tersebut. Saya jadi ingin mencoba mengulas dari perspektif lain. Saya melihat Rancangan UU APP atau konsep-konsep lain apapapun yang terkait dengan unsur agama secara implisit sepertinya telah menunjukkan kegagalan institusi agama itu sendiri dalam menjaga moralitas umatnya. Urusan moralitas itu sebenarnya idealnya bukanlah tanggungjawab pemerintah, melainkan tanggungjawab individu orang terhadap Tuhannya melalui mediasi institusi agama dan kitab suci sebagai landasan fundamental berpijak. Institusi agama seolah-olah telah kewalahan menjaga moralitas dan etika umatnya sehingga perlu meminta bantuan dari pemerintah politik, karena pemerintahlah yang punya kuasa untuk menekan dan memaksa rakyatnya melakukan peraturan tertentu, sedangkan insitusi agama seolah-olah hanyalah media penyuluhan belaka yang sepertinya tidak punya kendali hukum untuk “memaksa” umatnya mengikuti kaidah-kaidah tertentu yang diajarkan oleh agama tersebut.
Mari kita coba breakdown apa saja sih yang seharusnya menjadi tugas pemerintah Indonesia saat ini. Ternyata ada begitu banyak sekali yang memang masih perlu dibenahi, seperti problem ekonomi, devaluasi, inflasi, problem infrastruktur (listrik, telekomunikasi, air bersih, jalan-jalan aspal yang rusak berat, kemacetan lalulintas), antisipasi bencana alam (banjir, gempa bumi, gunung merapi), problem buruh dan pengusaha, problem pendidikan, problematik politik, pertikaian antar etnis dan antar kelompok, pemberantasan korupsi, peningkatan angka kejahatan dan korupsi, lemahnya supremasi hukum, dan mungkin masih banyak hal lain lagi. Mungkinkah pemerintah sanggup mengurusi problem moralitas sedangkan problem-problem tadi saja sampai saat ini masih morat-marit? Saya pribadi agak ragu, mohon maaf para penguasa apabila kata-kata saya ini menyinggung anda, kritikan saya ini sebenarnya berdasar dan bersifat membangun. Pada saat suatu konsep atau kepentingan institusi agama tertentu telah masuk dalam environtment politik negara, maka kekuatan agama itu sebagai media spiritual telah mengalami degradasi dan bahkan bisa hilang sama sekali. Wahai "agama" dimanakah kekuatanmu? Menurut saya idealnya institusi agama tidak pantas campur aduk dengan kepentingan politik atau urusan politik. Pemerintah hanya bisa membantu dari segi penegakan hukum (seperti tindak pidana dan perdata), tanggung jawab menjaga moral dan etika masyarakat semestinya diemban oleh institusi agama dengan para pemimpinnya seperti uztad, pendeta, pastor, biksu dll sebagai sumber teladan, informasi dan penyuluhan, tentunya berlandaskan kitab suci dari agamanya masing-masing.
Ironisnya lagi penegakan hukum di negara kita ini saja sudah terpuruk, hukum bisa dibeli dan dimanipulasi. Para penguasa politik yang korup dibiarkan bebas merajalela. Demikian juga dengan institusi agama itu sendiri, Kita lihat ada banyak sekali bukti-bukti dimana bahkan para pemimpin agama sendiri ada yang tidak memberikan teladan atau contoh moral yang baik. Ada tokoh-tokoh agama yang kawin-cerai, berzinah dan tindakan amoral lainnya, beberapa bahkan memanfaatkan wewenang di dalam institusi agama untuk meraih keuntungan materi dari umatnya. Nah sekarang timbul pertanyaan besar, bagaimanakah mungkin moralitas umat dan rakyat dapat dijaga dan diatur jika supremasi hukum saja sudah parah dan para pemimpin negara serta tokoh-tokoh agama juga tidak memberikan teladan yang baik dari segi moral? Sebagai contoh bagaimana mungkin seorang ayah dapat memerintah anaknya jika sang ayah tidak memberikan teladan dan bertindak munafik, pasti anaknya tidak akan respek terhadap ayah demikian, demikian juga dengan para penguasa dan tokoh-tokoh agama yang tidak memberikan teladan baik kepada umatnya akan menjadi suatu preseden yang buruk. Jadi menurut saya yang harus dibenahi saat ini adalah moralitas para pemimpin politik dan pemimpin agama terlebih dahulu, serta menegakkan supremasi hukum dan supremasi kaidah hukum agama itu sendiri, barulah setelah itu sukses turun ke rakyat dan umat.
Ada fenomena lain yang terjadi jika melihat butir-butir dari undang-undang tersebut, seolah-olah hanya perempuan sajalah yang selalu menjadi obyek sasaran atau bidikan hukum apabila ada problematik moralitas. bagaimana dengan laki-laki? Tidakkah seharusnya laki-laki juga perlu lebih diarahkan oleh ajaran agama untuk lebih menjaga nafsu birahinya terhadap perempuan?. Istilahnya dengan kata lain bahkan pelacurpun tidak akan menjajakan dirinya jika tidak ada laki-laki yang datang. Apabila ada kejahatan pemerkosaan mengapa hanya perempuan yang diarahkan untuk hati-hati, mengapa para laki-laki yang hidung belang tersebut tidak diajarkan dan diarahkan oleh "kekuatan" agama untuk tidak melakukan pemerkosaan? tidakkah itu adalah tanggungjawab dari para cendikiawan agama dengan institusinya untuk menyadarkan umatnya khususnya para laki-laki hidung belang? atau mungkinkah para lelaki hidung belang tersebut sudah malas ke mesjid, ke gereja dan tempat ibadat lain karena mereka sendiri melihat banyak kemunafikan di dalam agama dan tidak menemukan kebenaran sejati di dalam agama?
Itu sama halnya ilustrasinya dengan larangan dari para cendikiawan agama agar restaurant tidak buka pada saat bulan puasa, andaikan buka tidak boleh terlihat dari luar. Mengapa? tidakkah para ulama percaya bahwa umatnya yang telah dibekali ajaran agama sanggup untuk menahan nafsu ditengah-tengah banyak tantangan? Tidakkah lebih efektif apabila yang berpuasa itulah yang sebaiknya diajar untuk berlatih menahan nafsu makan pada saat bulan puasa walaupun ada banyak restaurant yang jualan? Kalau orang hanya mau berpuasa jika tidak ada tantangannya berpuasalah di kutub utara atau di hutan belantara yang notabene nggak ada restaurant yang jualan. Tidakkah pahalanya akan lebih besar jika menjalankan ibadah ditengah-tengah tantangan? Ada beberapa pertanyaan yang saya baca di media internet, apakah mungkin ada sesuatu dibalik ini semua? apakah mungkin ada beberapa organisasi agama yang memang menggunakan tunggangan politik untuk kepentingan kelompoknya. Sehingga pada suatu waktu tertentu kelompok itu dapat menguasai paradigma atau "pola berpikir dan bertindak" dari masyarakat khususnya di Indonesia yang sangat majemuk ini, sesuai dengan konsep berpikir kelompok tersebut, seperti yang pernah terjadi di Afganistan di bawah penguasa Taliban dulu, konon ceritanya penguasa Taliban melarang perempuan menonton televisi apalagi bioskop, dilarang menggunakan make-up yang pakai kutex kuku akan dipotong jarinya, perempuan dilarang menyetir mobil, perempuan dilarang berfoto, perempuan harus pakai cadar yang hanya terlihat matanya saja, dilarang juga mendengar musik-musik khususnya dari barat. Apa yang terjadi pada waktu larangan-larangan tersebut diterapkan di Afganistan? rakyat banyak yang menderita siksaan dan penderitaan khususnya kaum perempuan, mereka menjalankannya hanya karena takut dicambuk bukan karena tulus ingin menjalankan peraturannya, dan banyak yang ingin memberontak namun takut, sampai akhirnya sebuah organisasi perempuan berani muncul dan bersuara, nama organisasinya adalah Revolutionary Association of the Women of Afghanistan (RAWA) - www.rawa.org. Apakah nuansa semacam itu yang akan terjadi di Indonesia kelak apabila penguasa mulai campurtangan dalam urusan moralitas rakyatnya? who knows.........

