28 November 2005

Misteri di balik "benar" dan "baik"

Kemarin sore ketika saya pulang dari kantor menuju rumah, sebelum masuk jalan Tol di daerah pulomas saya melihat dari kejauhan mobil Honda CRV berhenti dipinggir trotoar dikerubungi oleh kuli-kuli bangunan dan para buruh penggali tanah. Mereka ramai-ramai berlarian menuju mobil tersebut......saya langsung memperlambat laju mobil saya dan berhenti tidak jauh dari "pertunjukan" itu untuk mengamati, saya curiga dan berpikir jangan-jangan mobil tersebut sedang dirampok atau supirnya sedang dikeroyok ramai-ramai karena nabrak salah satu teman mereka, saya berpikir sejenak kalau pengendara mobil itu sedang dirampok saya akan siap-siap untuk menolong dengan segala cara, paling tidak menelpon Polisi dari HP saya.

Eh ternyata tak lama kemudian dari jendela mobil CRV tersebut saya melihat tangan "putih bersih" keluar sedang membagi-bagikan makanan bungkusan kepada kuli-kuli bangunan dan para buruh penggali tanah yang berkerumun di sekitar mobil CRV itu. Rupanya seorang dermawan kaya yang baik hati sedang mempertunjukkan kasih kepada sesama manusia dan bagi-bagi rejeki kepada orang-orang miskin. Saya melanjutkan perjalanan pulang sambil merenung sejenak...sayang tidak bisa lama-lama merenungnya sebab ada teman-teman saya juga di dalam mobil saya yang menyaksikan dan berkomentar tentang kejadian itu. Dalam renungan singkat saya terbersit pertanyan-pertanyaan, kenapa yah orang-orang yang berjihad dengan cara membunuh orang-orang lain dalam aksi-aksi bom bunuh diri yang belakangan ini sedang marak beritanya, tidak mencontoh dermawan yang pengasih di dalam mobil Honda CRV tadi yah...?, coba bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh para terorist untuk merakit bom-bom mobil dan bom-bom bunuh diri jenis lainnya yang dapat merobek-robek daging manusia hingga seperti serpihan daging cincang, nemisahkan kepala manusia dengan badannya dan segala bentuk kengerian lainnya. Dan aneh bin ajaib mereka yang melaukannya yakin sekali bahwa mereka akan masuk ke surga karena mereka menganggap perbuatan mereka adalah perbuatan baik. Jika kita adalah manusia yang waras dan memiliki kasih sayang alami sebagai manusia, bukan seperti binatang, tidakkah akal sehat kita akan bertanya dengan kritis kenapa yah biaya untuk itu semua nggak dibuat untuk kemanusiaan, untuk beli makanan dan dibagikan ke orang-orang miskin dan orang susah seperti yang dilakukan dermawan tadi, tidakkah tindakan dermawan penyayang seperti ini juga akan memungkinkan seseorang masuk ke surga? lalu kenapa juga tindakan keji dengan membunuh sesama manusia dijadikan pilihan untuk masuk ke surga?. Tidakkah Tuhan itu maha penyayang dan pengasih? bukankah kitab suci mengajarkan bahwa Tuhan sangat menyayangi manusia ciptaanNya? Tidakkah akan timbul pertanyaan lanjutan apakah mungkin yah Tuhan yang pengasih dan penyayang seperti itu mau menerima orang-orang pembunuh dan pembantai keji masuk ke surga tempat kediaman suciNya yang damai dan penuh kasih? Inilah yang saya sebut dalam judul tulisan saya sebagai misteri "kebaikan" dan "kebenaran", orang baik belum tentu benar, orang benar semestinya baik. Contoh....Kebenaran sejati tidaklah sekedar kebaikan, orang yang tidak beragama-pun bisa berbuat baik melebihi orang yang beragama, sebagai ilustrasi : orang ateis yang tidak percaya Tuhan pun banyak yang berbuat baik, orang Rusia atau RRC dulu yang kebanyakan penganut ateisme apakah mereka otomatis orang jahat?...tentu tidak ....mereka juga orang baik, yang banyak mengabdi kepada masalah sosial masyarakat dan membangun untuk negara dan kemanusiaan. Penjahat yang keluar-masuk penjara-pun berbuat baik paling tidak untuk keluarganya – anak dan istrinya. Namun esensinya bukan sekedar masalah berbuat baik .....tetapi melakukan kebenaran sejati, lalu apa sih kebenaran sejati itu? untuk mengetahui itu sangat diperlukan pengetahuan yang seksama dan comprehensive (agar tidak salah bertindak seperti para terorist tadi). Ada yang mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebenaran, kalau menurut saya yang tepat adalah semua agama mengajarkan kebaikan bukan kebenaran sejati. Jadi kebenaran posisinya berada di atas kebaikan. Contoh : Robin Hood ......apakah dia orang baik? ya bagi orang miskin yang mendapat hasil jarahan dia, Robin Hood adalah orang baik bagi orang miskin, namun bagi orang kaya yang dirampok oleh Robin Hood dia adalah orang yang jahat dan kejam. Nah inikan ada dua sudut pandang, lalu bagaimana menyelesaikannya - yaitu menggunakan kebenaran fundamental yaitu bahwa "mencuri itu adalah tindakan yang salah". Contoh kasus lainnya, membunuh adalah perbuatan salah, nah apakah tindakan membunuh dapat dibenarkan apabila alasannya adalah karena orang lain berbeda kelompok agama, ideologi, pola berpikir dll? tidakkah membunuh adalah tindakan keji dan tidak berprikemanusiaan apapun alasannya? jadi agama yang sejati dan benar seharusnya mengajarkan kasih dan perdamaian diantara umat manusia dan mengharamkan pembunuhan serta pembantaian jenis apapun. Singkatnya kebenaran absolute atau mutlak hanya satu saja, tetapi kebaikan itu sifatnya relative karena semua orang bisa meng-klaim tindakannya adalah baik walaupun faktanya merugikan orang lain.

