29 December 2005

Problematik Perspektif

Paling tidak enak jika bertemu dengan orang yang selalu memaksakan sudut pandangnya kepada orang lain, seolah-olah hanya dia saja yang paling tahu, paling benar, paling hebat dan segala jenis paling lainnya. Padahal belum tentu pendapat orang tersebut benar dan belum tentu juga pendapat orang lain itu salah, mengapa? Karena tiap-tiap orang memiliki perspektif masing-masing sehubungan segala hal sehingga jika terjadi suatu perbedaan pendapat berkenaan dengan suatu hal tertentu biasanya lebih banyak disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang, dan dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, karena benar atau salah sifatnya relatif tergantung dari sudut pandang mana sebuah problem dilihat oleh tiap-tiap individu orang. Ada ungkapan lama yang mungkin pernah anda dengar “lain ladang lain pula lalangnya, lain danau lain pula ikannya” yang mengartikan bahwa tidak ada manusia yang memiliki kesamaan persis, tiap-tiap orang berbeda-beda pola berpikirnya dan sudut pandangnya. Perbedaan orang dapat ditentukan oleh berbagai latar belakang, bisa latar belakang sosial, budaya, etnis, pendidikan, pengalaman, karakter, selera, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan manusia dengan memiliki ciri khas fisik tertentu seperti sidik jari, bahkan konon ceritanya anak kembar sekalipun dapat berbeda selera dan sifat. Maka janganlah heran kalau anda akan sulit sekali menemukan orang lain yang persis sama dengan sifat atau karakter anda. Saya menganjurkan anda janganlah berharap untuk mendapatkan teman yang memiliki sudut pandang yang sama atau selera yang sama dengan anda.

Berbicara mengenai perspektif atau sudut pandang saya jadi teringat dengan ungkapan tentang dua orang yang melihat gajah dari sisi yang berbeda, orang yang pertama melihat gajah tersebut dari depan sehingga dia akan mengatakan bahwa gajah belalainya panjang dan kupingnya lebar, namun orang yang kedua melihat gajah tersebut dari belakang sehingga dia hanya melihat ekor dan dua kaki belakng yang besar dari sang gajah, ke dua orang tersebut bisa berselisih paham tentang apa yang paling menonjol dari sang gajah tersebut padahal keduanya melihat binatang yang sama, namun masalahnya adalah dari sisi mana mereka melihat. Itulah yang saya sebut sebagai problematik dari perspektif.

Sebut saja contoh kecil, rata-rata orang eropa tidak suka mencium bau buah duren, tapi coba jika anda sebagai orang Indonesia ditawari duren, apalagi duren montong, wah pasti anda akan berbutan untuk menyantapnya, karena disamping buahnya harum rasanya juga enak, itu menurut perspektif anda sebagai orang Indonesia, tidak demikian halnya bagi orang barat. Nah hal inilah yang kadang-kadang dapat menjadi problem horizontal di antara makhluk sosial yaitu sesama manusia. Tak jarang masalah perbedaan perspektif dapat menimbulkan pertikaian yang serius di antara kita manusia, karena perbedaan perspektif akan mengarah kepada perbedaan pendapat dan prinsip tiap-tiap orang. Masalahnya adalah jarang sekali orang yang mau mengalah terhadap pendapat orang lain, kecenderungan manusia adalah berargumen untuk membenarkan pendapatnya sebisa-bisanya. Hanya orang yang memiliki sifat rendah hati dan suka damai sajalah yang bersedia mengalah selama problematik perspektif tersebut hanyalah masalah yang tidak terlalu bersifat prinsipil.

Memang ada beberapa perbedaan perspektif yang harus diselesaikan dengan suatu standard baku seperti perbedaan yang terkait dengan masalah benar atau salah, baik atau buruk, hal ini biasanya akan mengacu kepada hukum, undang-undang, prosedur dll. Misalnya perbuatan membunuh tidak bisa hanya dilihat dari segi perpektif, tapi juga harus dari segi hukum. Halnya juga berkenaan dengan kebenaran prinsipil seperti misalnya tentang dogma atau doktrin agama. Perbedaan perspektif berkenaan dengan dogma agama atau kepercayaan memang harus bermuara pada konsep dasar fundamental yaitu kitab suci dari masing-masing agama yang bersangkutan. Tetapi jika perbedaan perpektif hanyalah hal-hal yang menyangkut selera lebih baik menggunakan dasar kasih, rendah hati, suka damai, dan mengalah ketimbang ngotot untuk selalu memenangkan dan membenarkan pendapat pribadi, padahal pendapat orang belum tentu salah.

26 December 2005

Menghitung umur

Salah satu kebiasaan di tempat saya bekerja adalah memberikan informasi jika ada sanak saudara dari karyawan yang meninggal dunia. Selama bekerja saya sering mendapatkan berita-berita dukacita tentang kematian dari ayah, ibu atau sanak family para karyawan perusahaan. Anda bisa bayangkan jumlah karyawan PT.Kalbe Farma tbk. tempat saya bekerja seluruhnya hampir 3000 orang (saya bekerja di IT dept.) dari jumlah tersebut bisa dimaklumi kalau berita kematian dari sanak saudara para karyawan akan diinformasikan paling tidak hampir setiap minggunya di e-mail. Saya perhatikan rata-rata yang meninggal antara usia 50 sampai 60 tahun, walaupun ada beberapa peristiwa tragis yg merenggut rekan karyawan yang masih usia muda karena kecelakaan atau penyakit. Intinya kematian sepertinya menjadi suatu berita yang "biasa" dan "akrab" di lingkungan kita. Malah saya mengamati usia orang yang mati semakin muda dari tahun-ke tahun. Pernahkah anda merenung sambil menghitung umur anda? jika rata-rata orang meninggal pada usia 60 atau 70 tahun, dan usia anda saat ini katakanlah sudah 50 tahun maka sisa umur anda untuk hidup adalah tinggal 10 atau 20 tahun lagi bukan?, coba bayangkan jika usia anda saat ini sudah mencapai 69 tahun berarti usia hidup anda hanya tinggal 1 tahun lagi dengan asumsi rata-rata umur manusia saat ini. Itupun jika anda tidak mengalami kecelakaan atau penyakit........Maka timbul pertanyaan, apakah kematian adalah akhir dari segala-galanya? jika memang demikian, apa yang akan anda lakukan pada sisa hidup anda yang amat singkat itu?..... kemudian apa yang dapat anda bayangkan setelah anda mati? ..... apakah kematian bukanlah akhir dari segalanya? .... apakah ada kehidupan lain setelah kematian, dan jika ada apa yang akan anda alami dan lakukan di kehidupan lain tersebut?...dan mungkin bisa seribu satu pertanyaan lainnya akan muncul dalam benak kita kalau kita memang concern untuk mencari tahu apa arti sesungguhnya dari "mati". Orang-orang Yunani kuno yang menganut paham Epikuros pernah melontarkan suatu konsep "Nikmatilah hidup ini sepuas-puasnya sebab besok kita akan mati", mereka punya konsep bahwa tidak ada harapan lain setelah kematian, dan kematian adalah akhir dari segala-galanya. Apakah anda juga berpikiran demikian? Jika demikian maka jangka waktu anda untuk dapat menikmati hidup sangat-sangatlah singkat sekali bukan khususnya di dalam sisa hidup anda sekarang. Dan pertanyaan berikutnya jika paham Epikuros ini benar, maka sangatlah tidak sesuai diterapkan di negara Indonesia ini khususnya, karena keadaan ekonomi saat ini yang sangat parah tidak akan bisa mendukung seseorang untuk menikmati kehidupan. Dari sejak kita kecil sampai dewasa, berkeluarga memilik anak dst..dst..dst kita terus hidup dengan perjuangan untuk mencari nafkah dan kebutuhan ekonomi yang tiada hentinya sampai akhirnya kita wafat. Untunglah di sisi lain ada paham agama yang mengajarkan bahwa sebenarnya ada "harapan" bagi seseorang yang telah mati sehingga paling tidak konsep ini dapat menjadi alternatif pilihan bagi orang-orang yang sedang frustasi dalam hidup ini, beberapa konsep agama mengajarkan tentang "dunia dan akhirat", "sorga dan neraka", beberapa agama yang mengajarkan dogma reinkarnasi, ada juga agama mengajarkan kebangkitan orang mati, bahwa orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali dan akan hidup di suatu "dunia baru" atau firdaus di bumi ini. Apapun konsep yang diajaran oleh agama-agama tersebut pada intinya adalah bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, sebenarnya ada "harapan" bagi orang mati pada saatnya nanti, hanya saja akan timbul pertanyaan selanjutnya yaitu doktrin manakah yang benar dari semua ajaran agama tentang harapan bagi orang mati? nah hal ini tentu membutuhkan riset dan minat untuk meneliti. Namun disamping itu ada syarat-syarat yang dijabarkan oleh paham agama agar orang-orang mati tersebut dapat menikmati "harapan" nantinya, sebagai contoh orang baik masuk sorga sedangkan orang jahat masuk neraka. Dan beberapa ajaran agama mengatakan perbuatlah sebanyak-banyaknya amal dan kebaikan selama kita hidup agar nantinya ada harapan bagi kita di akhirat setelah kita mati. Konsep agama ini jelas bertentangan dengan konsep filsafat Epikuros tadi, kalau konsep Epikuros dipakai maka tidak ada gunanya berbuat baik selama kita hidup di dunia ini karena toh kematian adalah akhir dari segala-galanya, tidak ada harapan atau suatu "penilaian" baik dan jahat pada orang mati nantinya. Jadi sekarang konsep mana kira-kira yang mendekati pola berpikir anda sehubungan dengan kematian? hal ini akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang kita dalam menyikapi proses kematian yang sedang "mengintai" kita masing-masing. Maka saya mengundang para pembaca blog ini, mari sambil menghitung-hitung umur kita masing-masing, kita sama-sama mencari tahu ada apa sebenarnya dengan mati.