02 March 2006

Obyektifitas

Obyektifitas saat ini memang merupakan suatu hal yang sangat jarang kita temui dan sangat sulit untuk diterapkan di dalam berbagai corak kehidupan. Contoh kecil saja apa reaksi anda jika anak anda atau ayah anda atau salah satu dari anggota keluarga anda berbuat jahat dan terpaksa berhadapan dengan aparat pengadilan, biasanya kebanyakan orang akan tetap membela sanak saudaranya walaupun telah melakukan tindakan kriminal. Ikatan persaudaraan lebih kuat daripada fakta kebenaran sehingga walaupun faktanya saudara kita bertindak jahat kita cenderung untuk tetap membelanya secara subyektif, inilah yang sering disebut dengan istilah Nepotisme. Contoh lain bagaimana reaksi anda jika negara kita dihina oleh negara lain dengan sebutan sebagai negara paling korup dan paling bobrok di dunia, beberapa orang yang berjiwa nasionalis tidak akan terima dan tersinggung apabila bangsanya dihina atau dikritik walaupun kritikan tersebut beralasan, apalagi kalau yang mengkritik itu adalah negara tertentu yang memang sedang dibenci oleh kebanyakan orang Indonesia. Tidak soal apakah ungkapan tertentu tersebut memang benar dan beralasan karena notabene di Indonesia korupsi, kolusi dan nepotisme memang telah berurat berakar dan cukup beralasan jika negara kita dijuluki demikian. Tetapi seberapa banyak orang Indonesia yang mau berpikir obyektif dan mau introspeksi diri sehingga bersedia menerima dengan rendah hati kritikan dari pihak luar? Inilah yang menjadi persoalan.

Beberapa waktu lalu saya membaca artikel di surat kabar Kompas dan beberapa harian surat kabar lainnya yang mengulas tentang sepak terjang dari seorang milyarder keturunan Yahudi bernama George Sorosh yang menentang invasi Israel ke palestina. Bahkan Sorosh juga mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan, ia akan mengeluarkan uang jutaan dollar untuk menjegal George W. Bush agar tidak menjadi presiden Amerika Serikat lagi. Dia mengatakan bahwa pemerintahan Bush sangat berbahaya bagi terciptanya perdamaian antara Israel & Palestina, khususnya dan di timur tengah pada umumnya. Suatu fakta yang cukup menarik buat saya, sebab Sorosh adalah seorang Yahudi yang seharusnya membela bangsa Israel dan Amerika yang membantu bangsanya, namun sungguh suatu tindakan yang kontroversial dia menentang Amerika serikat yang notabene membantu rakyat Yahudi di Israel dalam misi menguasai Palestina padahal Israel merupakan tanah tumpah darahnya sendiri. Terlepas dari apa motivasi sebenarnya dari Sorosh dalam hal ini yang saya soroti adalah sisi keberaniannya menyatakan pendapat yang berbeda dari opini publik. Di sisi lain saya jadi teringat dengan Film “Schindler List” yang menceritakan sejarah nyata (true story) tentang seorang berkebangsaan Jerman dan juga tokoh partai Nazi bernama Oscar Schindler yang menyelamatkan ribuan orang Yahudi sehingga tidak dibantai oleh kekejaman Nazi Hitler di kamp-kamp konsentrasi pada tahun 1939-1945 dimana pada waktu itu Hitler mempropagandakan suatu genosida (pembantaian etnis) terhadap orang-orang Yahudi di Jerman. Schindler pada waktu itu benar-benar menonjol karena dia adalah tokoh terhormat di partai Nazi dan juga seorang pengusaha kaya namun dia membela rakyat Yahudi yang notabene sangat dibenci oleh orang-orang dari partai Nazi itu sendiri.