Itulah sebabnya muncul anekdot atau joke seperti “Dosa apa yang dibenci Tuhan sekaligus dibenci Setan juga” jawabannya adalah : memperkosa istri Setan……..kalau kita lihat esensi dari humor tersebut bahwa kebenaran tetap kebenaran – bahwa “memperkosa” adalah tindakan yang salah menurut hukum Tuhan, tidak perduli alasan apapun. Sejarah juga mencatat begitu banyaknya pembantaian keji yang mengatasnamakan agama, seolah-olah mereka telah medapat sertifikat untuk membunuh atau "license to kill" dari Tuhan dengan legitimasi agama. Sejarah mencatat bahwa bahkan agama-agama “besar” seperti Kristen dan Islam yang memilik umat yang sangat banyak di dunia ini pernah juga menghalalkan pembantaian berdarah seperti yang dilakukan oleh kelompok agama animisme di jaman purba, sebagai contoh Perang Salib antara umat Kristen dengan Islam, masing-masing kelompok berperang atas nama agama, masing-masing prajurit baik dari Kristen maupun Islam diberkati oleh para pemimpin agamanya terlebih dahulu sebelum pergi ke medan perang untuk saling membantai satu sama lain. Orang Kristen membantai orang-orang Islam tidak perduli itu wanita hamil, anak-anak, orang tua dll, demikian juga sebaliknya orang-orang Islam membantai orang-orang Kristen dan mereka masing-masing beranggapan bahwa mereka sedang menjalankan kebaikan atas nama agama, kejadian ini pernah terjadi juga di negara kita Indonesia ini, tepatnya di Ambon dimana terjadi pertunjukkan sadis yang sangat menyedihkan sehingga menjadikan kota tersebut sebagai ladang pembantaian atau killing fields, kalau kita renungkan lagi ada apa sebenarnya yang terjadi dengan "power" agama ? sepertinya agama telah kehilangan kekuatan moral dan kasih dalam mengontrol umatnya untuk saling menyayangi dan mengasihi sesama manusia???.......... apakah ini suatu misteri ??? ...... selamat merenung dan berpikir.

23 November 2005

Tradisi & pola pikir

Teman saya pernah cerita tentang suatu tayangan di televisi dalam suatu acara “Reality Show” yang menampilkan seorang “bule” dari Amerika sana sedang di test keberaniannya “nangkring” di tempat tertentu yang diyakini banyak hantunya di situ, kemudian seraya kamera televisi dibidik ke arah sang bule itu, terlihat betapa wajah orang bule tersebut sama sekali tidak menyiratkan rasa takut sedikitpun, padahal tayangan-tayangan sebelumnya yang menampilkan orang Indonesia asli kebanyakan mereka takut apabila nangkring di situ. Kalau diperhatikan sebenarnya kondisi tersebut tidak mendatangkan situasi mistik tertentu yang berarti, so apa yang jadi aneh di sini ? apakah sang hantu takut sama orang bule itu sehingga dia tidak muncul ?, atau apakah sang bule yang nggak yakin sama sekali dengan keberadaan sang hantu ? Mengapa banyak sekali orang-orang dari barat sana yang sepertinya tidak percaya terhadap hal-hal yang bersifat tahayul apalagi kepada hantu-hantu ? sementara orang-orang di daerah Asia seperti terbelenggu dengan suatu konsep berpikir yang bersifat spiritisme ?. Coba saja anda amati film-film Barat dan film-film Indonesia khususnya yang ditayangkan di layar televisi, akhir-akhir ini acara sinetron televisi di Indonesia banyak sekali menampilkan adegan-adegan spiritisme, hantu-hantu, setan gentayangan. Ada acara “pemburu hantu”, ada acara “percaya gak percaya” dan adegan reality show lainnya, sementara acara-acara televisi dari Barat lebih banyak bernuansa science, imajinasi, action dan walaupun ada beberapa yang berbau mistik namun sangat jarang. Apabila anda pernah mengamati sekilas budaya barat dan membandingkannya dengan budaya timur, salah satu perbedaan terbesar antara masyarakat di belahan dunia bagian Barat dengan masyarakat di belahan dunia bagian Timur adalah dalam hal tradisi dan adat istiadat. Kehidupan masyarakat Timur sangat banyak dipenuhi dengan berbagai jenis tradisi upacara adat. Mulai dari ketika seseorang masih di dalam kandungan sang ibu, setelah seseorang dilahirkan ke dunia ini, pada masa penyapihan, setelah dewasa dan masuk ke jenjang perkawinan, pada waktu seseorang menderita penyakit, tertimpa musibah atau malapetaka, dan terakhir pada waktu seseorang mengalami kematian - situasi atau keadaan tersebut selalu diwarnai dengan suatu upacara adat atau tradisi tertentu. Upacara-upacara di sepanjang lingkaran hidup manusia itu di dalam antropologi dikenal dengan istilah rites de passages atau life cycle rites. Uniknya di wilayah Asia khususnya kita sangat mudah mengamati bahwa upacara-upacara adat tersebut masih tetap dijalankan sampai sekarang, seolah-olah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di jaman modern ini sama sekali tidak sanggup mendobrak paradigma masyarakat tertentu di Asia khususnya sehubungan dengan kebiasaan menjalankan upacara adat yang telah ber-abad-abad dilakoni oleh nenek-moyang mereka. Sementara itu di belahan bagian barat bumi ini upacara-upacara adat seperti itu sangat jarang diketemukan apalagi khususnya di jaman modern ini.

