29 December 2005

Problematik Perspektif

Paling tidak enak jika bertemu dengan orang yang selalu memaksakan sudut pandangnya kepada orang lain, seolah-olah hanya dia saja yang paling tahu, paling benar, paling hebat dan segala jenis paling lainnya. Padahal belum tentu pendapat orang tersebut benar dan belum tentu juga pendapat orang lain itu salah, mengapa? Karena tiap-tiap orang memiliki perspektif masing-masing sehubungan segala hal sehingga jika terjadi suatu perbedaan pendapat berkenaan dengan suatu hal tertentu biasanya lebih banyak disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang, dan dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, karena benar atau salah sifatnya relatif tergantung dari sudut pandang mana sebuah problem dilihat oleh tiap-tiap individu orang. Ada ungkapan lama yang mungkin pernah anda dengar “lain ladang lain pula lalangnya, lain danau lain pula ikannya” yang mengartikan bahwa tidak ada manusia yang memiliki kesamaan persis, tiap-tiap orang berbeda-beda pola berpikirnya dan sudut pandangnya. Perbedaan orang dapat ditentukan oleh berbagai latar belakang, bisa latar belakang sosial, budaya, etnis, pendidikan, pengalaman, karakter, selera, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan manusia dengan memiliki ciri khas fisik tertentu seperti sidik jari, bahkan konon ceritanya anak kembar sekalipun dapat berbeda selera dan sifat. Maka janganlah heran kalau anda akan sulit sekali menemukan orang lain yang persis sama dengan sifat atau karakter anda. Saya menganjurkan anda janganlah berharap untuk mendapatkan teman yang memiliki sudut pandang yang sama atau selera yang sama dengan anda.

Berbicara mengenai perspektif atau sudut pandang saya jadi teringat dengan ungkapan tentang dua orang yang melihat gajah dari sisi yang berbeda, orang yang pertama melihat gajah tersebut dari depan sehingga dia akan mengatakan bahwa gajah belalainya panjang dan kupingnya lebar, namun orang yang kedua melihat gajah tersebut dari belakang sehingga dia hanya melihat ekor dan dua kaki belakng yang besar dari sang gajah, ke dua orang tersebut bisa berselisih paham tentang apa yang paling menonjol dari sang gajah tersebut padahal keduanya melihat binatang yang sama, namun masalahnya adalah dari sisi mana mereka melihat. Itulah yang saya sebut sebagai problematik dari perspektif.

Sebut saja contoh kecil, rata-rata orang eropa tidak suka mencium bau buah duren, tapi coba jika anda sebagai orang Indonesia ditawari duren, apalagi duren montong, wah pasti anda akan berbutan untuk menyantapnya, karena disamping buahnya harum rasanya juga enak, itu menurut perspektif anda sebagai orang Indonesia, tidak demikian halnya bagi orang barat. Nah hal inilah yang kadang-kadang dapat menjadi problem horizontal di antara makhluk sosial yaitu sesama manusia. Tak jarang masalah perbedaan perspektif dapat menimbulkan pertikaian yang serius di antara kita manusia, karena perbedaan perspektif akan mengarah kepada perbedaan pendapat dan prinsip tiap-tiap orang. Masalahnya adalah jarang sekali orang yang mau mengalah terhadap pendapat orang lain, kecenderungan manusia adalah berargumen untuk membenarkan pendapatnya sebisa-bisanya. Hanya orang yang memiliki sifat rendah hati dan suka damai sajalah yang bersedia mengalah selama problematik perspektif tersebut hanyalah masalah yang tidak terlalu bersifat prinsipil.