Kedua orang ini George Sorosh dan Oscar Schindler merupakan tokoh yang menurut saya dalam kadar tertentu telah sukses menerapkan obyektifitas. Mereka berdua berani melihat suatu kasus dengan fair tanpa melibatkan subyektifitas. Hal yang sama juga saya amati berkenaan dengan agama, Ada beberapa reforman Kristen jaman dahulu yang berani melawan “arus” dengan mengkritisi ajaran para pemimpin Gereja Kristen walaupun mereka adalah orang Kristen misalnya Arius, John Huss, John Wycliff, William Tyndale dan Martin Luther, dll. Orang-orang tersebut adalah para tokoh cendikiawan Kristen namun berani menentang kesalahan para pemimpin agama Kristen. Namun di sisi lain kita dapat melihat fakta bahwa sepanjang sejarah ada banyak juga orang yang telah membabi-buta membela institusi agamanya tanpa mau sedikitpun dikritik oleh pihak lain walaupun kritikan tertentu beralasan dan bersifat membangun. Ini yang disebut dengan fanatisme buta, orang seperti ini tidak akan mau menerima kritikan apapun dari pihak lain sebab orang fanatik menganggap bahwa hanya kelompok dia sajalah yang benar sedangkan kelompok lainnya sesat dan selain itu pikirannya sudah ditutup rapat-rapat dari konsep luar apapun yang bertentangan dengan konsep kelompoknya. Ini yang disebut oleh pepatah “katak dalam tempurung” sebutan untuk orang yang tidak pernah mau membuka diri secara comprehensive terhadap hal-hal diluar konsep yang telah dia miliki. Sebenarnya konsep membuka diri tidaklah berarti menerima begitu saja konsep diluar kita, mempelajari hal tertentu bukan berarti setuju dengan hal tersebut, sebagai contoh misalnya kita belajar tentang sejarah agama-agama animisme penyembah berhala kan itu tidak berarti bahwa kita menerima dan mengikuti agama animisme tersebut, tetapi tujuannya adalah agar kita tahu fakta sejarah tentang agama-agama animisme. Demikian juga dengan fakta sejarah tentang kelemahan tertentu dari para tokoh agama yang adalah manusia biasa yang tidak sempurna, hal itu tidak akan melemahkan kedudukan Tuhan sang maha kuasa. Alkitab Injil bahkan mencatat sejarah kelemahan dari seorang Rasul yang terkenal dikalangan umat Kristen yaitu Rasul Petrus yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali ketika Yesus ditawan dan hendak dibunuh. - Markus 14:66-72. Selain itu Alkitab juga mencatat sejarah tentang kegagalan raja Daud yang diurapi Tuhan yang belakangan berbuat zinah dengan istri orang dan bertindak kejam - 2 Samuel 11:2-27. Demikian juga ketika nabi Musa berbuat salah tidak memuliakan Allah di hadapan orang Israel melainkan mengatakan bahwa Musa yang mengeluarkan air dari bukit Meriba bukan Tuhan. Bilangan 20:1-12. Dan bagaimana raja Salomo atau Sulaiman memiliki istri banyak ada 700 istri dan 300 gundik dan belakangan meninggalkan Allah dan menyembah berhala - 1Raja-Raja 11:1-10. Jadi sebenarnya kesimpulannya apapun kegagalan yang pernah dilakukan hamba-hamba Tuhan para Nabi dan para Rasul, itu sama sekali tidak akan mempengaruhi atau mengurangi kredibilitas kemahakuasaan dari Tuhan sang pencipta yang maha kuasa, tidakkah demikan menurut anda. Jadi janganlah kita “men-Tuhankan” Nabi atau Rasul yang notabene adalah manusia biasa, melainkan “Tuhankanlah” sang pencipta yang maha kuasa, Allah yang bertahta di Surga. Oleh karena itu berpikiran obyektif lebih bijaksana dan masuk akal ketimbang subyektif, sebab hali ini akan membuat kita lebih bisa mengendalikan diri dengan smart dan lebih dewasa dalam menanggapi segala hal yang tidak ideal di dunia ini. Selamat merenung sambil membaca artikel ini secara obyektif juga.

14 February 2006

Efek symbols & attribute agama

Beberapa waktu lalu saya makan di salah satu restaurant di daerah kelapa gading, tidak seperti biasanya kali ini saya dan teman-teman memilih restaurant “sundanese food”, kalau sebelum-sebelumnya kami biasa makan di restaurant Chinese yang lokasinya masih berdekatan dengan restoran sunda tersebut. Ada satu hal yang saya amati yaitu ada seorang tukang ngamen yang pernah saya lihat sebelumnya bernyanyi sambil main gitar di restoran chinese waktu itu dia menyanyikan lagu-lagu gereja agama kristen, namun kali ini dia bernyanyi di restoran sunda tetapi saya amati dia tidak lagi menyanyikan lagu-lagu gereja melainkan ada beberapa lagu yang bernuansakan lagu rohani umat Islam, seperti lagunya Aa Gym yg berjudul “jagalah hati”. Dalam hati saya agak tertawa geli juga dan merenung “ini tukang ngamen cerdik juga yah” dia sesuaikan jenis lagu-lagunya dengan pangsa pasar yang ada.