Pengaruh tradisi adat istiadat terhadap paradigma berpikir
Kemungkinan besar budaya yang berbeda inilah yang mempengaruhi pola berpikir masyarakat bagian Barat dan masyarakat bagian Timur. Teman saya pernah bertanya kepada saya, kenapa sih orang-orang di Mesir (Egypt) & Irak (Babilonia) yang notabene menurut sejarah merupakan bangsa dengan beradaban tertua di dunia seolah-olah ketinggalan dari segi science dan teknologi jika dibandingkan dengan orang-orang di bagian Barat ? waktu itu saya merenung lama juga mendengar pertanyaan tersebut. Dan memang benar penemuan-penemuan Arkeologi di Mesir seperti Piramida misalnya telah membuktikan bahwa peradaban Mesir telah ada jauh sebelum negara-negara di bagian barat exist, Irak juga menurut sejarah adalah pusat kebudayaan dunia yang mana beberapa sumber publikasi sejarah dan agama membuktikan bahwa peradaban manusia dimulai di wilayah Mesopotamia (daerah di antara sungai Tigris dan Eufrat) tepatnya di Irak sekarang. Dan tidak bisa dipungkiri juga bahwa bangsa-bangsa di bagian Barat telah membuktikan bahwa mereka “menyusul” negara-negara lain dalam hal science dan teknologi. Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa orang-orang Barat mempunyai pola berpikir yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang di bagian Timur, contoh kecil saja orang barat sangat tidak percaya dengan yang namanya tahayul hal-hal yang berbau spritualisme, animisme dan dinamisme sementara di Asia banyak orang yang masih percaya akan hal-hal yang berbau spiritisme, animisme dan dinamisme bahkan di jaman sekarang ini. Saya ambil contoh di India misalnya, sampai sekarang masih banyak masyarakat yang sebenarnya cukup berpendidikan namun tetap menganggap sungai Gangga yang lumayan kotor sebagai "sungai suci", di Jepang beberapa masyarakat yang terpelajar masih menyembah Matahari, dan kalau kita mengamati di negara kita sendiri Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan beragam etnis/suku, kita akan mendapati begitu banyaknya corak-corak tradisi dan upacara adat istiadat yang dianut oleh tiap-tiap suku, dan sampai saat ini adat-istiadat tersebut tetap dijalankan turun-temurun tanpa mengenal status pendidikan seseorang. Di Indonesia misalnya beberapa budaya masyarakat melarang anaknya bermain-main dengan gunting atau jarum pada sore hari di halaman rumah karna dianggap “pamali” , tabu dsb karena akan mengakibatkan malapetaka tertentu nantinya apabila dilakoni. Seorang wanita hamil misalnya tidak diperkenankan memakan telur ayam yang biji kuningnya ada dua dalam satu telur, kalau tidak salah dapat mengakibatkan anaknya lahir kembar siam, atau kalau sedang berada di hutan atau kebun dilarang kencing di sembarang pohon karena konon katanya “penunggunya” bisa marah dan bikin orang kesambet.

Tradisi adat istiadat versus Ilmu pengetahuan
Abad ke 21 ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Datangnya pemikiran baru maupun teknologi baru ke dalam suatu wilayah tertentu diyakini akan memberi nilai tambah terhadap suatu kebudayaan. Tidak dapat dielak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa saja membawa suatu disorientasi dan diskontinuitas kebudayaan bagi generasi yang sudah tidak lagi kuat memegang tradisi kebudayaan turun-temurun. Di beberapa daerah generasi muda telah mulai secara berkesinambungan “sadar” akan perlunya suatu reformasi tertentu terhadap tata cara adat istiadat yang dianggap tidak logis, tidak efisien dan berbau mistik dan tahayul. Memang jika dikaji secara mendalam tatacara tradisi yang dianut oleh kebanyakan etnis di wilayah Asia, khususnya di Indonesia sepertinya sudah tidak “praktis” lagi dengan perkembangan zaman, dimana zaman telah berubah, segala sesuatu telah mengarah kepada efisiensi dan efektifitas. Satu contoh kecil saja, misalnya upacara pernihkahan dalam adat istiadat tertentu yang memakan waktu begitu lama dan biaya yang begitu besar dengan segala bentuk tatacara upacaranya, sementara ada pilihan lainnya yang lebih simple yaitu resepsi pernikahan sederhana yang hanya memakan waktu sekitar dua jam, tidakkah orang yang berpikiran praktis, ekonomis, efisien dan efektif akan memilih dengan bijak.