Memang ada beberapa perbedaan perspektif yang harus diselesaikan dengan suatu standard baku seperti perbedaan yang terkait dengan masalah benar atau salah, baik atau buruk, hal ini biasanya akan mengacu kepada hukum, undang-undang, prosedur dll. Misalnya perbuatan membunuh tidak bisa hanya dilihat dari segi perpektif, tapi juga harus dari segi hukum. Halnya juga berkenaan dengan kebenaran prinsipil seperti misalnya tentang dogma atau doktrin agama. Perbedaan perspektif berkenaan dengan dogma agama atau kepercayaan memang harus bermuara pada konsep dasar fundamental yaitu kitab suci dari masing-masing agama yang bersangkutan. Tetapi jika perbedaan perpektif hanyalah hal-hal yang menyangkut selera lebih baik menggunakan dasar kasih, rendah hati, suka damai, dan mengalah ketimbang ngotot untuk selalu memenangkan dan membenarkan pendapat pribadi, padahal pendapat orang belum tentu salah.

26 December 2005

Menghitung umur

Salah satu kebiasaan di tempat saya bekerja adalah memberikan informasi jika ada sanak saudara dari karyawan yang meninggal dunia. Selama bekerja saya sering mendapatkan berita-berita dukacita tentang kematian dari ayah, ibu atau sanak family para karyawan perusahaan. Anda bisa bayangkan jumlah karyawan PT.Kalbe Farma tbk. tempat saya bekerja seluruhnya hampir 3000 orang (saya bekerja di IT dept.) dari jumlah tersebut bisa dimaklumi kalau berita kematian dari sanak saudara para karyawan akan diinformasikan paling tidak hampir setiap minggunya di e-mail. Saya perhatikan rata-rata yang meninggal antara usia 50 sampai 60 tahun, walaupun ada beberapa peristiwa tragis yg merenggut rekan karyawan yang masih usia muda karena kecelakaan atau penyakit. Intinya kematian sepertinya menjadi suatu berita yang "biasa" dan "akrab" di lingkungan kita. Malah saya mengamati usia orang yang mati semakin muda dari tahun-ke tahun. Pernahkah anda merenung sambil menghitung umur anda? jika rata-rata orang meninggal pada usia 60 atau 70 tahun, dan usia anda saat ini katakanlah sudah 50 tahun maka sisa umur anda untuk hidup adalah tinggal 10 atau 20 tahun lagi bukan?, coba bayangkan jika usia anda saat ini sudah mencapai 69 tahun berarti usia hidup anda hanya tinggal 1 tahun lagi dengan asumsi rata-rata umur manusia saat ini. Itupun jika anda tidak mengalami kecelakaan atau penyakit........Maka timbul pertanyaan, apakah kematian adalah akhir dari segala-galanya? jika memang demikian, apa yang akan anda lakukan pada sisa hidup anda yang amat singkat itu?..... kemudian apa yang dapat anda bayangkan setelah anda mati? ..... apakah kematian bukanlah akhir dari segalanya? .... apakah ada kehidupan lain setelah kematian, dan jika ada apa yang akan anda alami dan lakukan di kehidupan lain tersebut?...dan mungkin bisa seribu satu pertanyaan lainnya akan muncul dalam benak kita kalau kita memang concern untuk mencari tahu apa arti sesungguhnya dari "mati". Orang-orang Yunani