Tapi ada hal lain yang saya amati, yaitu para pengunjung restoran yang antusias memberikan tips kepada sang pengamen jika dia menyanyikan lagu-lagu sesuai dengan agamanya, jika tidak maka jangan harap si pengunjung restoran memberikan uang kpd si pengamen. Maka ini menjadi suatu latihan daya pengamatan bagi sang pengamen agar lebih cermat melihat kira-kira orang yang makan di restauran itu kebanyakan agamanya apa supaya dia bisa menyesuaikan lagu-lagunya dan dapat uang yang banyak, jadi motivasi utama sang pengamen sebenarnya bukanlah meng-agungkan Tuhan dengan lagu-lagu rohaninya melainkan untuk dapat mengeruk uang sebanyak-banyaknya melalui sarana “attribute” agama. Saya jadi teringat dengan peristiwa yang pernah saya baca di internet tentang bagaimana salah satu partai politik Kristen yang menggunakan attribute agama Islam untuk menarik simpatik dari umat beragama Islam agar mau mencoblos caleg dari partainya, demikian juga sebaliknya. Saya kadang merenung sepertinya saat ini attribute-attribute keagamaan benar-benar dapat digunakan sebagai kamuflase oleh orang-orang tertentu guna mencapai kepentingan pribadi, keuntungan materi, kekuasaan politik atau bisa lolos dari suatu pertikaian agama dll. Ada beberapa film di televisi yang saya tonton menggambarkan penjahat menyamar sebagai pastor atau pendeta dengan menggunakan stelan baju rohani pendeta lengkap dengan kalung salib besarnya serta memegang Alkitab di tangannya, tetapi ternyata di dalam alkitabnya itu sang pendeta menyelibkan senjata, itulah efek penggunaan symbols atau attribute. Ada semacam trend yang saat ini sedang mewabah yaitu kerohanian seseorang sering diukur atau dilihat dari simbol atau attribute keagamaan yang dipakainya ketimbang daripada perilaku atau karakter orang tersebut. Ada lagi peristiwa lainnya yang cukup mengejutkan saya pribadi ketika attribute atau simbol agama digunakan dengan cara yang tidak cocok oleh grup musik Dewa berdampak protes keras dari beberapa kelompok agama. Inilah dampak dari attribute atau simbol agama terhadap umat beragama, orang-orang cenderung "meng-Tuhankan" symbol ketimbang ajaran, perilaku, tingkah laku dan teladan dari umat beragama itu sendiri. Orang yang pakai tanda salib besar-besar baik sebagai kalung atau anting-anting belum tentu orang Kristen yang baik dan benar, ada banyak musikus dan penyanyi yang pakai anting salib, bahkan bintang film porno juga mengenakan tanda salib di tubuhnya tidak hanya berupa attribute kalung tetapi kadang berupa tatoo salib, demikian juga orang yang pakai jilbab belum tentu muslimah yang taat, sebab saya pernah nonton di TV seorang berjilbab ditangkap polisi karena membunuh anak majikannya. Tapi itulah yang terjadi attribute keagamaan telah dipakai oleh sebagian orang sebagai alat kamuflase untuk menutupi kemunafikannya. Itulah sebabnya beberapa waktu lalu pemerintah Perancis melarang siswa-siswi sekolah menggunakan symbol / attribute agama selama bersekolah, karena pemerintah Perancis sadar bahwa yang terpenting bukannya simbol tetapi kualitas seseorang dan simbol tertentu justru dapat menimbulkan perpecahan atau problematik tertentu. Coba anda renungkan siapa sebenarnya yang menciptakan simbol-simbol tersebut, apakah Tuhan atau manusia?

Di sisi lain ada situasi yang sangat mengenaskan sehubungan dengan penggunaan attribute kelompok agama, saya teringat dengan peristiwa kerusuhan bulan Mei’1998 di Jakarta, ketika orang-orang no-pribumi tokonya dibakar dan dijarah massa, pada saat itu banyak toko-toko mendadak ditulis “ini toko pribumi milik Haji Anu” dengan harapan tulisan itu akan membuat massa tidak membakar tokonya walaupun belum tentu toko tersebut miliknya seorang Haji yang pribumi. Hal yang sama terjadi ketika peristiwa kerusuhan antar etnis dan agama di ketapang, di sekitar gajah mada plaza. Mendadak pada waktu itu ada beberapa ibu-ibu yang keturunan chinese dan beragama non-Islam melepaskan attribute agamanya seperti kalung salib lalu menggunakan kerudung atau jilbab, dengan harapan mereka bisa lolos dari amukan massa. Timbul pertanyaan di benak saya pada waktu itu, sebrutal ini kah umat beragama sekarang sehingga orang bisa tega saling menyakiti dan bahkan membunuh hanya atas dasar attribute agama belaka?. Belum lagi peristiwa kerusuhan lainnya di Indonesia seperti peristiwa “Ambon berdarah” dulu yang amat sangat mengerikan, baik orang-orang Islam maupun Kristen kedua-duanya seolah-olah lupa dan bahkan tak mau peduli bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan maha pengasih dan penyayang yang secara logika tidak mungkin setuju dengan pembantaian keji demikian. Apakah agama tertentu memang mengajarkan untuk membenci agama lain yang tidak sesuai dengan agamanya?. Apakah Tuhan di atas sana juga setuju dengan kebencian atas dasar agama? Bukankah Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang? Tidakkah selayaknya umat beragama yang menyembah Tuhan maha pengasih dan penyayang juga mengasihi sesama umat manusia ciptaan Tuhan itu sendiri? ada satu kalimat dalam sebuah lagu kasidah “banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai”, lalu ada apakah gerangan? Mungkinkah Setan si Iblis sedang berkarya saat ini menggunakan Agama sebagai sarananya untuk menghancurkan peradaban umat manusia di bumi ini? Jika yang terakhir ini ternyata benar bersiaplah kita menghadapi kemungkinan perpecahan dan pertikaian umat manusia atas dalil agama selanjutnya di bumi ini. Silahkan anda merenungkan hal ini dalam-dalam, bagi yang mau merenung tentunya.