Tradisi adat istiadat versus Agama
Beberapa sejarawan mengatakan bahwa di jaman dahulu kala tradisi adat istiadat adalah merupakan ”Agama” dari suatu suku tertentu yang dikenal dengan agama “Animisme dan Dinamisme” Animisme = kepercayaan terhadap kekuatan sipiritisme atau supranatural atau alam roh, sedangkan Dinamisme = kepercayaan terhadap kekuatan yang terdapat dalam benda-benda tertentu seperti pohon, batu, keris, patung dan lain-lain. Sebelum agama-agama dunia seperti Islam & Kristen masuk ke dalam suatu suku tertentu mereka telah memiliki “agama” warisan dari leluhur yaitu tradisi adat istiadat. Agama dunia dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yang pertama agama “monoteisme” dan yang kedua “polyteisme”. Monoteisme adalah agama yang mengenal satu Tuhan (seperti agama Islam, Kristen, Judaisme) sedangkan Polyteisme adalah agama yang mengenal banyak Tuhan (seperti Hindu, Budha, Konghucu, Shinto dll). Pada dasarnya semua agama yang menganut paham monoteis percaya bahwa memang ada dua kekuatan supratural di alam surgawi sana, ada kekuatan baik yang di sebut Tuhan atau Allah dan ada kekuatan jahat yang disebut sebagai Setan atau Iblis atau Hantu atau Jin, demikian tertulis di dalam kitab suci agama-agama monoteis. Ketika para missionaris Kristen dan para musafir Islam datang menjelajah ke Asia khususnya ke Indonesia dan membawa ajaran baru agama mereka. Sejak saat itulah terjadi apa yang dinamakan dengan “sinkretisme” peleburan Agama dengan Tradisi budaya. Bagi agama-agama polyteisme sinkretisme tersebut adalah suatu hal yang mudah diterima karena konsep mengenal banyak allah & dewa-dewi hampir sama dengan konsep kepercayaan adat istiadat yang bersifat animisme dimana kepercayaan terhadap dewa-dewi juga ada, namun bagi agama-agama monoteisme hal ini tidaklah mudah sebab konsep keberadaan Tuhan adalah Esa, Tunggal dan Exclusive, sementara apabila ada konsep ke-illahian yang lain selain Tuhan yang esa tersebut maka bisa dipastikan berasal dari kekuatan supranatural yang jahat yaitu Setan si Iblis. Namun demikian seraya sejarah waktu berjalan peleburan konsep sinkretisme belakangan diterima juga oleh paham agama monoteisme tersebut. Pada akhirnya terbentuklah “agama paduan” yang merupakan perkawinan antara tradisi budaya dengan agama. Itulah sebabnya kita dapat menemukan beberapa kemiripan dogma atau doktrin yang ada di dalam Agama tertentu dengan kepercayaan di dalam tradisi adat istiadat pada etnis tertentu. Oleh karena itulah beberapa kritikus agama mengkritik dogma-dogma tertentu yang dianggap mereka telah di-intervensi oleh beberapa tradisi atau upacara adat tertentu yang bersifat paganism atau animisme. Memang ada banyak norma-norma moral serta filosophy yang dihembuskan oleh adat istiadat tertentu dari etnis tertentu yang bermanfaat dalam hubungan horizontal sesama manusia, akan tetapi yang dikritisi oleh para pemikir fundamental Agama adalah upacara-upacara adat yang bersifat animisme dan spiritisme yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan padahal sebenarnya bertentangan dengan kitab suci suatu agama. Jadi kalau kita kaji ulang kemungkinan besar itu pula yang menyebabkan beberapa orang "pemikir fundamental" di Eropa dan Amerika yang tidak hanya menolak konsep tahayul tetapi juga telah kehilangan kepercayaan terhadap agama itu sendiri karena dianggap sudah tidak murni dan tidak lagi rasional sebab telah mencampuradukkan tradisi dengan agama yang seharusnya murni. Nah timbul pertanyaan .....lalu apakah yang sebenarnya menyebabkan terjadinya degradasi pola pemikiran seperti ini dikalangan masyarakat di negara tertentu ? dan kebenaran seperti apakah yang seharusnya dicari oleh orang-orang kritis dan rasional tersebut ? ......nantikan artikel saya selanjutnya.

20 November 2005

Sejarah perayaan Natal

Setiap tanggal 25 Desember umat Kristen merayakan Natal, yang sudah dipercaya sejak dulu sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Sangat wajar bila ada pertanyaan-pertanyaan seputar latar belakang sejarah asal-usul penetapan hari itu sebagai hari lahir Yesus Kristus. Ternyata memang bukan hanya kalangan Kristen saja yang mencoba mencari tahu asal-usul perayaan ini, tetapi mereka yang tidak mengimani Kristus pun ingin tahu. Keingintahuan itu muncul berlandaskan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang ingin tahu karena ingin menggali maknanya sekaligus memperdalam imannya pada Yesus Kristus. Ada juga yang sekedar ingin tahu tanpa mau apa-apa setelah tahu. ada juga yang ingin mendapatkan informasi yang benar selengkap-lengkapnya sehingga tidak tersesat mengikuti kebiasaan yang tidak ada dasar Kristianinya sama sekali atau bahkan merupakan warisan dari kebiasaan paganism/kafir yang bertentangan dengan firman Tuhan. Tulisan singkat ini disajikan untuk siapa saja yang memang ingin tahu mengenai kebenaran asal-usul perayaan Natal. Hal ini sangat relevan dan penting untuk memahami tradisi Gereja yang merupakan ekspresi iman Gereja akan Yesus Kristus yang terus berkembang. Setidaknya dengan demikian kita tidak buta, masa bodoh, atau malah menyepelekan sejarah dari tradisi Gereja kita sendiri.

SEJARAH KEKRISTENAN ABAD PERTAMA MASEHI
Jemaat Kristen Perdana atau kristen yang mula-mula ternyata sebenarnya tidak pernah memberikan perhatian pada tanggal kelahiran Yesus. Seluruh perhatian umat pada waktu itu terarah pada Kebangkitan Kristus (bangkitnya Yesus 3 hari setelah mati disalibkan) hal ini dicatat di Alkitab injil secara majemuk oleh rasul-rasul Yesus. Lagipula pada waktu itu, bahkan perayaan hari ulang tahun saja pada umumnya dipandang sebagai kebiasaan kafir (istilah kafir digunakan orang Kristen pada waktu itu memaksudkan orang-orang non-Yahudi yang menyembah berhala dan yang tidak bersunat di bawah hukum Taurat Musa). Seorang tokoh Gereja abad pertama - Origenes (thn. 185-254 Masehi), secara tegas menolak tradisi ulang tahun kelahiran di kalangan umat Kristen. Yang mereka ketahui di jaman mereka orang-orang yang merayakan hari kelahiran atau ulang tahun adalah Raja Herodes – yang memotong kepala Yohanes pembabtis pada perayaan ulang tahunnya, dan sejarah sebelumnya raja Firaun Mesir yang juga membunuh tukang roti istana juga pada acara perayaan ulang tahun sang raja. Oleh karena itu kebiasaan merayakan hari ulang tahun tidak dijalani oleh orang-orang Yahudi pada jaman Yesus, dan Alkitab sendiri tidak pernah mencatat Yesus Kristus merayakan hari ulang tahunnya, atau murid-muridnya para rasul merayakan hari ulang tahun mereka atau ulang tahun Yesus. Seorang tokoh lain bernama Clemens dari Alexandria ( thn. 200 Masehi ) waktu itu malahan mengejek setiap orang kristen yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus.