25 December 2005

Salah Kaprah

Ada orang yang bertanya, bisa nggak sih pohon natal itu diganti dari pohon cemara jadi pohon pisang, atau sinterklas diganti jadi badut atau ondel-ondel? ..... saya berpikir sejenak .....why not? karena toh ornamen-ornamen Natal itu semuanya hanyalah legenda yang tidak ada dasar kristianinya atau tidak ada dasar alkitabnya, coba saya tanya anda apa hubungannya pohon cemara dan lampu-lampu kerlap-kerlip dengan Yesus?, dan apa hubungannya Sinterklas dengan Yesus?. Perayaan natal sudah berurat berakar dan menjadi tradisi turun-temurun sejak dulu sampai sekarang walaupun sejarah asal-usul natal tidaklah bersifat kristen, dan Alkitab tidak menulis bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 desember - lihat tulisan saya sebelumnya tentang asal-usul Natal. Ketika saya bertanya pada orang yang telah terindoktrinasi tentang perayaan Natal mengapa mereka masih tetap merayakannya, mereka mengatakan bahwa walaupun latar belakang sejarah 25 desember itu sebenarnya adalah hari raya dewa saturnalia, namun hal itu tidak menjadi masalah selama motivasi dari orang-orang adalah untuk meng-agungkan Yesus kristus dan bersyukur atas kelahirannya, demikian menurut mereka. Namun saya ingin bertanya, apakah makna natal saat ini memang benar-benar untuk meng-agungkan kelahiran Yesus, tidakkah ada unsur-unsur kepentingan pribadi dan semangat materialisme yang diusung oleh perayaan ini? kembali ke pertanyaan di atas tadi apakah tokoh sinterklas bisa digantikan dengan badut? why not selama badut tersebut bisa juga memberikan hadiah-hadiah natal yang banyak bagi anak-anak...bukan? atau bisakah pohon cemara digantikan dengan pohon pisang? why not selama pohon pisang juga dapat dihiasi lampu-lampu kerlap-kerlip lengkap dengan ornamen lonceng dan bintangnya selama tujuannya untuk bergembira ria dan bersenang-senang ....bukan?. Jadi sejujurnya apakah makna dari Natal jika dilihat dari fakta tadi? apakah benar-benar untuk memuji Tuhan ataukah ada motivasi lain yang lebih kepada semangat mementingkan diri? Mal-mal, plaza-plaza, supermarket, toko-toko mainan dan semua area bisnis telah mengambil kesempatan untuk mencari keuntungan materi melalui acara Natal ini dengan segala jenis dagangannya, sementara itu orang-orang dari mulai anak-anak sampai dewasa telah menggunakan kesempatan ini untuk menghambur-hamburkan uang demi kesenangan pribadi, ada yang ke diskotik ajojing sambil minum-minum alkohol, bagi anak-anak mereka sibuk memikirkan hadiah-hadiah natal...sehingga motivasinya bukan lagi untuk mengenang Yesus. Di sisi lain ada orang-orang yang tidak mampu secara materi tidak bisa menikmati kesenangan perayaan Natal tersebut dan akhirnya kecewa, kecewanya bukan karena tidak bisa mengenang dan memuji Tuhan atas kelahiran sang juru selamat melainkan kecewa karena tidak bisa turut bergembira ria seperti orang-orang berduit yang kaya.
Timbul pertanyaan dalam benak saya, tidakkah sebenarnya makna yang paling dalam dari kehadiran Yesus ke dunia ini adalah "kematiannya" bukan kelahirannya? sebab hanya karena kematian Yesuslah umat manusia di bumi ini dapat ditebus dosa-dosanya, hanya karena darah dan tubuh Yesus yang dikorbankannyalah semua manusia dapat ditebus dari dosa dan kematian. Jadi esesnsi yang terpenting adalah kematian bukan kelahiran. Ada pepatah lama mengatakan "gajah mati meninggalkan gadingnya, orang mati meninggalkan amalnya". Makna kematian lebih dalam daripada kelahiran. Ketika seorang anak lahir orang-orang bergembira-ria menyambut kelahirannya tetapi coba bayangkan setelah si anak tersebut dewasa dan menjadi penjahat kriminal sampai matinya, tidakkah anak tersebut pada akhirnya meninggalkan "nama" yang buruk setelah dia mati? Nah Yesus Kristus telah setia sampai mati dan telah meninggalkan nama yang baik serta teladan yang sempurna kepada umatnya yaitu teladan kasih. Dan yang paling utama Yesus telah mati untuk menebus dosa umat manusia sehingga orang-orang berdosa memiliki kesempatan untuk bertobat dan "diperdamaikan" dengan Tuhan, maka tidakkah hari kematian Yesus yang seharusnya kita rayakan untuk mengenang jasanya, teladannya dan namanya?.... karena seorang bayi yang lahir tidak dapat memberikan teladan apa-apa, hanya orang yang telah dewasa dan bertahan menjadi orang yang baik dan benar seumur hidupnya sampai dia mati yang dapat meninggalkan teladan untuk dikenang dan ditiru orang lain. Jadi menurut anda manakah frase yang lebih menyentuh dan lebih dalam maknanya bagi kita "Yesus telah lahir bagi kita"? ataukah "Yesus telah mati bagi kita untuk menebus dosa-dosa kita" silahkan anda merenungkannya.

14 December 2005

Pilih jadi "orang besar" atau jadi "orang kecil" ?

Pernahkah anda mendengar ungkapan atau pidato seorang tukang becak, seorang buruh atau kuli yang di-publish dalam sebuah tayangan informasi di suatu media massa tertentu?. Dari mulai informasi iklan komersial, kata-kata mutiara, frase pepatah, sampai dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat rohani atau religius, semua itu kebanyakan bersumber dari mulut tokoh-tokoh terkemuka seperti presiden, pejabat, professor, doktor, artis, aktor, uskup, pastor, pendeta, uztad, da'i, biksu dan tokoh-tokoh besar lainnya baik tokoh sekuler maupun tokoh agama. Padahal bisa saja tukang sapu jalanan mengungkapkan kalimat yang indah dan menarik serta bermanfaat untuk kebaikan, namun persoalannya adalah media massa mana yang mau mem-publishnya ? Kebanyakan orang berlomba-lomba untuk menjadi "orang besar", orang terpandang, orang terhormat, orang hebat menurut ukuran sekuler dan semangat ini menyusup sampai ke dalam diri para tokoh agama yang seharusnya berpikiran rohani. Sangat jarang sekali yang berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bersahaja dan rendah hati karena menurut ukuran sekuler orang bersahaja dan rendah hati adalah "orang kecil". Mengapa demikian ? salah satunya disebabkan karena 'dunia' ini sedang mempropagandakan semangat ambisius, egoisme, prestise, kehormatan pribadi, prestasi dan popularitas sehingga indikator kesuksesan seseorang diukur atas dasar itu semua. Ketika seorang "tokoh besar" memberi komentar ttg suatu hal seperti misalnya "mengabdilah kepada bangsamu" atau "janganlah engkau malas bekerja", walaupun kata-kata tersebut adalah suatu kalimat yang biasa dan bisa saja diungkapkan oleh semua orang baik dari level tukang becak sampai seorang presiden, namun persoalannya adalah kebanyakan orang menilai bukanlah isi dari kalimat tersebut melainkan siapa yang mengungkapkan kalimat tersebut. Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah mengungkapkan suatu kalimat "don't ask what your country can do for you. ask what you can do for your country" dan kata-kata ini terdengung sampai sekarang, coba andaikata yang menyampaikan ungkapan tersebut hanyalah seorang tukang pos pengantar surat apakah kata-katanya akan diabadikan di media massa sampai sekarang?. Jadi kecenderungan orang di dunia ini lebih menilai siapa orang yang mengatakan sesuatu ketimbang apa yang dikatakannya. Inilah yang disebut dengan "kultus individu".