12 February 2006

Ada apa dengan Agama?

Seorang tokoh filsuf yang dulu pernah diagungkan oleh orang-orang atheis dan komunis pernah mengungkapkan suatu kalimat sehubungan dengan agama, dia mengatakan “Religion is the opium of the people” - Karl Marx (1818 - 1883) yang artinya bahwa “agama adalah candu masyarakat”, kalau kita benar-benar menyelidiki sejarah umat manusia sehubungan dengan tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, agama serta pola berpikir masyarakat, memang ungkapan Karl Marx ini seolah-olah memiliki dasar yang cukup masuk akal. Mengapa demikian? sepanjang sejarah hingga sekarang ini kecenderungan umat manusia dalam memeluk agamanya atau kepercayaannya seringkali bermotivasikan kepentingan diri sendiri ketimbang bermotifasikan pengabdian tulus tanpa pamrih kepada sang maha pencipta, sehingga agama memang seolah-olah seperti candu atau opium yang dapat meninabobokan seseorang ditengah-tengah segala macam penderitaan hidup. Coba saja kita kebanyakan agama yang mungkin mengajarkan bahwa apabila seseorang melakukan kebaikan maka dia nantinya akan masuk surga kemudian dapat menikmati segala jenis kenikmatan hidup di sana, sedangkan kalau seseorang melakukan kejahatan maka mereka akan menerima siksaan kekal di dalam api neraka, mereka akan disiksa hidup-hidup, dibakar, … dan mungkin segala bentuk penyiksaan lainnya yang sangat mengerikan (walaupun sebenarnya konsep ini jelas bertentangan dengan sifat Tuhan yang maha pengasih dan penyayang yang tidak pernah ingin menyiksa orang walaupun orang itu jahat, Tuhan lebih menginginkan orang jahat tersebut bertobat dari kejahatannya dan mendapat kesempatan untuk diselamatkan ketimbang untuk disiksa - beberapa agama lain memiliki konsep demikian). Ada fakta ironi yang dapat kita lihat dari sisi lain, misalnya ada beberapa oknum umat tertentu yang rela mati atau bahkan mematikan atau membunuh orang lain dalam aksi bom bunuh diri yang mereka sendiri menyebutnya dgn konsep jihad demi mendapatkan "tiket cepat ke surga". Coba kita kaji lebih dalam, jika tidak ada konsep surga dan neraka apakah orang-orang masih akan tetap mau tulus beribadat kepada Tuhan?. Fakta lainnya ada banyak sekali orang yang berpindah-pindah agama hanya karena ingin menemukan “pelarian” dari sebuah penderitaan, atau ingin mendapatkan suatu “pengakuan” jati diri semata ditengah-tengah suatu kemelut hidup. Saya ambil contoh sebut saja seorang yang sedang menderita penyakit akut yang tadinya beragama A, kemudian singkat cerita orang ini mendapat kesembuhan penyakit secara mukjizat dari seorang alim ulama beragama B, dapat ditebak orang yang mendapat kesembuhan tersebut akan dengan mudah berpindah agama dari agama A menjadi agama B karena dia telah mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya. Contoh kasus lain ada seorang yang beragama A sedang jatuh cinta dengan seorang wanita yang beragama B, cinta mereka sedemikian kuat sehingga hal ini akan membuat salah satu dari kedua pihak meningalkan agamanya demi mendapatkan cintanya, dengan kata lain agama hanyalah semacam “pengakuan” jati diri semata demi mendapatkan suatu tujuan yang diinginkan. Ada kondisi lain yang dapat kita temui di dalam masyarakat sehubungan dengan konsep berpikir mereka terhadap agama, saat ini agama seolah-olah menjadi semacam tembok yang mengelompokkan pengikutnya ke dalam satu kesatuan exlcusive….sama halnya seperti kesatuan etnis atau suku, nasionalisme atau kebangsaan. Kata “beragama” sudah sangat identik dengan ketaatan pada sebuah institusi atau organisasi agama ketimbang kepada nilai spiritual di dalam diri umatnya sehingga tak jarang ada orang yang tidak pernah menjalankan ibadatnya namun tetap membela institusi agamanya jika terjadi pertikaian antar umat beragama. Coba saya simulasikan hal ini agar anda dapat lebih memahami korelasinya, apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan suku anda atau kebangsaan anda? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika suku atau etnisnya dicela atau dikritik walaupun kritikan yang diberikan cukup beralasan. Tidakkah demikain halnya dengan agama? apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan agama atau kepercayaan kita? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika agamanya dicela atau dikritik walaupun mungkin kritikan yang diberikan cukup beralasan. Coba anda perhatikan berita-berita di televisi banyak orang tiba-tiba tampil anarkis untuk membela agamanya walaupun pada dasarnya belum tentu mereka menjalankan ibatnya secara konsekwen. Sepanjang sejarah peperangan umat manusia di bumi ini, cukup banyak yang didasari atas friksi antar suku atau antar bangsa. Begitu banyak perang-perang antar suku, perang-perang besar antar bangsa yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap komunitas kesukuan dan kebangsaan atau nasionalisme. Sama halnya seperti Nazi Hitler dulu yang pernah membantai jutaan orang hanya atas dasar kebanggan ras, demikianlah juga berkenaan dengan agama, ada banyak pertikaian dan peperangan atas nama agama disebabkan oleh karena kebanggaan dan exclusivistis terhadap kepercayaannya. Begitu banyak perang-perang antar agama atau mengatasnamakan agama yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap agama (salahsatu contoh sejarah perang salib). Umat beragama seolah-olah seperti suporter dari group sepak bola tertentu, sehingga sebagus apapun pemain sepak bola dari kelompok lain tidak akan dianggap, dan seringkali suporter sepakbola akan emosi dan marah besar jika pemain kelompok lawan dapat membuktikan bahwa pemain kelompoknya tidak becus bermain sepak bola. Ketimbang introspeksi diri suporter yang fanatik tidak akan bersedia menerima kekalahannya. Demikianlah juga halnya dengan umat beragama, katakanlah misalnya ada umat agama lain yang dapat membuktikan bahwa doktrin dari agamanya salah, seorang yang fanatik tidak akan mau menerima hal ini, dan cenderung akan emosi dan marah ketimbang rela untuk dialog secara terbuka. Nah hal-hal ini semua yang mungkin menyebabkan Karl Marx menulis bahwa “agama adalah candu masyarakat”. Orang-orang tidak lagi menjadikan agama itu sebagai “jalan hidup” atau “way of life” melainkan hanya sebagai attribute kelompok atau tanda pengenal saja atau cenderung sebagai pelarian belaka. Itulah sebabnya seringkali muncul kebanggaan-kebanggaan yang bersifat competitive atau bersaing dalam arti memvonis agama lain sesat dan menganggap bahwa agamanyalah yang benar. Ketimbang dengan rendah hati mau membuka diri dengan semangat kasih serta kebersamaan untuk mencari dan menggali kebenaran yang sejati, umat beragama lebih senang saling bersaing dengan menyatakan agamanya sajalah yang benar dan agama orang lainlah yang sesat. Kelompok-kelompok agama jarang mau dengan lapang dada membuka front diskusi secara bijaksana untuk saling tukar-pikiran satu sama lain guna mencari kebenaran. Oleh karena itu pula pemerintah republik Indonesia pernah membuat suatu istilah SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan) yang dapat menimbulkan perpecahan antara masyarakat. Dan memang demikianlah faktanya bahwa Suku, Agama, Ras dan Golongan dapat disejajarkan sebagai suatu penyebab utama perpecahan dan bahkan pertikaian umat manusia di bumi ini selain daripada faktor ideologi politik dan nasionalisme. Nah, bagaimana pandangan kita masing-masing sehubungan dgn hal ini?