BENARKAH YESUS LAHIR PADA TANGGAL 25 DESEMBER ?
Berdasarkan catatan sejarah pada waktu itu tidak ada yang tahu persis kapan sebenarnya Yesus di lahirkan oleh Perawan Maria, dan Alkitab-pun tidak mencatat tanggal kelahiran Yesus. Ini harus diakui, karena waktu itu memang tidak ada perhatian mengenai hal seperti itu. Lalu jika demikian halnya kapan sebenarnya Yesus dilahirkan dan apakah mereka perlu untuk memperingatinya, bagi Gereja Perdana hal itu tidak dipandang sebagai hal yang penting. Sekali lagi, kebiasaan merayakan hari ulang tahun waktu itu dipandang sebagai kebiasaan kafir. Jadi ketika itu mereka hanya merayakan hari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang adalah dasar iman Gereja. Iman akan Yesus yang bangkit itulah yang mempersatukan umat untuk bersehati sejiwa merayakan misteri-misteri iman. Kitab Suci juga tidak banyak mengungkap peristiwa seputar kelahiran Yesus. Memang Kitab Suci bukan buku sejarah, tetapi buku iman. Kitab Suci ditulis oleh para pengarang suci, dan tulisan-tulisan mereka setelah melalui proses kanonisasi yang panjang, dikukuhkan oleh otoritas Gereja. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang mengenal dan mengimani Yesus Kristus sebagaimana diimani dan diwartakan oleh Gereja. Meskipun Gereja Perdana tidak ambil pusing dengan hari kelahiran Yesus, Gereja generasi berikutnya, toh tidak mungkin mengelak dari persoalan kapan hari kelahiran Yesus. Gereja akhirnya bergumul dengan soal itu dan berusaha mencari pemecahannya. Waktu terus berlalu dan Gereja semakin berkembang dalam banyak bidang. Kita tahu bahwa Gereja mengalami penganiayaan hebat dalam abad-abad pertama kekristenan. Salah satu alasan kuat mengapa mereka dianiaya karena ada perbedaan keyakinan dengan mayoritas masyarakat Romawi yang mana kerajaan Roma adalah kuasa dunia dikala itu. Kalau masyarakat Romawi pada umumnya beribadah kepada dewa-dewi dan berhala-berhala sementara itu orang Kristen menyembah Allah yang mereka kenal dan imani dalam Yesus Kristus.

KOLABORASI KEBUDAYAAN ANIMISME KE DALAM KEKRISTENAN (Sinkritisme)
Kebudayaan kafir yang berkembang pada waktu itu beraneka ragam, dan Pemerintahan Negara Romawi memiliki kepentingan dan andil besar di dalamnya. Salah satu peran negara dalam mendukung budaya penyembahan dewa-dewi itu terjadi ketika Kaisar Aurelius (th. 212M-275M) mengumumkan pada tahun 274M {berarti pada zaman Paus Felix I yang bertahta tahun 269M-274M, waktu itu Gereja belum diakui secara resmi oleh negara} bahwa 25 Desember adalah hari penghormatan khusus untuk Dewa Matahari. Pada tanggal tersebut orang-orang Roma secara khusus memberi penghormatan kepada dewa Saturnus, dewa pertanian dan datangnya matahari karena itu hari raya penghormatan kepada dewa matahari disebut hari saturnalia. Mereka pada hari tersebut memuja dewa Mithra untuk merayakan kelahiran matahari yang kasat mata, ilahi (Dies Natalis Solis Invicti). Jadi sejak 25 Desember 274M itulah mulai ada perayaan Natal (dari kata Dies Natalis) atau Kelahiran Matahari oleh bangsa Romawi karena diakhir musim salju tanggal itulah sang mentari mulai kembali menampakkan sinarnya dengan kuat. Adanya hari raya resmi itu tentu saja menghadapkan Gereja pada situasi yang tidak mudah. Perlu sikap yang jelas dari para pemimpin Gereja waktu itu agar dapat menjadi pegangan bagi umat. Pada umumnya umat Kristen yang sejati dan benar yang tinggal di Roma menolak mengikuti perayaan itu. Meski demikian, masih banyak umat yang bersifat mendua dalam hal ini karena situasi yang mereka hadapi, beberapa tidak berani mengambil sikap tegas. Setelah Konstantinus berkuasa di Roma, ada keleluasaan gerak bagi umat Kristen untuk melaksanakan keyakinan imannya dalam ibadat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan agama Kristen dikukuhkan menjadi agama resmi negara tahun 313 Masehi (edict Milan) oleh Konstantinus Agung yang masuk Kristen tahun 312 Masehi (Konstantinus sendiri baru mau dibaptis menjelang ajalnya tahun 337 Maseh).

TRANSFORMASI TRADISI ROMAWI MENJADI PERAYAAN NATAL
Perayaan Natal untuk menghormati kelahiran matahari yang sudah begitu merakyat sulit untuk dihapuskan begitu saja, meskipun banyak orang Romawi ikut menjadi Kristen setelah Konstantinus Agung dibaptis. Perayaan Natal akhirnya tetap dilakukan, tetapi oleh Gereja pusat perhatian dialihkan pada Perayaan Kelahiran Yesus Kristus yang dianggap oleh orang Roma yang masuk kristen sebagai Sang Matahari Sejati. Yesus dianggap adalah Matahari Sejati mereka meng-combine tulisan Alkitab yang mencatat bahwa Yesus membawa terang bagi umat manusia yang berada dalam kegelapan, dengan konsep sumber terang adalah Matahari, karena itu antara Yesus dan Matahari seolah-olah ada kemiripan. “Counter culture” terhadap kultus kafir itu secara sadar dilakukan oleh Gereja. Gereja sadar bahwa banyak orang Romawi menjadi Kristen karena ikut-ikutan Kaisarnya (konstantin yang tadinya penyembah berhala belakangan masuk kristen dan dibabtis). Mereka ini meskipun menjadi Kristen tetapi tidak mau meninggalkan budaya kafirnya. Jadi inkulturasi ini adalah usaha yang dilakukan oleh para pemimpin Gereja pada waktu itu demi pertumbuhan iman umat. Dengan demikian maka perlahan-lahan sepanjang sejarah selanjutnya Perayaan Natal umat Kristen tidak lagi dihubungkan dengan kultus kafir itu. Pada tahun 336 Masehi, secara resmi ditetapkan oleh Gereja bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari untuk memperingati kelahiran Yesus. Kaisar Konstantinus-lah yang kemudian memperkenalkannya secara luas sebagai ganti tanggal 5-6 Januari.