kuno yang menganut paham Epikuros pernah melontarkan suatu konsep "Nikmatilah hidup ini sepuas-puasnya sebab besok kita akan mati", mereka punya konsep bahwa tidak ada harapan lain setelah kematian, dan kematian adalah akhir dari segala-galanya. Apakah anda juga berpikiran demikian? Jika demikian maka jangka waktu anda untuk dapat menikmati hidup sangat-sangatlah singkat sekali bukan khususnya di dalam sisa hidup anda sekarang. Dan pertanyaan berikutnya jika paham Epikuros ini benar, maka sangatlah tidak sesuai diterapkan di negara Indonesia ini khususnya, karena keadaan ekonomi saat ini yang sangat parah tidak akan bisa mendukung seseorang untuk menikmati kehidupan. Dari sejak kita kecil sampai dewasa, berkeluarga memilik anak dst..dst..dst kita terus hidup dengan perjuangan untuk mencari nafkah dan kebutuhan ekonomi yang tiada hentinya sampai akhirnya kita wafat. Untunglah di sisi lain ada paham agama yang mengajarkan bahwa sebenarnya ada "harapan" bagi seseorang yang telah mati sehingga paling tidak konsep ini dapat menjadi alternatif pilihan bagi orang-orang yang sedang frustasi dalam hidup ini, beberapa konsep agama mengajarkan tentang "dunia dan akhirat", "sorga dan neraka", beberapa agama yang mengajarkan dogma reinkarnasi, ada juga agama mengajarkan kebangkitan orang mati, bahwa orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali dan akan hidup di suatu "dunia baru" atau firdaus di bumi ini. Apapun konsep yang diajaran oleh agama-agama tersebut pada intinya adalah bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, sebenarnya ada "harapan" bagi orang mati pada saatnya nanti, hanya saja akan timbul pertanyaan selanjutnya yaitu doktrin manakah yang benar dari semua ajaran agama tentang harapan bagi orang mati? nah hal ini tentu membutuhkan riset dan minat untuk meneliti. Namun disamping itu ada syarat-syarat yang dijabarkan oleh paham agama agar orang-orang mati tersebut dapat menikmati "harapan" nantinya, sebagai contoh orang baik masuk sorga sedangkan orang jahat masuk neraka. Dan beberapa ajaran agama mengatakan perbuatlah sebanyak-banyaknya amal dan kebaikan selama kita hidup agar nantinya ada harapan bagi kita di akhirat setelah kita mati. Konsep agama ini jelas bertentangan dengan konsep filsafat Epikuros tadi, kalau konsep Epikuros dipakai maka tidak ada gunanya berbuat baik selama kita hidup di dunia ini karena toh kematian adalah akhir dari segala-galanya, tidak ada harapan atau suatu "penilaian" baik dan jahat pada orang mati nantinya. Jadi sekarang konsep mana kira-kira yang mendekati pola berpikir anda sehubungan dengan kematian? hal ini akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang kita dalam menyikapi proses kematian yang sedang "mengintai" kita masing-masing. Maka saya mengundang para pembaca blog ini, mari sambil menghitung-hitung umur kita masing-masing, kita sama-sama mencari tahu ada apa sebenarnya dengan mati.