Coba perhatikan buku-buku yang pernah ditulis di bumi ini, kebanyakan buku dibagian depan atau belakang sampulnya tertera data riwayat hidup sang penulis, dari mulai gelar-gelarnya, latar belakang pendidikannya, jabatannya, kedudukan sosialnya dll, tujuannya adalah supaya setiap pembaca pertama-tama kagum terhadap siapa yang menulis buku itu, bukan terhadap apa isi dari buku tersebut. Coba anda bayangkan apabila ada seorang buruh atau kuli yang menulis artikel yang bagus dalam sebuah buku, dan dia mencantumkan data pribadinya di sampul depan atau belakang bukunya bisa diduga orang-orang akan malas membeli bukunya. Saya pernah mendengar suatu ungkapan yang menarik dan menggelitik dari seorang tukang ojek ketika saya sedang naik ojek dan ngobrol-ngobrol dengan pengendaranya. Dia mengatakan kepada saya bahwa semua kepemilikan dalam hidup ini hanyalah titipan Tuhan, ketika kita lahir telanjang bulat dan tidak membawa apa-apa dari rahim sang ibu, dan ketika kita mati kita juga tidak bisa membawa apa-apa ke kuburan, jadi baik kita miskin ataupun kaya buat dia tidak ada bedanya. Ungkapan yang keluar dari mulut tukang ojek ini buat saya sungguh menarik dan selayaknya diabadikan dalam sampul sebuah majalah bisnis, agar para businessman tidak terlalu materialistis, maruk dan gila harta kekayaan.
Jadi seharusnya siapapun orang walaupun orang kecil sekalipun mesti dihargai "suaranya" layaknya orang besar apabila dia memperlihatkan kapabilitas sebagai orang baik dan benar. Bahkan ironisnya dikalangan cendikiawan agama ukuran-ukuran sekuler pun menjadi suatu indikator terhadap umatnya. Sebagai contoh seorang Pendeta Kristen atau Pastor Katolik atau Da'i Islam akan menjadi seorang tokoh yang populer dan didengar ceramahnya apabila dia memiliki gelar-gelar akademis tertentu atau mungkin jabatan duniawi tertentu, jika tokoh religius tersebut latarbelakangnya hanyalah orang "biasa" maka umatnya akan sulit untuk respek dan hormat kepadanya, inilah fakta yang pahit yang saya amati dan perhatikan. Saya senang mengutip suatu nats atau ayat dari kitab suci tentang pengalaman seorang tokoh besar, seorang juru selamat, yang diakui baik oleh agama Islam maupun agama Kristen yaitu Yesus Kristus atau Nabi Isa. Salah satu penyebab utama mengapa orang-orang Yahudi / Israel menolak Yesus atau nabi Isa (bagi orang Islam) adalah karena latar belakang status sosialnya yang kurang terhormat dari ukuran duniawi, Yesus dilahirkan di kota kecil yang tidak terkenal Betlehem, dari keluarga miskin, ayahnya bukan pejabat tetapi hanyalah seorang tukang kayu, bahkan dia lahir di kandang sapi. Coba anda baca di Kitab Suci, Matius 13:54-55, isi dari ayat itu demikian : Setibanya di tempat asal-nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? ..dst...dst. Orang-orang Yahudi tidak mau mendengarkan apa yang Yesus katakan hanya karena latar belakang status sosialnya, walaupun mereka tidak bisa menyangkal pengajarannya yang luar biasa bagus. Saya merenungkan dalam-dalam tentang eksistensi Yesus di bumi ini, Tuhan sengaja mengutus Yesus ke dunia ini salah satunya adalah untuk memberi pelajaran bagi "orang-orang besar" yang angkuh dan sombong di dunia ini, bahwa mereka sebenarnya di mata Tuhan adalah mayat-mayat hidup tidak berarti yang sebentar lagi akan kembali ke kuburan dan tidak membawa apa-apa ke dunia orang mati maupun ke akhirat nantinya, tepat seperti yang dikatakan sang tukang ojek tadi kepada saya, jadi silahkan anda pilih mau jadi orang besar atau jadi orang kecil ?.

13 December 2005

Me and My Wife


Saya dan istri saya Linda - Juni ' 2000 Posted by Picasa

Ku menempuh sedalam lautan......
Tuk mencari arti kehidupan .......

Mendaki gunung kekecewaan........
Melelahkan......(memang lelah mencari "tulang rusuk" idaman hati)

Kau menjelma seperti khayalan.........
Kau impian dalam kenyataan .........

Perjalanan yang penuh likunya........
Kini t'lah tiba di sisimu selamanya ........

Engkau bukan yang pertama........
Tapi pasti yang terakhir........

Di cintamu kutemui arti hidupku........

Me, my son Jevaldin and my wife Linda


Me, my son Jevaldin and my wife Linda - Desember'2004Posted by Picasa
Dua tahun lebih kami menanti kehadiran sang buah hati, anak laki-laki kami yang terkasih yang kami beri nama Jevaldin Yohanan Gultom, lahir tanggal 5 November 2003 di Jakarta - Jevaldin mengandung makna "Tuhan beserta Ayah dan Ibu" dalam mengarungi rumah tangga dan membesarkan anak-anak. Nama ini bisa juga berarti satu utas tali mudah diputuskan, dua utas tali lumayan kuat, sedangkan "tiga utas tali sulit diputuskan", satu utas tali melambangkan sang suami sebagai kepala keluarga hanya mengandalkan kekuatannya sendiri dalam memimpin keluarganya, kalau dua utas tali melambangkan suami dan istri saling bekerja sama sedangkan tiga utas tali melambangkan suami & istri mengikut sertakan Tuhan dalam mengarungi bahtera rumah tangga......itulah makna kata "Jevaldin" nama anak saya.

28 November 2005

Misteri di balik "benar" dan "baik"

Kemarin sore ketika saya pulang dari kantor menuju rumah, sebelum masuk jalan Tol di daerah pulomas saya melihat dari kejauhan mobil Honda CRV berhenti dipinggir trotoar dikerubungi oleh kuli-kuli bangunan dan para buruh penggali tanah. Mereka ramai-ramai berlarian menuju mobil tersebut......saya langsung memperlambat laju mobil saya dan berhenti tidak jauh dari "pertunjukan" itu untuk mengamati, saya curiga dan berpikir jangan-jangan mobil tersebut sedang dirampok atau supirnya sedang dikeroyok ramai-ramai karena nabrak salah satu teman mereka, saya berpikir sejenak kalau pengendara mobil itu sedang dirampok saya akan siap-siap untuk menolong dengan segala cara, paling tidak menelpon Polisi dari HP saya.