EPIFANI
Di dunia Kristen belahan Timur, jauh sebelum peristiwa di atas terjadi sudah ada Gereja yang merayakan Pesta Penampakan Tuhan (Epifani) setiap tanggal 4 Januari. Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifani ialah munculnya Yesus - sebagai Anak Allah - pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan (Eropa) bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epifani, tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini Gereja - pada Permulaan abad ke-IV merayakan pesta Epifani pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran & pesta baptisan Yesus. Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab & puji-pujian (nyanyian). Ephraim dari Syria menganggap Epifani sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan: "Malam perayaan Epifani ialah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, dimana seluruh dunia sedang berjaga-jaga?" Pada malam perayaan Epifani semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di gua Betlehem di mana Yesus (menurut kepercayaan orang) dilahirkan. Perayaan Epifani sendiri yang jatuh pada tanggal 5-6 Januari itu tidak muncul begitu saja, tetapi ada kaitan dengan kebiasaan yang berkembang di dunia timur waktu itu. Ada catatan para ahli sejarah bahwa sejak tahun 1996 SM bangsa Mesir sudah mengenal kalender matahari. Menurut kalender itu puncak ketinggian matahari jatuh pada tanggal 6 Januari. Tetapi pada zaman Alexandria tahun 331 SM ada koreksi terhadap kalender itu karena ditemukan adanya ketidaktelitian penghitungan. Puncak ketinggian matahari bukan jatuh pada tanggal 6 Januari melainkan tanggal 25 Desember. Rupanya baik festival Natal 25 Desember maupun Epifani keduanya berkaitan erat dengan titik balik matahari. Awalnya keduanya bukan budaya Kristiani, tetapi diambil alih dan diberi makna baru yang sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Konsili Nicea yang berlangsung tahun 325M dengan kuat menggarisbawahi, bahwa Yesus sejak lahir-Nya adalah Anak Allah. Hal ini mendorong Gereja untuk merayakan hari ulang tahun ( dies natalis) Yesus sebagai suatu pesta tersendiri, lepas dari pesta Baptisan-Nya. Untuk itu Gereja membaptis pesta kafir dewa matahari menjadi Pesta Kristen yakni Pesta Natal Yesus Kristus Sang Terang Dunia. Pesta kafir dewa matahari lama sekali masih berpengaruh dalam praktik umat yang belum menyadari sepenuhnya iman Kristen. Bahwa pengaruh ini masih ada hingga abad V bias kita simak dari tindakan Paus Leo (th. 440-461) yang harus menasihatkan orang-orang Kristen pada waktu itu supaya mereka jangan merayakan pesta dewa matahari, tetapi Natal Yesus Kristus.

DARI EPIFANI 6 JANUARI KE NATAL 25 DESEMBER
Rupanya tradisi Natal (=Epifani) sudah ada terlebih dahulu di Gereja Timur yang kemudian mengilhami Gereja Barat (Roma). Gereja Barat semula juga merayakan Epifani tanggal 5-6 Januari, tetapi kemudian dipindah menjadi 25 Desember. Pergeseran ini sudah terjadi sebelum dikukuhkan secara resmi pada tahun 336M di Roma. Setelah penetapan ini, Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember terus menyebar ke seluruh dunia kekristenan. Tercatat bahwa di Antiokhia Perayaan Natal sudah dilakukan pada tahun 375M, dan di Konstantinopel tahun 380. Tahun 430M Perayaan Natal juga mulai dirayakan di Alexandria (Mesir) dan berlanjut ke tempat-tempat lain dimana kekristenan sudah menanamkan akarnya. Masa Natal sebagaimana kita kenal sekarang merentang dari tanggal 25 Desember sampai tanggal 6 Januari. Sejak Konsili Vatikan II Epifani dapat dirayakan pada hari minggu yang jatuh sebelum tanggal 6 Januari.

NATAL YANG SEMAKIN MERIAH DAN KEHILANGAN MAKNANYA
Sekarang Natal sudah bukan lagi dirayakan hanya oleh orang beriman Kristiani. Natal telah mendunia, dikenal seantero jagad. Kesan yang kuat bila orang bicara mengenai Natal adalah lagu-lagu yang merdu, liturgy yang indah, pesta-pesta meriah, tokoh legendaris Sinterklas dengan kereta rusanya sambil bagi-bagi hadiah, Pieth Hitam, lilin-lilin, pohon natal, salju berupa kapas, kandang atau gua Natal dll. Apakah sejak awal dirayakan semua kesan Natal yang sekarang kita gambarkan itu sudah ada? Tahun 336 adalah awal tahun liturgi yang terus berkembang sampai seperti yang sekarang kita kenal. Ada sekian banyak generasi dari berbagai pelosok dunia yang memberikan sumbangan ide terhadap aksesoris perayaan Natal dari berbagai sumber dan atas dasar perenungan mereka mengenai Natal. Misalnya saja, Palungan Natal baru dimulai dan diperkenalkan oleh St. Fransiskus Asisi dan para pengikutnya tahun 1223M.