25 December 2005

Salah Kaprah

Ada orang yang bertanya, bisa nggak sih pohon natal itu diganti dari pohon cemara jadi pohon pisang, atau sinterklas diganti jadi badut atau ondel-ondel? ..... saya berpikir sejenak .....why not? karena toh ornamen-ornamen Natal itu semuanya hanyalah legenda yang tidak ada dasar kristianinya atau tidak ada dasar alkitabnya, coba saya tanya anda apa hubungannya pohon cemara dan lampu-lampu kerlap-kerlip dengan Yesus?, dan apa hubungannya Sinterklas dengan Yesus?. Perayaan natal sudah berurat berakar dan menjadi tradisi turun-temurun sejak dulu sampai sekarang walaupun sejarah asal-usul natal tidaklah bersifat kristen, dan Alkitab tidak menulis bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 desember - lihat tulisan saya sebelumnya tentang asal-usul Natal. Ketika saya bertanya pada orang yang telah terindoktrinasi tentang perayaan Natal mengapa mereka masih tetap merayakannya, mereka mengatakan bahwa walaupun latar belakang sejarah 25 desember itu sebenarnya adalah hari raya dewa saturnalia, namun hal itu tidak menjadi masalah selama motivasi dari orang-orang adalah untuk meng-agungkan Yesus kristus dan bersyukur atas kelahirannya, demikian menurut mereka. Namun saya ingin bertanya, apakah makna natal saat ini memang benar-benar untuk meng-agungkan kelahiran Yesus, tidakkah ada unsur-unsur kepentingan pribadi dan semangat materialisme yang diusung oleh perayaan ini? kembali ke pertanyaan di atas tadi apakah tokoh sinterklas bisa digantikan dengan badut? why not selama badut tersebut bisa juga memberikan hadiah-hadiah natal yang banyak bagi anak-anak...bukan? atau bisakah pohon cemara digantikan dengan pohon pisang? why not selama pohon pisang juga dapat dihiasi lampu-lampu kerlap-kerlip lengkap dengan ornamen lonceng dan bintangnya selama tujuannya untuk bergembira ria dan bersenang-senang ....bukan?. Jadi sejujurnya apakah makna dari Natal jika dilihat dari fakta tadi? apakah benar-benar untuk memuji Tuhan ataukah ada motivasi lain yang lebih kepada semangat mementingkan diri? Mal-mal, plaza-plaza, supermarket, toko-toko mainan dan semua area bisnis telah mengambil kesempatan untuk mencari keuntungan materi melalui acara Natal ini dengan segala jenis dagangannya, sementara itu orang-orang dari mulai anak-anak sampai dewasa telah menggunakan kesempatan ini untuk menghambur-hamburkan uang demi kesenangan pribadi, ada yang ke diskotik ajojing sambil minum-minum alkohol, bagi anak-anak mereka sibuk memikirkan hadiah-hadiah natal...sehingga motivasinya bukan lagi untuk mengenang Yesus. Di sisi lain ada orang-orang yang tidak mampu secara materi tidak bisa menikmati kesenangan perayaan Natal tersebut dan akhirnya kecewa, kecewanya bukan karena tidak bisa mengenang dan memuji Tuhan atas kelahiran sang juru selamat melainkan kecewa karena tidak bisa turut bergembira ria seperti orang-orang berduit yang kaya.
Timbul pertanyaan dalam benak saya, tidakkah sebenarnya makna yang paling dalam dari kehadiran Yesus ke dunia ini adalah "kematiannya" bukan kelahirannya? sebab hanya karena kematian Yesuslah umat manusia di bumi ini dapat ditebus dosa-dosanya, hanya karena darah dan tubuh Yesus yang dikorbankannyalah semua manusia dapat ditebus dari dosa dan kematian. Jadi esesnsi yang terpenting adalah kematian bukan kelahiran. Ada pepatah lama mengatakan "gajah mati meninggalkan gadingnya, orang mati meninggalkan amalnya". Makna kematian lebih dalam daripada kelahiran. Ketika seorang anak lahir orang-orang bergembira-ria menyambut kelahirannya tetapi coba bayangkan setelah si anak tersebut dewasa dan menjadi penjahat kriminal sampai matinya, tidakkah anak tersebut pada akhirnya meninggalkan "nama" yang buruk setelah dia mati? Nah Yesus Kristus telah setia sampai mati dan telah meninggalkan nama yang baik serta teladan yang sempurna kepada umatnya yaitu teladan kasih. Dan yang paling utama Yesus telah mati untuk menebus dosa umat manusia sehingga orang-orang berdosa memiliki kesempatan untuk bertobat dan "diperdamaikan" dengan Tuhan, maka tidakkah hari kematian Yesus yang seharusnya kita rayakan untuk mengenang jasanya, teladannya dan namanya?.... karena seorang bayi yang lahir tidak dapat memberikan teladan apa-apa, hanya orang yang telah dewasa dan bertahan menjadi orang yang baik dan benar seumur hidupnya sampai dia mati yang dapat meninggalkan teladan untuk dikenang dan ditiru orang lain. Jadi menurut anda manakah frase yang lebih menyentuh dan lebih dalam maknanya bagi kita "Yesus telah lahir bagi kita"? ataukah "Yesus telah mati bagi kita untuk menebus dosa-dosa kita" silahkan anda merenungkannya.

14 December 2005

Pilih jadi "orang besar" atau jadi "orang kecil" ?