10 February 2006

Sejarah Valentine's Day

Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul dari Valentine's Day, namun pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Peringatan hari besar ini dirayakan untuk menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan, serta Pah (Tuhan dari Alam). pada saat itu digambarkan orang-orang muda (laki-laki dan wanita) memilih pasangannya secara diundi, kemudian mereka bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Dengan diikuti berbagai macam pesta dan hura-hura bersama pasangannya masing-masing.

Namun untuk lebih jelas dan terperinci mari kita lihat kutipan dari beberapa sumber sejarah yang dapat dipercaya. The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day : “Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine's Day probably came from a combination of all three of those sources--plus the belief that spring is a time for lovers.” kutipan lainnya menjelaskan "The origins of Valentine's Day trace back to the ancient Roman celebration of Lupercalia. Held on February 15, Lupercalia honored the gods Lupercus and Faunus, as well as the legendary founders of Rome, Romulus and Remus. In addition to a bountiful feast, Lupercalia festivities are purported to have included the pairing of young women and men. Men would draw women's names from a box, and each couple would be paired until next year's celebration. While this pairing of couples set the tone for today's holiday, it wasn't called "Valentine's Day" until a priest named Valentine came along. Valentine, a romantic at heart, disobeyed Emperor Claudius II's decree that soldiers remain bachelors. Claudius handed down this decree believing that soldiers would be distracted and unable to concentrate on fighting if they were married or engaged. Valentine defied the emperor and secretly performed marriage ceremonies. As a result of his defiance, Valentine was put to death on February 14. After Valentine's death, he was named a saint. As Christianity spread through Rome, the priests moved Lupercalia from February 15 to February 14 and renamed it St. Valentine's Day to honor Saint Valentine. What's Cupid Got to Do with It? According to Roman mythology, Cupid was the son of Venus, the goddess of love and beauty. Cupid was known to cause people to fall in love by shooting them with his magical arrows. But Cupid didn't just cause others to fall in love - he himself fell deeply in love. As legend has it, Cupid fell in love with a mortal maiden named Psyche. Cupid married Psyche, but Venus, jealous of Psyche's beauty, forbade her daughter-in-law to look at Cupid. Psyche, of course, couldn't resist temptation and sneaked a peek at her handsome husband. As punishment, Venus demanded that she perform three hard tasks, the last of which caused Psyche's death. Cupid brought Psyche back to life and the gods, moved by their love, granted Pysche immortality. Cupid thus represents the heart and Psyche the (struggles of the) human soul."
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998). The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda. Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998). Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri! Namun dari berbagai versi legenda tadi sejarah yang paling diterima oleh berbagai sumber publikasi sejarah adalah sebagai berikut:
>> NB: Dikutip dari berbagai sumber.<<