Eh ternyata tak lama kemudian dari jendela mobil CRV tersebut saya melihat tangan "putih bersih" keluar sedang membagi-bagikan makanan bungkusan kepada kuli-kuli bangunan dan para buruh penggali tanah yang berkerumun di sekitar mobil CRV itu. Rupanya seorang dermawan kaya yang baik hati sedang mempertunjukkan kasih kepada sesama manusia dan bagi-bagi rejeki kepada orang-orang miskin. Saya melanjutkan perjalanan pulang sambil merenung sejenak...sayang tidak bisa lama-lama merenungnya sebab ada teman-teman saya juga di dalam mobil saya yang menyaksikan dan berkomentar tentang kejadian itu. Dalam renungan singkat saya terbersit pertanyan-pertanyaan, kenapa yah orang-orang yang berjihad dengan cara membunuh orang-orang lain dalam aksi-aksi bom bunuh diri yang belakangan ini sedang marak beritanya, tidak mencontoh dermawan yang pengasih di dalam mobil Honda CRV tadi yah...?, coba bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh para terorist untuk merakit bom-bom mobil dan bom-bom bunuh diri jenis lainnya yang dapat merobek-robek daging manusia hingga seperti serpihan daging cincang, nemisahkan kepala manusia dengan badannya dan segala bentuk kengerian lainnya. Dan aneh bin ajaib mereka yang melaukannya yakin sekali bahwa mereka akan masuk ke surga karena mereka menganggap perbuatan mereka adalah perbuatan baik. Jika kita adalah manusia yang waras dan memiliki kasih sayang alami sebagai manusia, bukan seperti binatang, tidakkah akal sehat kita akan bertanya dengan kritis kenapa yah biaya untuk itu semua nggak dibuat untuk kemanusiaan, untuk beli makanan dan dibagikan ke orang-orang miskin dan orang susah seperti yang dilakukan dermawan tadi, tidakkah tindakan dermawan penyayang seperti ini juga akan memungkinkan seseorang masuk ke surga? lalu kenapa juga tindakan keji dengan membunuh sesama manusia dijadikan pilihan untuk masuk ke surga?. Tidakkah Tuhan itu maha penyayang dan pengasih? bukankah kitab suci mengajarkan bahwa Tuhan sangat menyayangi manusia ciptaanNya? Tidakkah akan timbul pertanyaan lanjutan apakah mungkin yah Tuhan yang pengasih dan penyayang seperti itu mau menerima orang-orang pembunuh dan pembantai keji masuk ke surga tempat kediaman suciNya yang damai dan penuh kasih? Inilah yang saya sebut dalam judul tulisan saya sebagai misteri "kebaikan" dan "kebenaran", orang baik belum tentu benar, orang benar semestinya baik. Contoh....Kebenaran sejati tidaklah sekedar kebaikan, orang yang tidak beragama-pun bisa berbuat baik melebihi orang yang beragama, sebagai ilustrasi : orang ateis yang tidak percaya Tuhan pun banyak yang berbuat baik, orang Rusia atau RRC dulu yang kebanyakan penganut ateisme apakah mereka otomatis orang jahat?...tentu tidak ....mereka juga orang baik, yang banyak mengabdi kepada masalah sosial masyarakat dan membangun untuk negara dan kemanusiaan. Penjahat yang keluar-masuk penjara-pun berbuat baik paling tidak untuk keluarganya – anak dan istrinya. Namun esensinya bukan sekedar masalah berbuat baik .....tetapi melakukan kebenaran sejati, lalu apa sih kebenaran sejati itu? untuk mengetahui itu sangat diperlukan pengetahuan yang seksama dan comprehensive (agar tidak salah bertindak seperti para terorist tadi). Ada yang mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebenaran, kalau menurut saya yang tepat adalah semua agama mengajarkan kebaikan bukan kebenaran sejati. Jadi kebenaran posisinya berada di atas kebaikan. Contoh : Robin Hood ......apakah dia orang baik? ya bagi orang miskin yang mendapat hasil jarahan dia, Robin Hood adalah orang baik bagi orang miskin, namun bagi orang kaya yang dirampok oleh Robin Hood dia adalah orang yang jahat dan kejam. Nah inikan ada dua sudut pandang, lalu bagaimana menyelesaikannya - yaitu menggunakan kebenaran fundamental yaitu bahwa "mencuri itu adalah tindakan yang salah". Contoh kasus lainnya, membunuh adalah perbuatan salah, nah apakah tindakan membunuh dapat dibenarkan apabila alasannya adalah karena orang lain berbeda kelompok agama, ideologi, pola berpikir dll? tidakkah membunuh adalah tindakan keji dan tidak berprikemanusiaan apapun alasannya? jadi agama yang sejati dan benar seharusnya mengajarkan kasih dan perdamaian diantara umat manusia dan mengharamkan pembunuhan serta pembantaian jenis apapun. Singkatnya kebenaran absolute atau mutlak hanya satu saja, tetapi kebaikan itu sifatnya relative karena semua orang bisa meng-klaim tindakannya adalah baik walaupun faktanya merugikan orang lain.

Itulah sebabnya muncul anekdot atau joke seperti “Dosa apa yang dibenci Tuhan sekaligus dibenci Setan juga” jawabannya adalah : memperkosa istri Setan……..kalau kita lihat esensi dari humor tersebut bahwa kebenaran tetap kebenaran – bahwa “memperkosa” adalah tindakan yang salah menurut hukum Tuhan, tidak perduli alasan apapun. Sejarah juga mencatat begitu banyaknya pembantaian keji yang mengatasnamakan agama, seolah-olah mereka telah medapat sertifikat untuk membunuh atau "license to kill" dari Tuhan dengan legitimasi agama. Sejarah mencatat bahwa bahkan agama-agama “besar” seperti Kristen dan Islam yang memilik umat yang sangat banyak di dunia ini pernah juga menghalalkan pembantaian berdarah seperti yang dilakukan oleh kelompok agama animisme di jaman purba, sebagai contoh Perang Salib antara umat Kristen dengan Islam, masing-masing kelompok berperang atas nama agama, masing-masing prajurit baik dari Kristen maupun Islam diberkati oleh para pemimpin agamanya terlebih dahulu sebelum pergi ke medan perang untuk saling membantai satu sama lain. Orang Kristen membantai orang-orang Islam tidak perduli itu wanita hamil, anak-anak, orang tua dll, demikian juga sebaliknya orang-orang Islam membantai orang-orang Kristen dan mereka masing-masing beranggapan bahwa mereka sedang menjalankan kebaikan atas nama agama, kejadian ini pernah terjadi juga di negara kita Indonesia ini, tepatnya di Ambon dimana terjadi pertunjukkan sadis yang sangat menyedihkan sehingga menjadikan kota tersebut sebagai ladang pembantaian atau killing fields, kalau kita renungkan lagi ada apa sebenarnya yang terjadi dengan "power" agama ? sepertinya agama telah kehilangan kekuatan moral dan kasih dalam mengontrol umatnya untuk saling menyayangi dan mengasihi sesama manusia???.......... apakah ini suatu misteri ??? ...... selamat merenung dan berpikir.

23 November 2005

Tradisi & pola pikir

Teman saya pernah cerita tentang suatu tayangan di televisi dalam suatu acara “Reality Show” yang menampilkan seorang “bule” dari Amerika sana sedang di test keberaniannya “nangkring” di tempat tertentu yang diyakini banyak hantunya di situ, kemudian seraya kamera televisi dibidik ke arah sang bule itu, terlihat betapa wajah orang bule tersebut sama sekali tidak menyiratkan rasa takut sedikitpun, padahal tayangan-tayangan sebelumnya yang menampilkan orang Indonesia asli kebanyakan mereka takut apabila nangkring di situ. Kalau diperhatikan sebenarnya kondisi tersebut tidak mendatangkan situasi mistik tertentu yang berarti, so apa yang jadi aneh di sini ? apakah sang hantu takut sama orang bule itu sehingga dia tidak muncul ?, atau apakah sang bule yang nggak yakin sama sekali dengan keberadaan sang hantu ? Mengapa banyak sekali orang-orang dari barat sana yang sepertinya tidak percaya terhadap hal-hal yang bersifat tahayul apalagi kepada hantu-hantu ? sementara orang-orang di daerah Asia seperti terbelenggu dengan suatu konsep berpikir yang bersifat spiritisme ?. Coba saja anda amati film-film Barat dan film-film Indonesia khususnya yang ditayangkan di layar televisi, akhir-akhir ini acara sinetron televisi di Indonesia banyak sekali menampilkan adegan-adegan spiritisme, hantu-hantu, setan gentayangan. Ada acara “pemburu hantu”, ada acara “percaya gak percaya” dan adegan reality show lainnya, sementara acara-acara televisi dari Barat lebih banyak bernuansa science, imajinasi, action dan walaupun ada beberapa yang berbau mistik namun sangat jarang. Apabila anda pernah mengamati sekilas budaya barat dan membandingkannya dengan budaya timur, salah satu perbedaan terbesar antara masyarakat di belahan dunia bagian Barat dengan masyarakat di belahan dunia bagian Timur adalah dalam hal tradisi dan adat istiadat. Kehidupan masyarakat Timur sangat banyak dipenuhi dengan berbagai jenis tradisi upacara adat. Mulai dari ketika seseorang masih di dalam kandungan sang ibu, setelah seseorang dilahirkan ke dunia ini, pada masa penyapihan, setelah dewasa dan masuk ke jenjang perkawinan, pada waktu seseorang menderita penyakit, tertimpa musibah atau malapetaka, dan terakhir pada waktu seseorang mengalami kematian - situasi atau keadaan tersebut selalu diwarnai dengan suatu upacara adat atau tradisi tertentu. Upacara-upacara di sepanjang lingkaran hidup manusia itu di dalam antropologi dikenal dengan istilah rites de passages atau life cycle rites. Uniknya di wilayah Asia khususnya kita sangat mudah mengamati bahwa upacara-upacara adat tersebut masih tetap dijalankan sampai sekarang, seolah-olah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di jaman modern ini sama sekali tidak sanggup mendobrak paradigma masyarakat tertentu di Asia khususnya sehubungan dengan kebiasaan menjalankan upacara adat yang telah ber-abad-abad dilakoni oleh nenek-moyang mereka. Sementara itu di belahan bagian barat bumi ini upacara-upacara adat seperti itu sangat jarang diketemukan apalagi khususnya di jaman modern ini.