ASAL USUL POHON NATAL & SINTERKLAS
Jika anda mencari kata Pohon Natal atau Sinterklas di dalam Alkitab maka anda tidak akan menemukannya, Pohon Natal diambil atau diadopsi dari kebudayaan Jerman untuk kepentingan iman Kristen. Menurut tradisi, St. Bonifasius (th. 680) adalah rasul bangsa Jerman. Ia mengganti pohon Eik yang dikorbankan untuk ‘Odin” dengan pohon Den yang dipersembahkan untuk menghormati kanak-kanak Yesus. Pohon terang itu menjadi lambang hidup abadi. Pohon terang menjadi lambang kehadiran Yesus sendiri yang menawarkan hidup abadi kepada bangsa-bangsa. Ada satu tradisi yang berasal dari Inggris yakni berkunjung dari rumah ke rumah dengan lilin bernyala sambil menyanyikan lagu-lagu Natal (Christmas Carol). Kartu Natal baru mulai tahun 1846M. Tokoh legenda SinterKlas (berasal dari nama Santo Nikolas, Uskup Myra abad ke-IV) adalah seorang tokoh yang membawa kegembiraan baru, popular di New York abad 19. Dari pembahasan ini semua kita tahu bahwa kesan Natal yang sekarang kita miliki tidak serta merta ada sejak zaman Yesus, tetapi itu merupakan kristalisasi dari suatu proses tradisi yang panjang dari ber abad-abad yang lalu. Kini Natal tidak lagi sekedar perayaan iman dalam liturgi Gereja, tetapi telah menjadi sebuah pesta dunia. Natal seringkali menjadi kesempatan yang baik bagi keluarga-keluarga untuk berkumpul, berbagi hadiah, dan makan bersama. Di kota-kota besar Natal disambut dengan hiasan-hiasan yang menakjubkan, persiapan-persiapan pesta besar, tak jarang juga discount-discount untuk produk-produk tertentu digelar demi tujuan tertentu pula. Natal juga telah menjadi kesempatan untuk mengembangkan jaringan bisnis yang kadang-kadang “bisnis kotor”. Orang bernegosiasi sambil merayakan Natal, merayakannya sambil minum minuman keras. Natal dalam arti tertentu telah menjadi budaya kapitalis. Natal gemerlap yang dirayakan di gedung-gedung megah dengan hiasan yang wah, semakin menjauhkan Natal Kelahiran Yesus Kristus dari konsep kesederhanaan. Padahal ketika Yesus lahir ke dunia, Ia lahir di kandang hewan. Yesus juga lahir bukan dari keluarga kaya, ayahnya hanyalah seorang tukang kayu yang miskin, ibunya Maria hanya bisa mempersembahkan kepada Tuhan seekor atau sepasang burung tekukur & merpati setelah Yesus lahir - Lukas 2:24, (kebiasaan orang Yahudi dibawah hukum Taurat adalah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah di bait, apabila orang itu kaya maka persembahannya berupa domba jantan yang tidak bercela, namun kalau seseorang berasal dari keluarga miskin persembahannya berupa sepasang burung tekukur atau burung merpati) - Imamat 5:7 & Imamat 5:11. Yesus juga lahir di kota yang kecil Betlehem, bukan kota besar, Yesus lahir dalam kondisi kesederhanaan, dalam ketulusan, dalam kemurnian hati yang tercermin dalam sikap dan kata itulah sebenarnya Ia menyapa kita. Semoga hal ini tidak dilupakan.
Sumber tulisan disadur dari :
1. A New Dictionary of Liturgy and Worship, J.G. Davies, SCM Press, London, 1989.·
2. The Modern Catholic Encyclopedia, Gill & Macmillan Ltd. Minnesotta, 1994.·
3. Katekisasi Perjanjian Baru I, Dr. J.L. Ch. Abineno, BPK Gunung Mulia - Jakarta, 1984.·
4. Sejarah Gereja, Dr. H. Berkhof & Dr. H. Erklaar, BPK Gunung Mulia, 1991.·
5. The New Columbia Encyclopedia, Columbia University Press, 1975.

10 November 2005

Mengenal Yoghurt, sejarahnya dan khasiatnya

YOGHURT pada awal mula sebenarnya merupakan minuman tradisional dari daerah Balkan dan Timur Tengah, tetapi saat ini minuman yoghurt sudah dikenal oleh banyak bangsa dan berkembang ke seluruh dunia. Di Indonesia pun belakangan ini yoghurt menjadi semakin populer —apalagi dengan ditambahkannya campuran berbagai cita rasa—. Ditinjau dari segi sejarahnya yoghurt merupakan salah satu produk hasil fermentasi susu yang cukup tua dan cukup populer di seluruh dunia. Bentuknya mirip bubur atau es krim tetapi dengan rasa agak asam. Kata ”yoghurt” berasal dari bahasa Turki, yaitu ”jugurt” yang berarti susu asam. Itulah sebabnya sampai saat ini yoghurt sering juga disebut sebagai ”susu asam”. Sejak zaman dahulu yoghurt telah dikenal luas di seluruh dunia, terbukti dari adanya berbagai nama yang digunakan untuk menyebut produk ini. Beberapa di antara nama-nama tersebut adalah sostej (Hongaria), kiselaleka (Balkan), zabady (Mesir dan Sudan), mast (Iran), roba (Irak), mazun (Armenia), tiaourti (Yunani), cieddu (Italia), mezzoradu (Sisilia), tarho (Hongaria), fiili (Finlandia), oxygala (Rumania), dan labneh (Libanon). Di negara-negara tersebut yoghurt dibuat dari susu sapi, susu kambing, susu kerbau, dan susu kuda. Yoghurt sejak dulu digemari di Eropa dan Amerika. Masyarakat Belanda merupakan konsumen yoghurt tertinggi di dunia, kemudian disusul oleh Swiss, Prancis, Jepang dan negara-negara lainnya. Sebagian konsumen menyukai yoghurt dengan kandungan bakteri yang masih hidup, dan sebagian lagi menyukai yoghurt yang sudah dipasteurisasi (bakterinya telah dimatikan). Masyarakat Eropa, Timur Tengah, dan Jepang lebih menyukai yoghurt dengan kandungan mikroba hidup. Mereka percaya, mikroba pada yoghurt dapat membantu proses pencernaan di dalam tubuh. Selain dibuat dari susu segar, yoghurt juga dapat dibuat dari susu skim (susu tanpa lemak) yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu bergantung pada kekentalan produk yang diinginkan. Selain dari susu hewani, belakangan ini yoghurt juga dapat dibuat dari campuran susu skim dengan susu nabati (susu kacang-kacangan). Sebagai contoh, yoghurt dapat dibuat dari kacang kedelai yang sangat populer dengan sebutan ”soyghurt”. Yoghurt juga dapat dibuat dari santan kelapa, yaitu yang disebut dengan ”miyoghurt”. Prinsip pembuatan yoghurt adalah fermentasi susu dengan menggunakan bakteri lactobacillus bulgaricus dan streptococcus thermophilus. Kedua macam bakteri tersebut akan menguraikan laktosa (gula susu) menjadi asam laktat dan berbagai komponen aroma dan citarasa. Lactobacillus bulgaricus lebih berperan pada pembentukan aroma, sedangkan streptococcus thermophilus lebih berperan pada pembentukan cita rasa yoghurt. Yoghurt yang baik mempunyai total asam laktat sekira 0,85-0,95%. Sementara itu, derajat keasaman (pH) yang sebaiknya dicapai oleh yoghurt adalah sekira 4,5.