Pernahkah anda mendengar ungkapan atau pidato seorang tukang becak, seorang buruh atau kuli yang di-publish dalam sebuah tayangan informasi di suatu media massa tertentu?. Dari mulai informasi iklan komersial, kata-kata mutiara, frase pepatah, sampai dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat rohani atau religius, semua itu kebanyakan bersumber dari mulut tokoh-tokoh terkemuka seperti presiden, pejabat, professor, doktor, artis, aktor, uskup, pastor, pendeta, uztad, da'i, biksu dan tokoh-tokoh besar lainnya baik tokoh sekuler maupun tokoh agama. Padahal bisa saja tukang sapu jalanan mengungkapkan kalimat yang indah dan menarik serta bermanfaat untuk kebaikan, namun persoalannya adalah media massa mana yang mau mem-publishnya ? Kebanyakan orang berlomba-lomba untuk menjadi "orang besar", orang terpandang, orang terhormat, orang hebat menurut ukuran sekuler dan semangat ini menyusup sampai ke dalam diri para tokoh agama yang seharusnya berpikiran rohani. Sangat jarang sekali yang berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bersahaja dan rendah hati karena menurut ukuran sekuler orang bersahaja dan rendah hati adalah "orang kecil". Mengapa demikian ? salah satunya disebabkan karena 'dunia' ini sedang mempropagandakan semangat ambisius, egoisme, prestise, kehormatan pribadi, prestasi dan popularitas sehingga indikator kesuksesan seseorang diukur atas dasar itu semua. Ketika seorang "tokoh besar" memberi komentar ttg suatu hal seperti misalnya "mengabdilah kepada bangsamu" atau "janganlah engkau malas bekerja", walaupun kata-kata tersebut adalah suatu kalimat yang biasa dan bisa saja diungkapkan oleh semua orang baik dari level tukang becak sampai seorang presiden, namun persoalannya adalah kebanyakan orang menilai bukanlah isi dari kalimat tersebut melainkan siapa yang mengungkapkan kalimat tersebut. Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah mengungkapkan suatu kalimat "don't ask what your country can do for you. ask what you can do for your country" dan kata-kata ini terdengung sampai sekarang, coba andaikata yang menyampaikan ungkapan tersebut hanyalah seorang tukang pos pengantar surat apakah kata-katanya akan diabadikan di media massa sampai sekarang?. Jadi kecenderungan orang di dunia ini lebih menilai siapa orang yang mengatakan sesuatu ketimbang apa yang dikatakannya. Inilah yang disebut dengan "kultus individu".