Pengaruh tradisi adat istiadat terhadap paradigma berpikir
Kemungkinan besar budaya yang berbeda inilah yang mempengaruhi pola berpikir masyarakat bagian Barat dan masyarakat bagian Timur. Teman saya pernah bertanya kepada saya, kenapa sih orang-orang di Mesir (Egypt) & Irak (Babilonia) yang notabene menurut sejarah merupakan bangsa dengan beradaban tertua di dunia seolah-olah ketinggalan dari segi science dan teknologi jika dibandingkan dengan orang-orang di bagian Barat ? waktu itu saya merenung lama juga mendengar pertanyaan tersebut. Dan memang benar penemuan-penemuan Arkeologi di Mesir seperti Piramida misalnya telah membuktikan bahwa peradaban Mesir telah ada jauh sebelum negara-negara di bagian barat exist, Irak juga menurut sejarah adalah pusat kebudayaan dunia yang mana beberapa sumber publikasi sejarah dan agama membuktikan bahwa peradaban manusia dimulai di wilayah Mesopotamia (daerah di antara sungai Tigris dan Eufrat) tepatnya di Irak sekarang. Dan tidak bisa dipungkiri juga bahwa bangsa-bangsa di bagian Barat telah membuktikan bahwa mereka “menyusul” negara-negara lain dalam hal science dan teknologi. Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa orang-orang Barat mempunyai pola berpikir yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang di bagian Timur, contoh kecil saja orang barat sangat tidak percaya dengan yang namanya tahayul hal-hal yang berbau spritualisme, animisme dan dinamisme sementara di Asia banyak orang yang masih percaya akan hal-hal yang berbau spiritisme, animisme dan dinamisme bahkan di jaman sekarang ini. Saya ambil contoh di India misalnya, sampai sekarang masih banyak masyarakat yang sebenarnya cukup berpendidikan namun tetap menganggap sungai Gangga yang lumayan kotor sebagai "sungai suci", di Jepang beberapa masyarakat yang terpelajar masih menyembah Matahari, dan kalau kita mengamati di negara kita sendiri Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan beragam etnis/suku, kita akan mendapati begitu banyaknya corak-corak tradisi dan upacara adat istiadat yang dianut oleh tiap-tiap suku, dan sampai saat ini adat-istiadat tersebut tetap dijalankan turun-temurun tanpa mengenal status pendidikan seseorang. Di Indonesia misalnya beberapa budaya masyarakat melarang anaknya bermain-main dengan gunting atau jarum pada sore hari di halaman rumah karna dianggap “pamali” , tabu dsb karena akan mengakibatkan malapetaka tertentu nantinya apabila dilakoni. Seorang wanita hamil misalnya tidak diperkenankan memakan telur ayam yang biji kuningnya ada dua dalam satu telur, kalau tidak salah dapat mengakibatkan anaknya lahir kembar siam, atau kalau sedang berada di hutan atau kebun dilarang kencing di sembarang pohon karena konon katanya “penunggunya” bisa marah dan bikin orang kesambet.

Tradisi adat istiadat versus Ilmu pengetahuan
Abad ke 21 ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Datangnya pemikiran baru maupun teknologi baru ke dalam suatu wilayah tertentu diyakini akan memberi nilai tambah terhadap suatu kebudayaan. Tidak dapat dielak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa saja membawa suatu disorientasi dan diskontinuitas kebudayaan bagi generasi yang sudah tidak lagi kuat memegang tradisi kebudayaan turun-temurun. Di beberapa daerah generasi muda telah mulai secara berkesinambungan “sadar” akan perlunya suatu reformasi tertentu terhadap tata cara adat istiadat yang dianggap tidak logis, tidak efisien dan berbau mistik dan tahayul. Memang jika dikaji secara mendalam tatacara tradisi yang dianut oleh kebanyakan etnis di wilayah Asia, khususnya di Indonesia sepertinya sudah tidak “praktis” lagi dengan perkembangan zaman, dimana zaman telah berubah, segala sesuatu telah mengarah kepada efisiensi dan efektifitas. Satu contoh kecil saja, misalnya upacara pernihkahan dalam adat istiadat tertentu yang memakan waktu begitu lama dan biaya yang begitu besar dengan segala bentuk tatacara upacaranya, sementara ada pilihan lainnya yang lebih simple yaitu resepsi pernikahan sederhana yang hanya memakan waktu sekitar dua jam, tidakkah orang yang berpikiran praktis, ekonomis, efisien dan efektif akan memilih dengan bijak.

Tradisi adat istiadat versus Agama
Beberapa sejarawan mengatakan bahwa di jaman dahulu kala tradisi adat istiadat adalah merupakan ”Agama” dari suatu suku tertentu yang dikenal dengan agama “Animisme dan Dinamisme” Animisme = kepercayaan terhadap kekuatan sipiritisme atau supranatural atau alam roh, sedangkan Dinamisme = kepercayaan terhadap kekuatan yang terdapat dalam benda-benda tertentu seperti pohon, batu, keris, patung dan lain-lain. Sebelum agama-agama dunia seperti Islam & Kristen masuk ke dalam suatu suku tertentu mereka telah memiliki “agama” warisan dari leluhur yaitu tradisi adat istiadat. Agama dunia dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yang pertama agama “monoteisme” dan yang kedua “polyteisme”. Monoteisme adalah agama yang mengenal satu Tuhan (seperti agama Islam, Kristen, Judaisme) sedangkan Polyteisme adalah agama yang mengenal banyak Tuhan (seperti Hindu, Budha, Konghucu, Shinto dll). Pada dasarnya semua agama yang menganut paham monoteis percaya bahwa memang ada dua kekuatan supratural di alam surgawi sana, ada kekuatan baik yang di sebut Tuhan atau Allah dan ada kekuatan jahat yang disebut sebagai Setan atau Iblis atau Hantu atau Jin, demikian tertulis di dalam kitab suci agama-agama monoteis. Ketika para missionaris Kristen dan para musafir Islam datang menjelajah ke Asia khususnya ke Indonesia dan membawa ajaran baru agama mereka. Sejak saat itulah terjadi apa yang dinamakan dengan “sinkretisme” peleburan Agama dengan Tradisi budaya. Bagi agama-agama polyteisme sinkretisme tersebut adalah suatu hal yang mudah diterima karena konsep mengenal banyak allah & dewa-dewi hampir sama dengan konsep kepercayaan adat istiadat yang bersifat animisme dimana kepercayaan terhadap dewa-dewi juga ada, namun bagi agama-agama monoteisme hal ini tidaklah mudah sebab konsep keberadaan Tuhan adalah Esa, Tunggal dan Exclusive, sementara apabila ada konsep ke-illahian yang lain selain Tuhan yang esa tersebut maka bisa dipastikan berasal dari kekuatan supranatural yang jahat yaitu Setan si Iblis. Namun demikian seraya sejarah waktu berjalan peleburan konsep sinkretisme belakangan diterima juga oleh paham agama monoteisme tersebut. Pada akhirnya terbentuklah “agama paduan” yang merupakan perkawinan antara tradisi budaya dengan agama. Itulah sebabnya kita dapat menemukan beberapa kemiripan dogma atau doktrin yang ada di dalam Agama tertentu dengan kepercayaan di dalam tradisi adat istiadat pada etnis tertentu. Oleh karena itulah beberapa kritikus agama mengkritik dogma-dogma tertentu yang dianggap mereka telah di-intervensi oleh beberapa tradisi atau upacara adat tertentu yang bersifat paganism atau animisme. Memang ada banyak norma-norma moral serta filosophy yang dihembuskan oleh adat istiadat tertentu dari etnis tertentu yang bermanfaat dalam hubungan horizontal sesama manusia, akan tetapi yang dikritisi oleh para pemikir fundamental Agama adalah upacara-upacara adat yang bersifat animisme dan spiritisme yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan padahal sebenarnya bertentangan dengan kitab suci suatu agama. Jadi kalau kita kaji ulang kemungkinan besar itu pula yang menyebabkan beberapa orang "pemikir fundamental" di Eropa dan Amerika yang tidak hanya menolak konsep tahayul tetapi juga telah kehilangan kepercayaan terhadap agama itu sendiri karena dianggap sudah tidak murni dan tidak lagi rasional sebab telah mencampuradukkan tradisi dengan agama yang seharusnya murni. Nah timbul pertanyaan .....lalu apakah yang sebenarnya menyebabkan terjadinya degradasi pola pemikiran seperti ini dikalangan masyarakat di negara tertentu ? dan kebenaran seperti apakah yang seharusnya dicari oleh orang-orang kritis dan rasional tersebut ? ......nantikan artikel saya selanjutnya.

20 November 2005

Sejarah perayaan Natal

Setiap tanggal 25 Desember umat Kristen merayakan Natal, yang sudah dipercaya sejak dulu sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Sangat wajar bila ada pertanyaan-pertanyaan seputar latar belakang sejarah asal-usul penetapan hari itu sebagai hari lahir Yesus Kristus. Ternyata memang bukan hanya kalangan Kristen saja yang mencoba mencari tahu asal-usul perayaan ini, tetapi mereka yang tidak mengimani Kristus pun ingin tahu. Keingintahuan itu muncul berlandaskan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang ingin tahu karena ingin menggali maknanya sekaligus memperdalam imannya pada Yesus Kristus. Ada juga yang sekedar ingin tahu tanpa mau apa-apa setelah tahu. ada juga yang ingin mendapatkan informasi yang benar selengkap-lengkapnya sehingga tidak tersesat mengikuti kebiasaan yang tidak ada dasar Kristianinya sama sekali atau bahkan merupakan warisan dari kebiasaan paganism/kafir yang bertentangan dengan firman Tuhan. Tulisan singkat ini disajikan untuk siapa saja yang memang ingin tahu mengenai kebenaran asal-usul perayaan Natal. Hal ini sangat relevan dan penting untuk memahami tradisi Gereja yang merupakan ekspresi iman Gereja akan Yesus Kristus yang terus berkembang. Setidaknya dengan demikian kita tidak buta, masa bodoh, atau malah menyepelekan sejarah dari tradisi Gereja kita sendiri.