Macam-macam yoghurt
Saat ini di pasaran dijumpai berbagai jenis yoghurt, antara lain, (1) Yoghurt pasteurisasi, yaitu yoghurt yang setelah masa inkubasi selesai dipasteurisasi untuk mematikan bakteri dan memperpanjang umur simpannya. (2) Yoghurt beku, yaitu yoghurt yang disimpan pada suhu beku. (3) Dietetic yoghurt, yaitu yoghurt rendah kalori, rendah laktosa, atau yang ditambah vitamin dan protein. (4) Yoghurt konsentrat, yaitu yoghurt dengan total padatan sekira 24%. Berdasarkan kadar lemaknya, yoghurt dapat dibedakan atas yoghurt berlemak penuh (kadar lemak lebih dari 3%), yoghurt setengah berlemak (kadar lemak 0,5-3,0%), dan yoghurt berlemak rendah (lemak kurang dari 0,5%). Perbedaan kadar lemak tersebut berdasarkan jenis susu dan campuran bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Sejumlah ahli menganggap yoghurt sebagai ”pabrik” bakteri yang dapat memproduksi aneka vitamin yang sangat diperlukan tubuh, yaitu asam folat, asam nikotinat, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, dan vitamin B12. Kandungan mineral pada yoghurt, khususnya kalsium, fosfor, dan kalium, juga meningkat. Sebaliknya, kandungan lemak yoghurt menjadi lebih rendah dibandingkan susu segarnya sehingga cocok diminum oleh mereka yang sedang berdiet rendah kalori.

Khasiat yoghurt
Pada awal abad ke-20, Metchnikoff mengungkapkan, konsumsi yoghurt yang teratur dapat memperpanjang usia. Pernyataan tersebut mengakibatkan peningkatan produksi yoghurt secara komersial di beberapa negara. Menurut Iwasaki (1994) yoghurt dapat diketagorikan sebagai salah satu makanan multifungsional (multifunctional food), yaitu makanan yang berfungsi untuk mengatasi berbagai penyakit sehingga dapat mendongkrak kesehatan dan kebugaran tubuh. Beberapa peneliti telah menunjukkan, mengonsumsi yoghurt dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Yoghurt mengandung suatu faktor yang dapat menghambat sintesis kolesterol sehingga kolesterol menurun dan mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah aterosklerosis penyebab penyakit jantung koroner. Menurut Yaguchi, Goto, dan Okonogi (1992), manfaat minum yoghurt dan susu terfermentasi lainnya adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan pertumbuhan. Hasil penelitian dengan tikus percobaan menunjukkan bakteri yang hidup pada yoghurt terutama Streptococcus thermophilus, memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertambahan berat badan tikus, yaitu dengan cara meningkatkan daya cerna dan absorpsi pada saluran pencernaannya.

2. Mengatur saluran pencernaan. Asam laktat dari yoghurt dapat merangsang gerakan peristaltik hampir pada semua bagian dalam saluran pencernaan. Rangsangan gerakan peristaltik tersebut dapat memelihara kesehatan tubuh melalui peningkatan proses pencernaan, penyerapan, pembuangan feses, dan pembuangan bakteri patogen dari saluran pencernaan.

3. Memperbaiki gerakan perut. Suatu penelitian yang dilakukan pada sejumlah lansia menunjukkan, pemberian kultur streptococcus thermophilus dapat meningkatkan gerakan perut dari 4,8 kali dalam 10 hari menjadi 5,7 kali. Gerakan perut ini diperlukan untuk memperlancar proses pengeluaran feses. Pada saat yoghurt melalui saluran pencernaan terjadi peningkatan jumlah bakteri bifidobacterium yang ikut berperan dalam menormalkan gerakan perut.

4. Antikanker. Penelitian pada tikus menunjukkan, penggandaan sel-sel kanker pada tikus yang diberi makan yoghurt lebih terhambat daripada tikus percobaan tanpa yoghurt. Bakteri-bakteri yang berperan dalam fermentasi susu dapat mengubah zat-zat prekarsinogenik yang ada dalam saluran pencernaan sehingga dapat menghambat terjadinya kanker.

5. Menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Asam laktat dapat mengurangi atau membunuh bakteri patogen (bakteri penyebab penyakit) dan menekan produksi senyawa-senyawa berbahaya, seperti amin, fenol, skatol, dan H2S yang diproduksi oleh bakteri patogen. Bakteri penghasil asam laktat juga memproduksi antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Oleh karena itu, yoghurt mempunyai nilai pengobatan terhadap lambung dan usus yang terluka.

6. Membantu penderita lactose intolerance. Minum susu terfermentasi seperti yoghurt sangat dianjurkan bagi orang mengalami defisiensi enzim. Bakteri asam laktat dapat memfermentasi laktosa yang ada di dalam susu menjadi glukosa dan galaktosa, serta merangsang sekresi enzim laktase di dalam saluran pencernaan.

7. Antidiare. Yoghurt dapat mencegah aktivitas dan pertumbuhan berbagai bakteri patogen penyebab gastrointeritis pemicu penyakit diare. Lactobacillus bulgaricus (salah satu bakteri yang berperan dalam pembentukan yoghurt) dapat memproduksi bulgarican, yaitu antimikroba yang efektif untuk menghambat organisme patogen. (disadur dari berbagai sumber artikel) ***