Coba perhatikan buku-buku yang pernah ditulis di bumi ini, kebanyakan buku dibagian depan atau belakang sampulnya tertera data riwayat hidup sang penulis, dari mulai gelar-gelarnya, latar belakang pendidikannya, jabatannya, kedudukan sosialnya dll, tujuannya adalah supaya setiap pembaca pertama-tama kagum terhadap siapa yang menulis buku itu, bukan terhadap apa isi dari buku tersebut. Coba anda bayangkan apabila ada seorang buruh atau kuli yang menulis artikel yang bagus dalam sebuah buku, dan dia mencantumkan data pribadinya di sampul depan atau belakang bukunya bisa diduga orang-orang akan malas membeli bukunya. Saya pernah mendengar suatu ungkapan yang menarik dan menggelitik dari seorang tukang ojek ketika saya sedang naik ojek dan ngobrol-ngobrol dengan pengendaranya. Dia mengatakan kepada saya bahwa semua kepemilikan dalam hidup ini hanyalah titipan Tuhan, ketika kita lahir telanjang bulat dan tidak membawa apa-apa dari rahim sang ibu, dan ketika kita mati kita juga tidak bisa membawa apa-apa ke kuburan, jadi baik kita miskin ataupun kaya buat dia tidak ada bedanya. Ungkapan yang keluar dari mulut tukang ojek ini buat saya sungguh menarik dan selayaknya diabadikan dalam sampul sebuah majalah bisnis, agar para businessman tidak terlalu materialistis, maruk dan gila harta kekayaan.
Jadi seharusnya siapapun orang walaupun orang kecil sekalipun mesti dihargai "suaranya" layaknya orang besar apabila dia memperlihatkan kapabilitas sebagai orang baik dan benar. Bahkan ironisnya dikalangan cendikiawan agama ukuran-ukuran sekuler pun menjadi suatu indikator terhadap umatnya. Sebagai contoh seorang Pendeta Kristen atau Pastor Katolik atau Da'i Islam akan menjadi seorang tokoh yang populer dan didengar ceramahnya apabila dia memiliki gelar-gelar akademis tertentu atau mungkin jabatan duniawi tertentu, jika tokoh religius tersebut latarbelakangnya hanyalah orang "biasa" maka umatnya akan sulit untuk respek dan hormat kepadanya, inilah fakta yang pahit yang saya amati dan perhatikan. Saya senang mengutip suatu nats atau ayat dari kitab suci tentang pengalaman seorang tokoh besar, seorang juru selamat, yang diakui baik oleh agama Islam maupun agama Kristen yaitu Yesus Kristus atau Nabi Isa. Salah satu penyebab utama mengapa orang-orang Yahudi / Israel menolak Yesus atau nabi Isa (bagi orang Islam) adalah karena latar belakang status sosialnya yang kurang terhormat dari ukuran duniawi, Yesus dilahirkan di kota kecil yang tidak terkenal Betlehem, dari keluarga miskin, ayahnya bukan pejabat tetapi hanyalah seorang tukang kayu, bahkan dia lahir di kandang sapi. Coba anda baca di Kitab Suci, Matius 13:54-55, isi dari ayat itu demikian : Setibanya di tempat asal-nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? ..dst...dst. Orang-orang Yahudi tidak mau mendengarkan apa yang Yesus katakan hanya karena latar belakang status sosialnya, walaupun mereka tidak bisa menyangkal pengajarannya yang luar biasa bagus. Saya merenungkan dalam-dalam tentang eksistensi Yesus di bumi ini, Tuhan sengaja mengutus Yesus ke dunia ini salah satunya adalah untuk memberi pelajaran bagi "orang-orang besar" yang angkuh dan sombong di dunia ini, bahwa mereka sebenarnya di mata Tuhan adalah mayat-mayat hidup tidak berarti yang sebentar lagi akan kembali ke kuburan dan tidak membawa apa-apa ke dunia orang mati maupun ke akhirat nantinya, tepat seperti yang dikatakan sang tukang ojek tadi kepada saya, jadi silahkan anda pilih mau jadi orang besar atau jadi orang kecil ?.

13 December 2005

Me and My Wife


Saya dan istri saya Linda - Juni ' 2000 Posted by Picasa

Ku menempuh sedalam lautan......
Tuk mencari arti kehidupan .......

Mendaki gunung kekecewaan........
Melelahkan......(memang lelah mencari "tulang rusuk" idaman hati)

Kau menjelma seperti khayalan.........
Kau impian dalam kenyataan .........

Perjalanan yang penuh likunya........
Kini t'lah tiba di sisimu selamanya ........

Engkau bukan yang pertama........
Tapi pasti yang terakhir........

Di cintamu kutemui arti hidupku........

Me, my son Jevaldin and my wife Linda


Me, my son Jevaldin and my wife Linda - Desember'2004Posted by Picasa
Dua tahun lebih kami menanti kehadiran sang buah hati, anak laki-laki kami yang terkasih yang kami beri nama Jevaldin Yohanan Gultom, lahir tanggal 5 November 2003 di Jakarta - Jevaldin mengandung makna "Tuhan beserta Ayah dan Ibu" dalam mengarungi rumah tangga dan membesarkan anak-anak. Nama ini bisa juga berarti satu utas tali mudah diputuskan, dua utas tali lumayan kuat, sedangkan "tiga utas tali sulit diputuskan", satu utas tali melambangkan sang suami sebagai kepala keluarga hanya mengandalkan kekuatannya sendiri dalam memimpin keluarganya, kalau dua utas tali melambangkan suami dan istri saling bekerja sama sedangkan tiga utas tali melambangkan suami & istri mengikut sertakan Tuhan dalam mengarungi bahtera rumah tangga......itulah makna kata "Jevaldin" nama anak saya.