SEJARAH KEKRISTENAN ABAD PERTAMA MASEHI
Jemaat Kristen Perdana atau kristen yang mula-mula ternyata sebenarnya tidak pernah memberikan perhatian pada tanggal kelahiran Yesus. Seluruh perhatian umat pada waktu itu terarah pada Kebangkitan Kristus (bangkitnya Yesus 3 hari setelah mati disalibkan) hal ini dicatat di Alkitab injil secara majemuk oleh rasul-rasul Yesus. Lagipula pada waktu itu, bahkan perayaan hari ulang tahun saja pada umumnya dipandang sebagai kebiasaan kafir (istilah kafir digunakan orang Kristen pada waktu itu memaksudkan orang-orang non-Yahudi yang menyembah berhala dan yang tidak bersunat di bawah hukum Taurat Musa). Seorang tokoh Gereja abad pertama - Origenes (thn. 185-254 Masehi), secara tegas menolak tradisi ulang tahun kelahiran di kalangan umat Kristen. Yang mereka ketahui di jaman mereka orang-orang yang merayakan hari kelahiran atau ulang tahun adalah Raja Herodes – yang memotong kepala Yohanes pembabtis pada perayaan ulang tahunnya, dan sejarah sebelumnya raja Firaun Mesir yang juga membunuh tukang roti istana juga pada acara perayaan ulang tahun sang raja. Oleh karena itu kebiasaan merayakan hari ulang tahun tidak dijalani oleh orang-orang Yahudi pada jaman Yesus, dan Alkitab sendiri tidak pernah mencatat Yesus Kristus merayakan hari ulang tahunnya, atau murid-muridnya para rasul merayakan hari ulang tahun mereka atau ulang tahun Yesus. Seorang tokoh lain bernama Clemens dari Alexandria ( thn. 200 Masehi ) waktu itu malahan mengejek setiap orang kristen yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus.

BENARKAH YESUS LAHIR PADA TANGGAL 25 DESEMBER ?
Berdasarkan catatan sejarah pada waktu itu tidak ada yang tahu persis kapan sebenarnya Yesus di lahirkan oleh Perawan Maria, dan Alkitab-pun tidak mencatat tanggal kelahiran Yesus. Ini harus diakui, karena waktu itu memang tidak ada perhatian mengenai hal seperti itu. Lalu jika demikian halnya kapan sebenarnya Yesus dilahirkan dan apakah mereka perlu untuk memperingatinya, bagi Gereja Perdana hal itu tidak dipandang sebagai hal yang penting. Sekali lagi, kebiasaan merayakan hari ulang tahun waktu itu dipandang sebagai kebiasaan kafir. Jadi ketika itu mereka hanya merayakan hari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang adalah dasar iman Gereja. Iman akan Yesus yang bangkit itulah yang mempersatukan umat untuk bersehati sejiwa merayakan misteri-misteri iman. Kitab Suci juga tidak banyak mengungkap peristiwa seputar kelahiran Yesus. Memang Kitab Suci bukan buku sejarah, tetapi buku iman. Kitab Suci ditulis oleh para pengarang suci, dan tulisan-tulisan mereka setelah melalui proses kanonisasi yang panjang, dikukuhkan oleh otoritas Gereja. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang mengenal dan mengimani Yesus Kristus sebagaimana diimani dan diwartakan oleh Gereja. Meskipun Gereja Perdana tidak ambil pusing dengan hari kelahiran Yesus, Gereja generasi berikutnya, toh tidak mungkin mengelak dari persoalan kapan hari kelahiran Yesus. Gereja akhirnya bergumul dengan soal itu dan berusaha mencari pemecahannya. Waktu terus berlalu dan Gereja semakin berkembang dalam banyak bidang. Kita tahu bahwa Gereja mengalami penganiayaan hebat dalam abad-abad pertama kekristenan. Salah satu alasan kuat mengapa mereka dianiaya karena ada perbedaan keyakinan dengan mayoritas masyarakat Romawi yang mana kerajaan Roma adalah kuasa dunia dikala itu. Kalau masyarakat Romawi pada umumnya beribadah kepada dewa-dewi dan berhala-berhala sementara itu orang Kristen menyembah Allah yang mereka kenal dan imani dalam Yesus Kristus.

KOLABORASI KEBUDAYAAN ANIMISME KE DALAM KEKRISTENAN (Sinkritisme)
Kebudayaan kafir yang berkembang pada waktu itu beraneka ragam, dan Pemerintahan Negara Romawi memiliki kepentingan dan andil besar di dalamnya. Salah satu peran negara dalam mendukung budaya penyembahan dewa-dewi itu terjadi ketika Kaisar Aurelius (th. 212M-275M) mengumumkan pada tahun 274M {berarti pada zaman Paus Felix I yang bertahta tahun 269M-274M, waktu itu Gereja belum diakui secara resmi oleh negara} bahwa 25 Desember adalah hari penghormatan khusus untuk Dewa Matahari. Pada tanggal tersebut orang-orang Roma secara khusus memberi penghormatan kepada dewa Saturnus, dewa pertanian dan datangnya matahari karena itu hari raya penghormatan kepada dewa matahari disebut hari saturnalia. Mereka pada hari tersebut memuja dewa Mithra untuk merayakan kelahiran matahari yang kasat mata, ilahi (Dies Natalis Solis Invicti). Jadi sejak 25 Desember 274M itulah mulai ada perayaan Natal (dari kata Dies Natalis) atau Kelahiran Matahari oleh bangsa Romawi karena diakhir musim salju tanggal itulah sang mentari mulai kembali menampakkan sinarnya dengan kuat. Adanya hari raya resmi itu tentu saja menghadapkan Gereja pada situasi yang tidak mudah. Perlu sikap yang jelas dari para pemimpin Gereja waktu itu agar dapat menjadi pegangan bagi umat. Pada umumnya umat Kristen yang sejati dan benar yang tinggal di Roma menolak mengikuti perayaan itu. Meski demikian, masih banyak umat yang bersifat mendua dalam hal ini karena situasi yang mereka hadapi, beberapa tidak berani mengambil sikap tegas. Setelah Konstantinus berkuasa di Roma, ada keleluasaan gerak bagi umat Kristen untuk melaksanakan keyakinan imannya dalam ibadat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan agama Kristen dikukuhkan menjadi agama resmi negara tahun 313 Masehi (edict Milan) oleh Konstantinus Agung yang masuk Kristen tahun 312 Masehi (Konstantinus sendiri baru mau dibaptis menjelang ajalnya tahun 337 Maseh).

TRANSFORMASI TRADISI ROMAWI MENJADI PERAYAAN NATAL
Perayaan Natal untuk menghormati kelahiran matahari yang sudah begitu merakyat sulit untuk dihapuskan begitu saja, meskipun banyak orang Romawi ikut menjadi Kristen setelah Konstantinus Agung dibaptis. Perayaan Natal akhirnya tetap dilakukan, tetapi oleh Gereja pusat perhatian dialihkan pada Perayaan Kelahiran Yesus Kristus yang dianggap oleh orang Roma yang masuk kristen sebagai Sang Matahari Sejati. Yesus dianggap adalah Matahari Sejati mereka meng-combine tulisan Alkitab yang mencatat bahwa Yesus membawa terang bagi umat manusia yang berada dalam kegelapan, dengan konsep sumber terang adalah Matahari, karena itu antara Yesus dan Matahari seolah-olah ada kemiripan. “Counter culture” terhadap kultus kafir itu secara sadar dilakukan oleh Gereja. Gereja sadar bahwa banyak orang Romawi menjadi Kristen karena ikut-ikutan Kaisarnya (konstantin yang tadinya penyembah berhala belakangan masuk kristen dan dibabtis). Mereka ini meskipun menjadi Kristen tetapi tidak mau meninggalkan budaya kafirnya. Jadi inkulturasi ini adalah usaha yang dilakukan oleh para pemimpin Gereja pada waktu itu demi pertumbuhan iman umat. Dengan demikian maka perlahan-lahan sepanjang sejarah selanjutnya Perayaan Natal umat Kristen tidak lagi dihubungkan dengan kultus kafir itu. Pada tahun 336 Masehi, secara resmi ditetapkan oleh Gereja bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari untuk memperingati kelahiran Yesus. Kaisar Konstantinus-lah yang kemudian memperkenalkannya secara luas sebagai ganti tanggal 5-6 Januari.