07 January 2006

Motivation VS Limitation

Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan orang - orang yang merepresentasikan diri mereka sebagai konsultan "power of motivation". Mereka menawarkan suatu paradigma sehubungan dengan konsep positif thinking, optimisme dan motivasi, saya pernah beberapa kali mengikuti seminar-seminar yang diadakan oleh beberapa konsultan tersebut (sepertinya kurang etis untuk menyebutkan namanya). Disamping itu saya pernah membaca beberapa artikel yang terkait dengan konsep positif thinking, dan setiap berangkat ke kantor atau pulang dari kantor kadang-kadang saya menyetel radio Smart FM 95.9 Mhz dan beberapa radio lain di dalam mobil saya, topicnya berisi pembahasan talk show berkisar konsep “power of motivation”, isi pembahasannya seputar optimisme, motivasi, berpikiran positif. Dulu saya juga pernah mengikuti beberapa seminar MLM (Multilevel Marketing) seperti CNI dan Amway. Jujur saja saya kagum dengan para pakar yang menawarkan konsep-konsep tadi dan jika ditinjau dari segi positif memang sasaran dari konsep yang ditawarkan oleh para pakar motivasi tersebut sangat bermanfaat untuk membentuk pola berpikir positif dari setiap orang, sehingga mendidik orang agar tidak lagi cepat menyerah dalam menjalani segala hambatan dan problematik kehidupan ini. Akan tetapi dari beberapa konsep yang ditawarkan tersebut ada yang saya rasakan kurang "membumi" seolah-olah segala hal bisa dilakukan dengan kekuatan diri kita tanpa memandang bahwa sebenarnya ada suatu batasan manusiawi atau yang kita kenal dengan istilah kodrat. Ada banyak sekali kondisi-kondisi tertentu yang berada diluar kendali dan kekuatan kita, sebagai contoh, penyakit, usia tua, kecelakaan, kematian, bencana alam, hukum alam dan terakhir hukum Tuhan. Semua kondisi tersebut dapat menjadi penghalang yang tak terelakkan, tak terduga dan tak terbendung pada saat kita sedang menjalani perjuangan hidup ini dengan konsep positif thinking tadi. Ada lagi pemikiran lain yang ditawarkan oleh para konsultan motivasi tadi yaitu tentang konsep untuk meraih status menjadi orang yang lebih unggul daripada orang lain. Ada seorang konsultan berkata kepada saya, jangan mau menjadi orang biasa atau “ordinary people” bertekadlah untuk menjadi orang yang luar biasa. Saya melihat adanya unsur semangat persaingan dari konsep tersebut, saya jadi teringat dengan orang-orang di jaman dahulu yang mengajarkan anak-anaknya dengan mengatakan “capailah cita-citamu sampai setinggi langit”. Banyak anak-anak yang dipaksa oleh orang tuanya untuk bersekolah setinggi-tingginya sesuai dengan trend dunia walaupun mungkin jurusan pendidikan yang dipilih orang tuanya tidak sesuai dengan minat sang anak. Orang tua dalam hal ini beranggapan bahwa mereka berpikiran positif hanya ingin agar anaknya tidak kalah bersaing dan menjadi orang yang sukses serta lebih unggul daripada anak-anak lainnya kelak, dengan kata lain orang tua tersebut hanya ingin meningkatkan power of motivation sang anak. Ironisnya begitu banyak anak-anak yang dipaksakan sejak kecilnya bersekolah tinggi akhirnya setelah dewasa harus menelan pil pahit kehidupan karena tetap saja sulit mendapatkan lapangan pekerjaan sebab kondisi persaingan yang sangat kompetitif. Itulah yang saya namakan dengan kondisi tertentu diluar kemampuan kita, hal-hal kecil dapat kita lihat sehari-hari dalam hidup kita, misalnya katakanlah kita adalah seorang yang disiplin dan tepat waktu, kita punya kedudukan di sebuah perusahaan dan sedang menuju ke kantor untuk meeting komisaris, semua orang telah mengenal kita sebagai orang yang tepat waktu, ternyata di perjalanan tanpa di duga kemacetan lalu lintas luar biasa sehingga kita terlambat sampai kantor sektiar 2 jam, minggu depannya ada meeting lagi dengan direksi namun kali ini kita terlambat karena mobil kita menabrak gerobak bakso yang sedang menyeberang jalan, tiga hari kemudian ada meeting lagi dan kali ini juga terlambat karena di tengah jalan istri kita menelpon bahwa anak kita mendadak sakit keras. Apakah orang mau concern dengan problem-problem kita yang menyebabkan kita terlambat? belum tentu, bisa jadi orang menganggap kita hanya mencari dalih untuk membenarkan diri. Tapi intinya yang saya mau katakan bahwa kita dibatasi oleh ketidakmampuan tertentu di dalam hidup ini.

Saya terkadang merenung andaikata semua manusia di bumi ini hanya mau menjadi orang yang besar dan lebih unggul daripada orang lain, bagaimana jadinya apabila di bumi ini tidak ada lagi orang yang mau mengerjakan hal-hal kecil yang kadang dianggap tidak berarti. Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada orang yang mau menjadi tukang sampah atau pembantu di lingkungan rumah anda? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau jadi office boy atau satpam di kantor anda? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau jadi supir bus atau masinis kereta api? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau menjaga pintu tol atau pintu gerbang lintasan kereta api?. Saya teringat dengan mesin mobil yang menggunakan system karburator, apabila karburator itu dicopot dan dipreteli komponennya satu persatu maka akan terdapat beberapa onderdil yang berukuran kecil, tapi mekanik atau montir pernah mengatakan kepada saya bahwa satu onderdil kecilpun copot maka mobil tersebut tidak akan bisa distarter hidup. Hal ini meng-ilustrasikan bahwa sekecil apapun eksistensi atau kontribusi kita di dalam dunia ini kita bisa berada pada posisi yang sangat berharga, atau sebaliknya sehebat apapun posisi anda saat ini suatu saat tertentu anda akan berhadapan pada kondisi yang anda sendiri tidak dapat kendalikan. Saya teringat dengan sebuah joke atau anekdot yang saya dengar di radio tentang seorang pendeta dan seorang supir yang setelah mati keduanya naik ke surga, namun sang pendeta berada pada tingkat lebih rendah daripada sang supir di surga sana. Sang pendeta protes terhadap malaikat mengapa dia berada pada posisi dibawah sang supir di surga, sang malaikat mengatakan kepadanya bahwa ketika sang pendeta berkhotbah di mimbar para umat jemaat tertidur, tetapi ketika sang supir mengendarai bus para penumpang berdoa.