EPIFANI
Di dunia Kristen belahan Timur, jauh sebelum peristiwa di atas terjadi sudah ada Gereja yang merayakan Pesta Penampakan Tuhan (Epifani) setiap tanggal 4 Januari. Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifani ialah munculnya Yesus - sebagai Anak Allah - pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan (Eropa) bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epifani, tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini Gereja - pada Permulaan abad ke-IV merayakan pesta Epifani pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran & pesta baptisan Yesus. Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab & puji-pujian (nyanyian). Ephraim dari Syria menganggap Epifani sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan: "Malam perayaan Epifani ialah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, dimana seluruh dunia sedang berjaga-jaga?" Pada malam perayaan Epifani semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di gua Betlehem di mana Yesus (menurut kepercayaan orang) dilahirkan. Perayaan Epifani sendiri yang jatuh pada tanggal 5-6 Januari itu tidak muncul begitu saja, tetapi ada kaitan dengan kebiasaan yang berkembang di dunia timur waktu itu. Ada catatan para ahli sejarah bahwa sejak tahun 1996 SM bangsa Mesir sudah mengenal kalender matahari. Menurut kalender itu puncak ketinggian matahari jatuh pada tanggal 6 Januari. Tetapi pada zaman Alexandria tahun 331 SM ada koreksi terhadap kalender itu karena ditemukan adanya ketidaktelitian penghitungan. Puncak ketinggian matahari bukan jatuh pada tanggal 6 Januari melainkan tanggal 25 Desember. Rupanya baik festival Natal 25 Desember maupun Epifani keduanya berkaitan erat dengan titik balik matahari. Awalnya keduanya bukan budaya Kristiani, tetapi diambil alih dan diberi makna baru yang sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Konsili Nicea yang berlangsung tahun 325M dengan kuat menggarisbawahi, bahwa Yesus sejak lahir-Nya adalah Anak Allah. Hal ini mendorong Gereja untuk merayakan hari ulang tahun ( dies natalis) Yesus sebagai suatu pesta tersendiri, lepas dari pesta Baptisan-Nya. Untuk itu Gereja membaptis pesta kafir dewa matahari menjadi Pesta Kristen yakni Pesta Natal Yesus Kristus Sang Terang Dunia. Pesta kafir dewa matahari lama sekali masih berpengaruh dalam praktik umat yang belum menyadari sepenuhnya iman Kristen. Bahwa pengaruh ini masih ada hingga abad V bias kita simak dari tindakan Paus Leo (th. 440-461) yang harus menasihatkan orang-orang Kristen pada waktu itu supaya mereka jangan merayakan pesta dewa matahari, tetapi Natal Yesus Kristus.

DARI EPIFANI 6 JANUARI KE NATAL 25 DESEMBER
Rupanya tradisi Natal (=Epifani) sudah ada terlebih dahulu di Gereja Timur yang kemudian mengilhami Gereja Barat (Roma). Gereja Barat semula juga merayakan Epifani tanggal 5-6 Januari, tetapi kemudian dipindah menjadi 25 Desember. Pergeseran ini sudah terjadi sebelum dikukuhkan secara resmi pada tahun 336M di Roma. Setelah penetapan ini, Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember terus menyebar ke seluruh dunia kekristenan. Tercatat bahwa di Antiokhia Perayaan Natal sudah dilakukan pada tahun 375M, dan di Konstantinopel tahun 380. Tahun 430M Perayaan Natal juga mulai dirayakan di Alexandria (Mesir) dan berlanjut ke tempat-tempat lain dimana kekristenan sudah menanamkan akarnya. Masa Natal sebagaimana kita kenal sekarang merentang dari tanggal 25 Desember sampai tanggal 6 Januari. Sejak Konsili Vatikan II Epifani dapat dirayakan pada hari minggu yang jatuh sebelum tanggal 6 Januari.

NATAL YANG SEMAKIN MERIAH DAN KEHILANGAN MAKNANYA
Sekarang Natal sudah bukan lagi dirayakan hanya oleh orang beriman Kristiani. Natal telah mendunia, dikenal seantero jagad. Kesan yang kuat bila orang bicara mengenai Natal adalah lagu-lagu yang merdu, liturgy yang indah, pesta-pesta meriah, tokoh legendaris Sinterklas dengan kereta rusanya sambil bagi-bagi hadiah, Pieth Hitam, lilin-lilin, pohon natal, salju berupa kapas, kandang atau gua Natal dll. Apakah sejak awal dirayakan semua kesan Natal yang sekarang kita gambarkan itu sudah ada? Tahun 336 adalah awal tahun liturgi yang terus berkembang sampai seperti yang sekarang kita kenal. Ada sekian banyak generasi dari berbagai pelosok dunia yang memberikan sumbangan ide terhadap aksesoris perayaan Natal dari berbagai sumber dan atas dasar perenungan mereka mengenai Natal. Misalnya saja, Palungan Natal baru dimulai dan diperkenalkan oleh St. Fransiskus Asisi dan para pengikutnya tahun 1223M.

ASAL USUL POHON NATAL & SINTERKLAS
Jika anda mencari kata Pohon Natal atau Sinterklas di dalam Alkitab maka anda tidak akan menemukannya, Pohon Natal diambil atau diadopsi dari kebudayaan Jerman untuk kepentingan iman Kristen. Menurut tradisi, St. Bonifasius (th. 680) adalah rasul bangsa Jerman. Ia mengganti pohon Eik yang dikorbankan untuk ‘Odin” dengan pohon Den yang dipersembahkan untuk menghormati kanak-kanak Yesus. Pohon terang itu menjadi lambang hidup abadi. Pohon terang menjadi lambang kehadiran Yesus sendiri yang menawarkan hidup abadi kepada bangsa-bangsa. Ada satu tradisi yang berasal dari Inggris yakni berkunjung dari rumah ke rumah dengan lilin bernyala sambil menyanyikan lagu-lagu Natal (Christmas Carol). Kartu Natal baru mulai tahun 1846M. Tokoh legenda SinterKlas (berasal dari nama Santo Nikolas, Uskup Myra abad ke-IV) adalah seorang tokoh yang membawa kegembiraan baru, popular di New York abad 19. Dari pembahasan ini semua kita tahu bahwa kesan Natal yang sekarang kita miliki tidak serta merta ada sejak zaman Yesus, tetapi itu merupakan kristalisasi dari suatu proses tradisi yang panjang dari ber abad-abad yang lalu. Kini Natal tidak lagi sekedar perayaan iman dalam liturgi Gereja, tetapi telah menjadi sebuah pesta dunia. Natal seringkali menjadi kesempatan yang baik bagi keluarga-keluarga untuk berkumpul, berbagi hadiah, dan makan bersama. Di kota-kota besar Natal disambut dengan hiasan-hiasan yang menakjubkan, persiapan-persiapan pesta besar, tak jarang juga discount-discount untuk produk-produk tertentu digelar demi tujuan tertentu pula. Natal juga telah menjadi kesempatan untuk mengembangkan jaringan bisnis yang kadang-kadang “bisnis kotor”. Orang bernegosiasi sambil merayakan Natal, merayakannya sambil minum minuman keras. Natal dalam arti tertentu telah menjadi budaya kapitalis. Natal gemerlap yang dirayakan di gedung-gedung megah dengan hiasan yang wah, semakin menjauhkan Natal Kelahiran Yesus Kristus dari konsep kesederhanaan. Padahal ketika Yesus lahir ke dunia, Ia lahir di kandang hewan. Yesus juga lahir bukan dari keluarga kaya, ayahnya hanyalah seorang tukang kayu yang miskin, ibunya Maria hanya bisa mempersembahkan kepada Tuhan seekor atau sepasang burung tekukur & merpati setelah Yesus lahir - Lukas 2:24, (kebiasaan orang Yahudi dibawah hukum Taurat adalah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah di bait, apabila orang itu kaya maka persembahannya berupa domba jantan yang tidak bercela, namun kalau seseorang berasal dari keluarga miskin persembahannya berupa sepasang burung tekukur atau burung merpati) - Imamat 5:7 & Imamat 5:11. Yesus juga lahir di kota yang kecil Betlehem, bukan kota besar, Yesus lahir dalam kondisi kesederhanaan, dalam ketulusan, dalam kemurnian hati yang tercermin dalam sikap dan kata itulah sebenarnya Ia menyapa kita. Semoga hal ini tidak dilupakan.
Sumber tulisan disadur dari :
1. A New Dictionary of Liturgy and Worship, J.G. Davies, SCM Press, London, 1989.·
2. The Modern Catholic Encyclopedia, Gill & Macmillan Ltd. Minnesotta, 1994.·
3. Katekisasi Perjanjian Baru I, Dr. J.L. Ch. Abineno, BPK Gunung Mulia - Jakarta, 1984.·
4. Sejarah Gereja, Dr. H. Berkhof & Dr. H. Erklaar, BPK Gunung Mulia, 1991.·
5. The New Columbia Encyclopedia, Columbia University Press, 1975.

10 November 2005

Mengenal Yoghurt, sejarahnya dan khasiatnya

YOGHURT pada awal mula sebenarnya merupakan minuman tradisional dari daerah Balkan dan Timur Tengah, tetapi saat ini minuman yoghurt sudah dikenal oleh banyak bangsa dan berkembang ke seluruh dunia. Di Indonesia pun belakangan ini yoghurt menjadi semakin populer —apalagi dengan ditambahkannya campuran berbagai cita rasa—. Ditinjau dari segi sejarahnya yoghurt merupakan salah satu produk hasil fermentasi susu yang cukup tua dan cukup populer di seluruh dunia. Bentuknya mirip bubur atau es krim tetapi dengan rasa agak asam. Kata ”yoghurt” berasal dari bahasa Turki, yaitu ”jugurt” yang berarti susu asam. Itulah sebabnya sampai saat ini yoghurt sering juga disebut sebagai ”susu asam”. Sejak zaman dahulu yoghurt telah dikenal luas di seluruh dunia, terbukti dari adanya berbagai nama yang digunakan untuk menyebut produk ini. Beberapa di antara nama-nama tersebut adalah sostej (Hongaria), kiselaleka (Balkan), zabady (Mesir dan Sudan), mast (Iran), roba (Irak), mazun (Armenia), tiaourti (Yunani), cieddu (Italia), mezzoradu (Sisilia), tarho (Hongaria), fiili (Finlandia), oxygala (Rumania), dan labneh (Libanon). Di negara-negara tersebut yoghurt dibuat dari susu sapi, susu kambing, susu kerbau, dan susu kuda. Yoghurt sejak dulu digemari di Eropa dan Amerika. Masyarakat Belanda merupakan konsumen yoghurt tertinggi di dunia, kemudian disusul oleh Swiss, Prancis, Jepang dan negara-negara lainnya. Sebagian konsumen menyukai yoghurt dengan kandungan bakteri yang masih hidup, dan sebagian lagi menyukai yoghurt yang sudah dipasteurisasi (bakterinya telah dimatikan). Masyarakat Eropa, Timur Tengah, dan Jepang lebih menyukai yoghurt dengan kandungan mikroba hidup. Mereka percaya, mikroba pada yoghurt dapat membantu proses pencernaan di dalam tubuh. Selain dibuat dari susu segar, yoghurt juga dapat dibuat dari susu skim (susu tanpa lemak) yang dilarutkan dalam air dengan perbandingan tertentu bergantung pada kekentalan produk yang diinginkan. Selain dari susu hewani, belakangan ini yoghurt juga dapat dibuat dari campuran susu skim dengan susu nabati (susu kacang-kacangan). Sebagai contoh, yoghurt dapat dibuat dari kacang kedelai yang sangat populer dengan sebutan ”soyghurt”. Yoghurt juga dapat dibuat dari santan kelapa, yaitu yang disebut dengan ”miyoghurt”. Prinsip pembuatan yoghurt adalah fermentasi susu dengan menggunakan bakteri lactobacillus bulgaricus dan streptococcus thermophilus. Kedua macam bakteri tersebut akan menguraikan laktosa (gula susu) menjadi asam laktat dan berbagai komponen aroma dan citarasa. Lactobacillus bulgaricus lebih berperan pada pembentukan aroma, sedangkan streptococcus thermophilus lebih berperan pada pembentukan cita rasa yoghurt. Yoghurt yang baik mempunyai total asam laktat sekira 0,85-0,95%. Sementara itu, derajat keasaman (pH) yang sebaiknya dicapai oleh yoghurt adalah sekira 4,5.

Macam-macam yoghurt
Saat ini di pasaran dijumpai berbagai jenis yoghurt, antara lain, (1) Yoghurt pasteurisasi, yaitu yoghurt yang setelah masa inkubasi selesai dipasteurisasi untuk mematikan bakteri dan memperpanjang umur simpannya. (2) Yoghurt beku, yaitu yoghurt yang disimpan pada suhu beku. (3) Dietetic yoghurt, yaitu yoghurt rendah kalori, rendah laktosa, atau yang ditambah vitamin dan protein. (4) Yoghurt konsentrat, yaitu yoghurt dengan total padatan sekira 24%. Berdasarkan kadar lemaknya, yoghurt dapat dibedakan atas yoghurt berlemak penuh (kadar lemak lebih dari 3%), yoghurt setengah berlemak (kadar lemak 0,5-3,0%), dan yoghurt berlemak rendah (lemak kurang dari 0,5%). Perbedaan kadar lemak tersebut berdasarkan jenis susu dan campuran bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Sejumlah ahli menganggap yoghurt sebagai ”pabrik” bakteri yang dapat memproduksi aneka vitamin yang sangat diperlukan tubuh, yaitu asam folat, asam nikotinat, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, dan vitamin B12. Kandungan mineral pada yoghurt, khususnya kalsium, fosfor, dan kalium, juga meningkat. Sebaliknya, kandungan lemak yoghurt menjadi lebih rendah dibandingkan susu segarnya sehingga cocok diminum oleh mereka yang sedang berdiet rendah kalori.

Khasiat yoghurt
Pada awal abad ke-20, Metchnikoff mengungkapkan, konsumsi yoghurt yang teratur dapat memperpanjang usia. Pernyataan tersebut mengakibatkan peningkatan produksi yoghurt secara komersial di beberapa negara. Menurut Iwasaki (1994) yoghurt dapat diketagorikan sebagai salah satu makanan multifungsional (multifunctional food), yaitu makanan yang berfungsi untuk mengatasi berbagai penyakit sehingga dapat mendongkrak kesehatan dan kebugaran tubuh. Beberapa peneliti telah menunjukkan, mengonsumsi yoghurt dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Yoghurt mengandung suatu faktor yang dapat menghambat sintesis kolesterol sehingga kolesterol menurun dan mencegah terjadinya penyumbatan pembuluh darah aterosklerosis penyebab penyakit jantung koroner. Menurut Yaguchi, Goto, dan Okonogi (1992), manfaat minum yoghurt dan susu terfermentasi lainnya adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan pertumbuhan. Hasil penelitian dengan tikus percobaan menunjukkan bakteri yang hidup pada yoghurt terutama Streptococcus thermophilus, memiliki kemampuan untuk meningkatkan pertambahan berat badan tikus, yaitu dengan cara meningkatkan daya cerna dan absorpsi pada saluran pencernaannya.

2. Mengatur saluran pencernaan. Asam laktat dari yoghurt dapat merangsang gerakan peristaltik hampir pada semua bagian dalam saluran pencernaan. Rangsangan gerakan peristaltik tersebut dapat memelihara kesehatan tubuh melalui peningkatan proses pencernaan, penyerapan, pembuangan feses, dan pembuangan bakteri patogen dari saluran pencernaan.

3. Memperbaiki gerakan perut. Suatu penelitian yang dilakukan pada sejumlah lansia menunjukkan, pemberian kultur streptococcus thermophilus dapat meningkatkan gerakan perut dari 4,8 kali dalam 10 hari menjadi 5,7 kali. Gerakan perut ini diperlukan untuk memperlancar proses pengeluaran feses. Pada saat yoghurt melalui saluran pencernaan terjadi peningkatan jumlah bakteri bifidobacterium yang ikut berperan dalam menormalkan gerakan perut.

4. Antikanker. Penelitian pada tikus menunjukkan, penggandaan sel-sel kanker pada tikus yang diberi makan yoghurt lebih terhambat daripada tikus percobaan tanpa yoghurt. Bakteri-bakteri yang berperan dalam fermentasi susu dapat mengubah zat-zat prekarsinogenik yang ada dalam saluran pencernaan sehingga dapat menghambat terjadinya kanker.

5. Menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Asam laktat dapat mengurangi atau membunuh bakteri patogen (bakteri penyebab penyakit) dan menekan produksi senyawa-senyawa berbahaya, seperti amin, fenol, skatol, dan H2S yang diproduksi oleh bakteri patogen. Bakteri penghasil asam laktat juga memproduksi antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Oleh karena itu, yoghurt mempunyai nilai pengobatan terhadap lambung dan usus yang terluka.

6. Membantu penderita lactose intolerance. Minum susu terfermentasi seperti yoghurt sangat dianjurkan bagi orang mengalami defisiensi enzim. Bakteri asam laktat dapat memfermentasi laktosa yang ada di dalam susu menjadi glukosa dan galaktosa, serta merangsang sekresi enzim laktase di dalam saluran pencernaan.

7. Antidiare. Yoghurt dapat mencegah aktivitas dan pertumbuhan berbagai bakteri patogen penyebab gastrointeritis pemicu penyakit diare. Lactobacillus bulgaricus (salah satu bakteri yang berperan dalam pembentukan yoghurt) dapat memproduksi bulgarican, yaitu antimikroba yang efektif untuk menghambat organisme patogen. (disadur dari berbagai sumber artikel) ***