Jadi saya berkesimpulan ketimbang kita terlena dengan konsep yang tidak realistis sehubungan dengan menjalani hidup ini, lebih baik kita tetap “membumi” dan realistis. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menerima nasib dan berpangku tangan atau berpasrah diri seolah-olah kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk merubah nasib atau bermalas-malasan, bukan itu maksud saya. Kita masih tetap bisa memiliki motivasi dan optimisme dalam hidup ini namun jangan pernah lupa diri atau melanggar kodrat kita sebagai manusia yang memiliki banyak keterbatasan, dan jangan lupa juga terhadap Tuhan sang pencipta yang maha kuasa yang sanggup membantu dan membimbing kita dalam menghadapi segala macam problem ketimbang selalu mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dan satu hal lagi konsep untuk selalu lebih unggul daripada orang lain adalah konsep yang akan menjebak kita ke dalam semangat persaingan yang tidak realistik. Just be your self, jadilah diri anda sendiri jangan banding-bandingkan diri anda dengan orang lain, jangan berusaha menjadi sesuatu atau seseorang yang anda tidak sanggup raih. Apapun eksistensi anda saat ini, apapun pekerjaan anda saat ini baik itu besar ataupun kecil dari segi ukuran dunia ini, walaupun dunia menganggap anda orang yang tak berharga menurut saya anda tetap manusia yang berharga paling tidak di mata Tuhan sang pencipta yang maha kuasa.

03 January 2006

Bom waktu dunia

Ketika saya menulis blog ini, kita sedang memasuki hari ke tiga dari tahun 2006. Tidak beda dengan situasi di tahun baru sebelum-sebelumnya orang-orang di mana-mana merayakan pergantian tahun di malam tahun baru dengan pesta-pesta meriah. Acara-acara televisi pun benuansa kemeriahan pesta tahun baru, tidak ada acara televisi yang bertema keprihatinan “mengenang kepedihan tahun 2005 dan waspada terhadap bencana yang mungkin meningkat di tahun 2006”. Sepertinya sudah suatu tradisi bahwa tahun baru adalah selalu menjadi tahun penuh harapan walaupun kenyataannya sepanjang sejarah setiap tahun segala jenis bencana dan segala macam keprihatinan skalanya cenderung meningkat ketimbang menurun, rata-rata problem global dunia tidak terpecahkan tahun demi tahun.

Kebanyakan orang seolah-olah lebih senang menutup mata terhadap kenyataan bahwa setiap tahun keadaan dunia ini bukan semakin membaik melainkan semakin memburuk. Lihat saja problem ekonomi di berbagai negara, kemiskinan, bala kelaparan, problem penyakit dengan munculnya jenis-jenis penyakit baru seperti flu burung dan munculnya virus-virus mutan yang belum pernah muncul dulunya, begitu banyak berita tentang peperangan, pertikaian etnis dan warna kulit, pertikaian antar agama, kejahatan yang meningkat, pemberontakan, demonstrasi, gempa bumi, tzunami, banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya. Setiap tahun orang-orang di segala bangsa mengharapkan perubahan ke arah yang lebih baik pada penutup tahun, mereka berharap semoga di tahun baru situasi dunia akan semakin membaik dan terus membaik, tetapi kenyataannya semakin memburuk dan terus memburuk.

Terkadang saya merenungkan bumi ini ibarat seperti bom waktu dimana titik ledaknya sedang dihitung mundur (count down) Jadi sebenarnya setiap kali anda merayakan tahun baru dengan pesta pora penuh harapan itu artinya anda sedang merayakan hitungan mundur “bom waktu dunia” ini ke arah titik ledaknya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa hampir semua agama besar mengajarkan bahwa akan ada suatu “titik akhir” bagi dunia ini kelak di masa depan, ada yang mengajarkan tentang hari Kiamat, Armagedon dan lain sebagainya di mana Tuhan sang maha besar akan bangkit untuk menghakimi system dunia ini dan menggantikannya dengan system Teokratis di bawah kendali Tuhan sendiri, seperti itulah yang saya baca dari kitab-kitab suci.

Alkitab Kristen disebutkan bahwa Tuhan akan menggantikan system pemerintahan dunia ini menjadi system teokratis:

Daniel 2:44 – “Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.”

Wahyu 16:14-16 - “ay.14. Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa.Ay.15. Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya. Ay.16. Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.

Di dalam kitab Islam Al-Quran juga disebutkan tentang hari Kiamat tersebut :

QS.Al Baqara (2):210 – “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat pada hari Kiamat dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.”

QS. An Nisa (4):87 – “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari Kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.”

QS. An Nisa (4):159 – “Dan tidak ada seorang pun dari kalangan ahli Kitab melainkan dia akan beriman kepada Nabi Isa (Yesus) sebelum matinya dan pada hari Kiamat kelak Nabi Isa (Yesus) akan menjadi saksi terhadap mereka.”

Jadi bagaimana? apakah kita akan tetap menggantungkan harapan kita terhadap system dunia ini setiap tahunnya? Apakah system pemerintahan dunia ini telah terbukti sukses mengatasi berbagai problematik yang terjadi sepanjang sejarah tahun-demi tahun, ataukah lebih banyak gagal? Apakah masih masuk akal untuk berharap kepada pemimpin politik, ekonom, bisnis dll yang kesemuanya hanyalah manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan dan pada akhirnya mati? Ataukah kita hanya bisa berharap kepada Tuhan sang pencipta alam semesta dan penguasa tertinggi? Silahkan anda memilih sendiri sesuai hati nurani anda, namun kalau saya pribadi tidak akan pernah percaya lagi dengan para pemimpin manusia dan kepada system dunia ini yang telah terbukti selalu gagal untuk menciptakan perdamaian, keamanan, ketenteraman, kesehatan, kesejahteraan yang permanen. Saya hanya bisa berharap kepada Tuhan saja dan saya percaya bahwa tidak lama lagi penguasa tertinggi di alam semesta ini pasti akan bertindak untuk menyelesaikan segala problem kehidupan umat manusia di bumi ini dengan caraNya. Akhir kata Alkitab mengatakan di Matius 6:9-10 "Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."













Hi there.....it's me >rotogu<>